Aksi Perampokan Bukan Jihad

Perampokan mengatasnamakan jihad (fa’i) kembali terjadi.  Kali ini terjadi di toko emas di Tambora, Jakarta Barat, pertengahan Maret 2013. Polisi menduga perampokan itu terkait kegiatan untuk pendanaan aksi terorisme.

Benarkah ada istilah “fa’i” di dalam fiqh jihad, yaitu pengumpulan dana perjuangan dengan jalan merampok? Tulisan ini coba mengeja pengusungan istilah fa’i sekaligus meluruskan pengertian jihad yang suci, agar tidak terdistorsi oleh ulah segelintir pelaku jihad yang salah kaprah di dalam memahami jihad.

Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyah, ulama kharismatik di abad ke-7 Hijrah, mengatakan bahwa Fai adalah bagian dari harta yang ditinggal musuh (orang-orang kafir) karena efek dari pertempuran sehingga musuh terpaksa mengungsi dan meninggalkan harta bendanya karena khawatir diserang. (Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, bab Al-Harb, dalam pembahasan tentang harta rampasan perang atau Fai dan Ghanimah)

Untuk mendapatkan Fai sebagaimana teks Al-Qur’an, “Tidak memerlukan kuda atau unta untuk mendapatkannya,” (Surah Al-Hasyr (59): 6) menunjukkan tidak ada pengerahan kekuatan dan senjata, tidak ada ancaman, apalagi teror dan pembunuhan. Kuda dan unta pada masa itu adalah alat atau kenderaan perang yang paling canggih.

Pembuktian yang paling aktual bahwa Fai terjadi di medan perang adalah ayat-ayat Al-Qur’an tentang Fai semuanya turun di Madinah, bukan di Mekah. Artinya, selama lebih kurang 13 tahun Rasulullah saw melakukan dakwah di Mekah (dibawah kekuasaan kafir Quraisy), tidak terdapat satu pun riwayat tentang orang-orang kafir yang terluka, darah mereka yang tertumpah, apalagi nyawa mereka yang melayang di tangan kaum muslimin.

Selama lebih satu dakade itu, perjuangan umat Islam masih belum mengenal istilah “Fai” dan “Ghanimah”. Umat Islam dibawah bimbingan Rasulullah saw lebih mengutamakan kesabaran walaupun menderita dibawah tekanan kekuasaan zalim kaum musyrikin. Rasulullah saw bahkan mengadakan Bai’at (janji setia) kepada para sahabat agar tidak mencuri, berzina dan membunuh (Surah Al-Mumtahanah (60): 12) yang menunjukkan bahwa Rasulullah saw sangat anti kekerasan dan membenci pelanggaran hak asasi.

Untuk menegakkan syari’at Islam di Mekah pada waktu itu, Rasulullah saw terlebih dahulu melakukan dakwah, menegakkan hujjah dan bahkan mujadalah (perdebatan intelektual). Terkenal misalnya dialog dan perdebatan Nabi saw dengan pendeta-pendeta Yahudi dan Nasrani tentang Allah, roh, hari kiamat, hidup sesudah mati, dan lain-lain. Rasulullah saw bersikap transparan dalam dakwah-dakwahnya dengan mengumumkan bahwa Islam adalah “Rahmatan Lil ‘Alamin” dan cahaya yang menerangi. (Surah Al-Ahzab (33): 46) Allah swt memuji sikap dan akhlak Nabi ini dalam ayat berikut:

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur”. (Surah Al-Qalam (68): 4)

Rasulullah saw dinilai oleh Allah swt memiliki budi pekerti dan akhlak yang luhur lantaran beliau tidak pernah menyakiti apalagi memukul orang. Bahkan dalam perang sekalipun beliau tidak pernah menyakiti tawanan, beliau melindungi anak-anak, wanita dan orang tua. Beliau pernah menyantuni wanita Yahudi yang sakit, bahkan beliau membiarkan musuh-musuhnya pergi melarikan diri.

Begitu indahnya akhlak dan kepribadian Rasulullah saw, kontradiksi dengan realita yang kita lihat pada hari ini, dimana warna-warna kekerasan mendominasi kondisi umat Islam gara-gara ulah segelintir umat yang “menghalalkan perampokan” dengan modus operandi “Fai”. Aksi-aksi (‘amaliyat) yang hanya dibenarkan dimasa perang ini, kini seolah-olah menjadi trend di kalangan teroris untuk mengumpulkan dana perjuangan. Lihatlah fakta yang mencengangkan ini; mulai dari Bom Bali 1 dan 2, JW Marriott jilid 1 dan 2, sampai Pelatihan Militer (Tadrib ‘Asykari) di kamp Jantho, Aceh Besar, sebagian dananya berasal dari perampokan bank dan toko emas, yang mereka anggap sebagai “Fai”.

Sebagian besar ulama mujtahidin seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Abu Hanifah (Hanafi) telah menguraikan di dalam kitab-kitab fiqh dan fatwa-fatwa mereka bahwa Fai hanya dibenarkan di dalam situasi perang, khususnya terhadap harta orang-orang kafir yang ditinggal pergi karena terkena dampak peperangan. Jadi Fai tidak dilakukan dengan menggunakan kekerasan, dan tidak ada satupun ulama-ulama mujtahidin yang membenarkan Fai dengan cara-cara kekerasan, apalagi dikaitkan atau mengatasnamakan “Jihad”.

Sebagian tokoh dan ulama-ulama radikal di Indonesia telah melakukan kesalahan besar-besaran ketika mencoba untuk mengaitkan riwayat Abu Bashir dan Abu Jandal sebagai dalil legitimasi (pembenaran) Fai. Padahal, kalaupun kasus Abu Bashir ini mau dijadikan maraji’ (rujukan), ia terjadi di zaman peperangan dimana ayat-ayat yang mengizinkan dan memerintahkan perang sudah turun. Kisah ini terjadi pasca materai perjanjian Hudaibiyah, yang dinilai oleh para mufassir demi menjaga keselamatan orang-orang yang menyembunyikan imannya yang masih berada di Mekah.

Malahan Rasulullah saw pernah menolak harta rampasan yang dibawa oleh Al-Mughirah bin Syu’bah – Al-Mughirah bin Syu’bah, sebelum masuk Islam, pernah membunuh beberapa orang dan merampas harta mereka (lihat Sejarah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, Rabithah al-Alam al-Islamy, cet. 1, 1414 H, bab Perjanjian Hudaibiyah, hal. 441) – ketika dia datang menyatakan  keislamannya. Nabi berkata kepadanya saat itu, “Aku bisa menerima keislamanmu. Tapi tentang harta benda yang engkau bawa, aku tidak mempunyai urusan dengannya”.

Peristiwa lainnya yang menunjukkan “Penolakan Rasulullah terhadap Fai yang dilakukan bukan di zaman peperangan” adalah apa yang dilakukan utusan Rasulullah yang berjumlah 12 orang dipimpin Abdullah bin Jahsy al-Asady, sebelum Perang Badar. Mereka mencegat kafilah dagang Quraisy di Nakhlah yang dipimpin oleh Amr bin Al-Hadhramy, Utsman, Naufal, Al-Hakam bin Kaisan dan beberapa tokoh Quraisy lainnya. Akibat penghadangan ini Amr bin Al-Hadhramy tewas, Utsman dan Al-Hakam ditawan, sedangkan Naufal melarikan diri. Seluruh barang rampasan dan tawanan dibawa ke Madinah. Mereka menyisihkan seperlima bagian dari harta rampasan (20{9768c60efb4a08f894ec18aa0fb83879d59230779c731a971f1c7cc6eff53e3d}) untuk diserahkan kepada Rasulullah saw. Ini merupakan harta rampasan pertama dalam sejarah Islam, tetapi para ahli fiqh maupun sejarawan Islam tidak menyebutnya sebagai “Fai”, korban yang terbunuh juga merupakan korban pertama dalam Islam, dan dua tawanan ini juga merupakan tawanan yang pertama dalam Islam (lihat Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, hal. 264). Namun Nabi tidak sependapat dengan apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Jahsy, beliau “tidak mau menerima barang rampasan” dan dua tawanan itu.

Malahan, lihatlah fakta yang mencengangkan ini dari ketinggian akhlak Rasulullah, dimana beliau membebaskan dua tawanan itu dan membayarkan “tebusan” dari korban yang dibunuh oleh Abdullah bin Jahsy kepada ahli warisnya (keluarga korban). (Lihat Zadul-Ma’ad, 2/83-85; Sirah An-Nabawiyah Ibnu Hisyam, 1/561-605; Rahmah Lil-‘alamin, 1/115-116; 2/215-216, 468-470)

Fakta-fakta historis yang tidak terbantahkan ini menunjukkan “tidak ada satu pun dalil yang bisa dijadikan justifikasi untuk melegalkan Fai” di suatu negara yang tidak terjadi peperangan. Artinya, dalil-dalil tentang Fai semuanya bermuara kepada situasi peperangan yang memunculkan konflik berkepanjangan, rasa takut dan gelombang pengungsi. Di tengah situasi itulah Fai dibenarkan dengan syarat-syarat yang ketat, dan dilakukan tanpa kekerasan, senjata dan pertumpahan darah.

Dengan demikian syari’at Islam sendiri menolak mentah-mentah argumentasi yang mengatakan bahwa Fai sama dengan perampokan, penjarahan, pencurian bahkan pembunuhan. Semua perbuatan ini dikategorikan di dalam Islam sebagai perbuatan Fahsya’ (keji) dan Mungkar (jahat). Perbuatan ini bertentangan dengan fakta historis yang berasal dari khazanah (literature Islam) bahwa selama lebih kurang 13 tahun di Mekah, Rasulullah saw bersama kaum muslimin adalah golongan yang tertindas (mustadh’afin) di bawah cengkeraman kekuasaan kaum musyrikin, dimana beliau tidak pernah memerintahkan para sahabatnya untuk melakukan perampokan dan pembunuhan, baik terhadap kaum musyrikin maupun thaghut (pemerintah) yang sedang berkuasa di Mekah. Malahan Rasulullah saw menyuruh para sahabat untuk bersabar seperti ucapan beliau kepada Ammar bin Yaser:

“Bersabarlah wahai keluarga Yaser, karena sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah syurga”. (HR. At-Thabrani, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir. Al-Haitsami menyebutnya sebagai hadits shahih (lihat Hayatus Shahabah, juz 1, hal. 244)

Pernah datang Ka’ab bin ‘Arat mengadu kepada Nabi saw tentang beratnya siksa dan penderitaan yang dialaminya bersama keluarganya. Lalu Nabi menasehatinya supaya bersabar. Ini menunjukkan bahwa dakwah hanya pantas dilakukan oleh orang-orang yang hatinya bersih dari segala tendensi, jika tidak demikian maka dakwah itu akan berubah menjadi tangga bagi orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dan menjadikannya sebagai ajang bisnis bagi sekelompok orang.

Hal ini menunjukkan betapa humanisnya Islam, yang menyuruh umatnya agar bersabar menghadapi penindasan dan kezaliman kaum musyrikin. Di tengah-tengah penyiksaan, blokade ekonomi dan penindasan yang sudah sampai ke dasarnya, malahan Rasulullah saw membai’at (berjanji setia) perempuan-perempuan mukmin agar jangan mencuri, berzina dan membunuh. Larangan agar tidak berbuat kejahatan ini tertuang di dalam ayat Al-Qur’an:

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Al-Mumtahanah (60): 12)

Padahal, kalau seandainya Rasulullah saw mau melakukan penjarahan dan pembunuhan, tidak ada satu pun kekuatan yang bisa mencegahnya karena beliau dibantu oleh Malaikat dari langit. Untuk memperkuat modal, baik untuk membeli senjata maupun logistik agar tidak kembang kempis, bisa saja Rasulullah saw membai’at para sahabatnya untuk melakukan perampokan terhadap kafilah-kafilah dagang Abu Sufyan atau konglomerat lainnya yang hilir mudik antara Syam dan Mekah. Tetapi Nabi saw tidak melakukan perbuatan curang itu, apalagi beliau pernah digelari “Al-Amin” justru oleh kaum yang kemudian menjadi musuh-musuhnya. Rasulullah saw justru melakukan dakwah dengan cara-cara yang santun dan mengikuti petunjuk-petunjuk wahyu, agar tidak ada tubuh yang terluka dan darah yang tertumpah. Benar-benar dakwah yang elegant, penuh kasih sayang dan membawa berita gembira, sebagaimana ayat Al-Qur’an menyebutkan:

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Surah Saba’ (34): 28)

-Ghozali/Abu Yasin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *