Benarkah Akal Wanita Dan Anak-anak Tidak Sempurna?

20
Allah Subahanhu wa Taala berfirman:
“Dan jaganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik”(QS. An-Nisaa’:5)
As-Sufahaa’ (orang-orang yang belum sempurna akalnya), menurut Ibnu Abbas adalah anak-anak dan wanita. Begitu yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam menafsirkan surat An-Nisaa’ ayat 5. Oleh sebagian orang, ayat tersebut dijadikan legitimasi bahwa wanita dan anak-anak tidak sempurna akalnya, padahal , fase anak-anak merupakan proses alami dalam perjalanan hidup, dan menjadi wanita merupakan kehendak Allah SWT. Lantas kenapa diberi julukan sebagai as-sufahaa’ yang berkonotasi terhina? Jenis kelamin bukan pilihan hidup manusia. Melainkan takdir. Anak-anak merupakan masa transisi untuk mejadi dewasa, sehingga proses itu akan dijalani oleh setiap orang. Pertanyaannya, apakah seseorang menjadi terhina hanya karena sedang melalui proses sunnatullah?
Jawaban itu harus kembali kepada kaidah, bahwa memahami Al-Qur’an harus mengikuti kaidah Bahasa Arab. Sebab itu, untuk memahami kata as-sufahaa’ pun harus mengikuti kaidah Bahasa Arab.
Kata sufahaa’ merupakan jamak taksir untuk isim mudzakkar ”safih”, bukan “safihah” atau muannats. Dan as-sufahaa’ dikenal dalam kaidah Bahasa Arab dengan isim zaman, yaitu bentuk kata keterangan yang digunakan untuk menunjukkan satu masa atas peristiwa tertentu, sehingga sifat tersebut tidak menjadi sifat yang langgeng atau hanya bersifat samentara. Sehingga as-sufahaa’ pada surat An-Nisaa’ ayat 5 bukan merupakan sifat berkesinambungan yang selalu lekat terhadap anak-anak dan wanita, namun merupakan sifat sementara pada saat mereka belum mampu menggunkaan harta yang merupakan nafkah kehidupan mereka.
Ayat ini sesungguhnya terkait beban amanat terhadap laki-laki yang berkewajiban memberikan mahar atau mas kawin terhadap wanita dan melindungi harta anak-anak yatim. Pada saat wanita dan anak-anak itu dianggap belum bisa menjaga harta itu, maka laki-laki dilarang memberikan itu semua. Rasyid Ridha mengatakan, ”Yang dimaksud dengan as-sufahaa’ di sini ialah orang-orang yang pemboros yang menghambur-hamburkan hartanya untuk sesuatu yang tidak perlu dan tidak seyogyanya, dam membelanjakannya dengan cara yang buruk dan tidak berusaha mengembangkannya.”
Penafsiran Rasyid Ridha sejalan dnegan At-Thabari bahwa ayat itu bersifat umum meliputi orang yang kurang akal, baik anak-anak maupun sudah dewasa, laki-laki maupun perempuan.
Penafsiran Ibnu Abbas mempunyai dua kemungkinan, bahwa beliau mengomentari Annisa ayat 5, as-sufahaa’ adalah wanita dan anak-anak, karena melihat bahwa wali anak-anak dan perempuan notabene adalah pria, sehingga ringkas perkataan bahwa as-sufahaa’ itu tidak lain adalah anak-anak kalian dan istri-istri kalian. Namun tidak ada sedikitpun nuansa penghinaan. Kalau seandainya terkandung maksud bahwa wanita dan anak-anak adalah as-sufahaa’ yang bersifat permanen, maka penafsiran itu bisa diabaikan, karena tetap saja penafsiran Ibnu Abbas bukanlah perkataan Nabi yang maksum, karena justru banyak ayat dan hadits yang menunjukkan penghormatan terhadap wanita dan anak-anak.
(Ghozali/Mediaikhwan.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *