Announcement: Aliran Takfiriyah Melaju Kencang Bak Mobil Di Jalan Tol, MUI Perlu Bertindak Tegas

gambar untuk FIQH JIHAD

Santer terdengar kabar ketika kita baru saja memasuki tahun 2014, yaitu “sudah lebih 100 orang terduga teroris yang ditembak mati.”
Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa operasi penggerebekan justru tidak menghentikan gerak laju teroris, malah semakin kencang dan maju?
Masalahnya tidak sederhana. Sedangkan dengan operasi penggerebekan saja teroris tidak habis, apalagi tanpa penggerebekan.
Oleh karena itu, kita harus mencari akar masalahnya agar isu ini tidak menjadi gurita yang terus membelit bangsa kita.
Sebenarnya, akar persoalan terorisme adalah pada ajaran takfiriyah yang berkembang akhir-akhir ini seiring dengan terbukanya iklim reformasi yang membebaskan semua pendapat, aliran dan pikiran melaju ibarat mobil kencang di jalan tol bebas hambatan.
Ideologi Takfiriyah tidak saja menanamkan doktrin radikal, kebencian, dan permusuhan terhadap negara, tetapi juga mengkafirkan kaum muslimin yang dianggap tidak seide dengan mereka, atau siapa saja yang dianggap musuh dan menghalangi tujuan mereka.
Padahal dalam Islam tidak ada perintah membunuh orang tanpa alasan yang dibenarkan agama termasuk mereka yang berbeda agama.
Operasi penggerebekan memang tidak akan pernah efektif menghentikan terorisme dan tidak akan mampu menuntaskan persoalan terorisme secara komprehensif karena akar masalahnya pada ajaran takfiriyah yang berkembang secara massif dan instan, mempengaruhi pandangan anak muda yang pada dasarnya tertipu oleh sesatnya pengetahuan agama pengusung aliran ini.
Faktor-faktor lahirnya terorisme itu kompleks sekali. Tidak sederhana. Tidak cukup dengan menembak mati terduga teroris. Buktinya, walaupun sudah lebih 100 orang terduga teroris yang ditembak mati faktanya para pelaku teror bukan semakin berkurang tapi malah semakin banyak bermunculan. Mengapa ini bisa terjadi? Karena aliran takfiriyah berhasil mewariskan nilai-nilai kekerasan, teror dan dendam terhadap aparat negara.
Sebagian kelompok radikal menjadikan kata-kata “kafir” sebagai senjata untuk memvonis sesat dan kafir orang yang tidak seide dengannya. Sehingga lahir sebuah identitas dengan label “takfiri.”
Tidak sepantasnya ada di kalangan umat Islam, dari golongan manapun dia berada, berani-beraninya mengeluarkan fatwa untuk mengkafirkan dan menyesatkan semacam pengadil kebenaran atau kesesatan akidah dan keyakinan terhadap kelompok umat Islam manapun.
Dalam kondisi demikian, sudah sepantasnya MUI mengambil posisi tegas untuk menghentikan gerak laju kelompok sesat takfiri ini karena keberadaannya tidak saja mengancam keamanan negara teapi juga memecah belah sesama umat Islam.
Fatwa saling mengkafirkan malah bisa memicu konflik antar kelompok berbeda paham agama. Bisa memperuncing perbedaan dan memicu tabrakan antar kelompok. Sesat atau tidak sesat itu keputusannya di Allah Subhanahu Wataala.
(Ghozali/Mediaikhwan.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *