Awas! Teror Dalam Kota

Teror dalam kota akhir-akhir ini semakin massif dan agresif. Sebuah buku yang sudah beredar di internet sejak 2011 berjudul “Panduan Pelaksanaan Perang Gerilya di Perkotaan” menjadi rujukan kelompok garis keras untuk melaksanakan eksekusinya. Buku elektronik yang diterbitkan oleh “Forum Islam al-Busyro” ini sudah membuahkan hasilnya dengan maraknya penembakan terhadap polisi dalam dua bulan terakhir ini.

Dalam buku yang sudah diunduh lebih dari 1000 orang itu sejak September 2013, dan diperkirakan jumlah ini akan bertambah terus, memuat kode dan panduan dalam mengeksekusi toghut. Toghut adalah sebuah istilah yang ditujukan kepada pemerintah dengan tiga kategori, yaitu: eksekutif (pejabat pemerintah), yudikatif (kehakiman/kejaksaan) dan legislative (dpr/mpr).

Dari ketiga unsur tersebut, target prioritas justru diarahkan kepada aparat (dalam hal ini polisi), baik sasaran secara individu maupun institusi. Karena aparat dianggap “anshorut toghut”, yaitu pelindung yang menjaga ketiga institusi Negara tersebut.

Sasaran secara institusi misalnya ke kantor-kantor polisi baik tingkat daerah maupun pusat, dan sasaran individu adalah polisi dengan sasaran terdekat. Adapun target lain seperti kepentingan-kepentingan asing dan kafir (dikaitkan kepada Kristen dan agama-agama non Islam) tergantung kepada kepentingan, situasi dan kondisi.

Namun dari semua sasaran tersebut, skala prioritas di kalangan kelompok terror adalah aparat (polisi) karena aparat dianggap sebagai musuh langsung yang berhadap-hadapan dengan kelompok terror di lapangan.

Maka munculnya buku elektronik yang diterbitkan oleh media social di internet yang berafiliasi ke teroris jelas menjadi acuan rutin kelompok ini untuk melancarkan aksi-aksi terror dengan system gerilya kota.

Hebatnya lagi, buku panduan yang membimbing orang untuk menjadi teroris itu dilengkapi dengan ayat-ayat Al-Qur’an, hadits dan fatwa-fatwa ulama yang “menghalalkan” darah toghut. Selain itu, juga berisi panduan merakit bom dan senjata api, serta pengamanan saat eksekusi dan pasca eksekusi.

Tidak tanggung-tanggung, para teroris dan cikal bakal teroris juga diberi bimbingan untuk membuat rumah persembunyian (safehouse) di dalam kota guna menghindari perburuan polisi dan juga untuk menghilangkan jejak.

Dengan fenomena demikian, dapat dibayangkan bahwa aksi-aksi ke depannya akan fokus kepada serangan gerilya di dalam kota sebagaimana yang sudah mereka buktikan akhir-akhir ini. Apalagi di kalangan faceboker kelompok terror di internet beredar statemen untuk “menghabisi 1000 polisi” satu persatu, yang akan membuat down mental polisi dan menimbulkan kekacauan sistemik di negeri ini. Tujuannya jelas, menggiring opini bahwa polisi gagal menciptakan keamanan di dalam masyarakat karena polisi sendiri yang bersenjata tidak mampu mengamankan dirinya sendiri.

Kesimpulannya adalah, kebebasan demokrasi yang semakin kebablasan telah melahirkan kebebasan berfikir yang mengarah kepada anarkisme. Juga kebebasan untuk menafsirkan jihad dan Islam seenak perut karena lembaga-lembaga resmi seperti MUI tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Karena MUI mengalami kemandulan dan stagnasi, maka kelompok-kelompok radikal tidak bisa didekati dan dirangkul, apalgi MUI tidak mempunyai konsep yang jelas dalam menangani konflik-konflik keagamaan yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia seperti kasus Syiah Sampang, Ahmadiyah dll.

Maka, kita hanya bisa mengingatkan semua komponen bangsa, agar waspada dengan terror kota yang semakin agresif.

(Ghazali/Mediaikhwan.com)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *