Awas! Ideologi Teroris Berkembang Secara Masif

Ketua DPW FPI Solo Raya, Ustadz Khoirul RS, kepada Voa Islam mengatakan, “Sekarang ini kita harus melawan Densus 88 dengan fisik yang nyata, bukan dengan kata-kata.” (Voa of Islam, Senin, 27 May 2013)

Ustadz Khoirul menjelaskan, harus ada upaya lain yang lebih nyata dalam melawan Densus 88. Sebab, Densus 88 sudah tidak lagi bisa dilawan dengan kata-kata. Maka satu-satunya upaya perlawanan kaum muslimin adalah dengan cara fisik yang nyata.

Untuk itu, lanjut propagandis radikal ini, potensi umat Islam yang ada perlu disinergikan secara bersama untuk melawan Densus 88.

Ucapan agitasi dan provokasi Ustad Khairul mengingatkan kita kepada ucapan senada yang dilontarkan DPO Santoso beberapa waktu lalu, yang intinya menantang Densus 88 untuk berperang. Bedanya, Santoso menggunakan senjata, sedangkan ustad Khoirul menggunakan media. Intinya sama, yaitu perlawanan terhadap pasukan penindak teroris itu secara fisik.

Ucapan ketua majlis syura FPI tersebut bisa menjadi pupuk yang menyuburkan aksi-aksi terorisme. Ia sekaligus provokasi dan menjadi spirit yang akan menguatkan ideologi terorisme serta pengaruhnya di kalangan umat yang berpahaman radikal dan menjadi pemicu menjamurnya sel-sel teroris yang beraksi secara individu (jihad fardhiah).

Sebenarnya penyebaran ideologi radikal kini tak terbendung lagi di media-media sosial, karena ia mengilhami gerakan dan aksi-aksi ‘amaliyat, baik bomber (peledakan dan bom bunuh diri), ightiyalat (serangan gerilya) maupun fa’i (pengumpulan dana jihad melalui perampokan). Lewat internet dan media social, para propagandis jihadis yang kebablasan menyebarkan racun-racun ideology dan memprovokasi orang untuk melakukan tindakan terorisme.

Jihad memang dibenarkan dalam Islam, tapi sayangnya cara yang dikemukakan kalangan radikal salah dan cenderung menafsirkan sendiri pemahaman jihad. Selain kapasitas keilmuan mereka tidak pantas, juga penafsirannya cenderung emosional dan agitasi dengan bertopang pada faktor-faktor ketidakadilan. Banyak orang yang menderita dan mungkin ini adalah salah satu motivasi untuk menjadi spirit yang bisa membakar semangat jihad melawan ketidakadilan yang ditujukan kepada “toghut”, yaitu istilah yang biasa dituduhkan kepada pemerintah oleh para jihadis . Tapi sayangnya, cara jihadnya salah. Pemahaman jihad yang salah ini menjadi salah satu penyebab mencuatnya terorisme. 

Hal ini tentu saja sangat merugikan nama baik Islam. Karena, kebanyakan korban terorisme adalah umat Islam sendiri.

(Ghozali/Mediaikhwan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *