Berlindung Dari Kebodohan

Al-Baqarah 2-67

“Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh.” (Al-Baqarah {2}: 67)

 

Doa ini dibaca oleh Nabi Musa ‘alaihis salam sewaktu beliau diejek oleh kaumnya, Bani Israil. Sebaliknya, Nabi Musa memerintahkan kaumnya agar menyembelih seekor sapi betina. Kaumnya malahan balik bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?”

Sesudah meyakinkan kaumnya dengan melafazkan doa di atas, akhirnya Bani Israil akur dengan arahan Nabi Musa, dengan catatan mereka meminta rincian tentang kriteria sapi betina itu. Alasan mereka, perintah Nabi Musa itu macam mengada-ada saja dan tidak jelas ujung pangkalnya.

Nabi Musa menjelaskan kepada mereka kriteria sapi betina itu, yaitu tidak tua tapi juga tidak muda. Warnanya kuning tua, belum pernah dipakai untuk membajak tanah atau mengairi tanaman, sehat dan tidak ada belangnya.

Bani Israil melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Nabi Musa, itupun sesudah kepayahan kesana kemari mencari sapi betina yang memiliki kriteria aneh dan ajaib itu. Akhirnya sapi betina itu disembelih, tetapi nyaris mereka tidak melaksanakan perintah itu karena hati mereka tidak serius menanggapinya.

Ternyata, kekuatan doa di atas mampu meron-tokkan kesombongan kaum Bani Israil, yang terkenal dalam sejarah sebagai bangsa yang keras kepala dan membangkang. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyumpahi mereka, “Jadilah kamu kera yang hina!”

Hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh menyembelih sapi ialah agar hilang rasa penghormatan mereka kepada patung anak sapi yang mereka sembah, yang mereka buat dari emas. Para mufassir berpendapat bahwa suara yang keluar dari tubuh patung yang tidak bernyawa itu hanyalah disebabkan oleh angin yang masuk ke dalam rongga patung itu sehingga seolah-olah tubuh yang bernyawa dan mempunyai suara mirip sapi.

Perbuatan mereka membuat patung anak sapi dan menyembahnya adalah suatu cobaan dari Allah untuk menguji mereka, siapa yang sebenarnya kuat imannya dan siapa yang masih ragu-ragu. Orang yang lemah imannya itulah yang mengikuti Samiri dan menyembah patung anak sapi. Tetapi orang yang kuat imannya tetap istiqamah dalam keimanannya.

Orang yang bodoh akan terus menerus mewarisi kesesatan dan kekafiran, dimana tidak berguna semua nasehat dan pengajaran karena hatinya telah mati. Sedangkan orang yang pintar adalah orang yang mewarisi kebenaran dan bermanfaat semua nasehat karena hidup hatinya dan disuburkan dengan amal-amal shalih.

Orang yang pintar bermakna orang yang tunduk kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedang-kan orang yang bodoh adalah orang yang tunduk kepada syaitan dan hawa nafsunya. Mana mungkin doa orang yang tunduk dibawah kontrol nafsunya dika-bulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Doa di atas sangat bermanfaat untuk dibaca, dihayati dan diamalkan agar kita terhindar dari kebodohohan dan kejahilan sebagaimana keadaan kaum Bani Israil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *