Alamak! Jihad Ditafsirkan Dengan “Bunuh, Tembak dan Gorok”

Ghazali | Mediaikhwan.com

 

Terkutuklah mereka….
Bunuhlah mereka….
Tembaklah mereka….
Goroklah mereka….
Dengan tangan-tangan kalian….
Wahai Mujahid…..

Hidup ini takkan bersinar…
Jika tak berjihad….
Lupakan dunia…
Ambillah akhirat…

Marilah berjuang…
Jangan takut mati…
Insya Allah kita hidup sebagai Syuhada…

Demikian “catatan jihad” yang ditemukan di kontrakan milik Endra yang diperoleh detikcom dari sumber di kepolisian. Seperti diketahui, tim gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Bekasi menggerebek rumah kontrakan milik tersangka Endra Saputra (23) di Jalan Haji Sarma, Kelurahan Pondok Pucung Timur, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan pada Jumat (30/3/2012). Dalam penggerebekan itu, petugas menembak mati Endra dan juga satu tersangka lain karena melawan petugas.

Sesungguhnya jihad adalah puncak dari ajaran Islam. Sebaik-baik manusia yang berjihad di muka bumi ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Beliau yang diutus Allah dari manusia pilihan, dikenal dengan “khuluqul azhim” (pemilik akhlak terindah sepanjang zaman). Setiap langkah yang beliau lakukan adalah rahmatan lil ’alamien, penuh toleransi bahkan terhadap musuh-musuhnya sekali pun. Tidak pernah keluar dari bibirnya yang mulia sebaris kata-kata ancaman untuk membunuh ataupun menggorok hatta lawan-lawannya yang memusuhinya. Biarpun dia dan sahabat-sahabatnya ditindas setengah mati bahkan ada yang sampai mati.

Kesantunan jihad Rasulullah bahkan dipraktekkan di zaman perang, dimana dilarang menyakiti wanita, anak-anak, orang tua dan tempat-tempat ibadat. Teladan Rasulullah ini diikuti dari generasi ke generasi golongan yang mempraktekkan jihad dengan benar. Bahkan mujahid sekelas Khathab, commander tempur mujahidin Chehnya melawan Rusia mengatakan, “Di antara manusia adalah MUJAHID selalu lebih mulia akhlaknya, lebih bertaqwa kepada Allah dan ittiba’ kepada Rasul-Nya, lebih berbakti kepada orang tuanya, bersifat itsar dan lembut kepada para tetangga tempat tinggalnya sehingga semua mencintainya.”

Bayangkan dengan wajah jihad hari ini yang penuh teror, bunuh, tembak dan gorok seperti catatan jihad di atas, bahkan terjadi di negeri ini yang sepakat para ulama mengatakan tidak terjadi perang di sini. Gerakan-gerakan jihad, baik individual maupun kolektif, yang dibesarkan oleh kelompok-kelompok pengajian radikal, lambat laun berubah menjadi regu tempur (bunuh) yang bringas. Semuanya berkomitmen pada ightiyalat, operasi pembunuhan rahasia, sebuah konsep yang mendapat popularitas sebagian lewat terjemahan ke bahasa Indonesia risalah-risalah radikal yang ditulis oleh anggota Al-Qaeda di Semenanjung Arab.

Gerakan ini mengubah karakter bangsa Indonesia yang toleran menjadi intoleran. Mereka bisa merekrut puluhan ribu orang tanpa terdeteksi, apalagi kelompok ideologi radikal dibolehkan beraktivitas meskipun termasuk kategori radikalisme. Hal itu tidak melanggar Undang-undang Tindak Pidana Terorisme. Setelah Undang-undang Subversif dicabut, ideologi radikal tidak lagi dilarang. Meskipun kelompok ideologi radikal dapat disebut dengan radikalisme, tetapi bukan termasuk pelanggaran. Kecuali sudah melakukan tindakan yang melanggar UU Terorisme. Artinya, keberadaan kelompok ideologi radikal tersebut tetap dibolehkan melakukan forum diskusi dan melebarkan sayapnya di media-media sosial sesuai dengan ideologinya masing-masing. Padahal ada banyak kelompok radikal tertentu yang eksistensinya berpotensi berubah menjadi kelompok radikal bersenjata.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *