Bersatu Dalam Perbedaan

Islam adalah agama berlandaskan “kemanusiaan”, menjunjung tinggi martabat dan kehormatan orang lain. Namun kelakuan dan tingkah polah umat Islam akhir-akhir ini semakin emosional dan bertengkar sesama sendiri. Kita sendiri merasa malu melihat konflik-konflik internal umat Islam yang melampaui batas sehingga menggunakan bahasa kasar, biadab dan kurang ajar atas nama Islam. Celakanya, kata-kata kasar bahkan tindakan anarkis ditujukan justru kepada sesama umat Islam sendiri.
Setiap kali suatu kelompok berbicara tentang Islam, pasti ujung-ujungnya menyalahkan kelompok umat Islam yang lain, bahkan sampai mengkafirkan dan menghalalkan darah! Seolah-olah Islam itu sebuah agama penuh “ammarah”. Padahal kemarahan dan pertengkaran itu dari syaitan. Berarti disana-sini kita menyaksikan umat Islam yang disusupi oleh syaitan! Na’udzubillahi.
Paham radikalisme Islam yang sarat dengan nuansa kemarahan, telah melanggar batas-batas akhlak dan da’wah Rasulullah saw yang penuh toleransi dan kemanusiaan. Umat Islam seolah-olah telah kehilangan akhlak, padahal untuk “akhlak yang suci” inilah Nabi Muhammad saw diutus.
Pesan dari Sheikh Hamza Yusuf barangkali bisa membantu kita mengelakkan dari link radikalisme:
“Saya berikan kamu satu qa’idah oleh Ibnul Qoyyim al Jauziyyah. Hanya satu qa’idah yang sangat mudah. Sekiranya kamu faham, kamu akan faham banyak. Islam itu seluruhannya Rahmah. Jika kamu melihat yang bertentangan dengannya (seperti kekejaman, kebengisan dan anarkisme), maka itu bukanlah Islam. Islam itu adalah Hikmah. Jika kamu melihatnya menjurus kepada kebodohan, itu bukanlah Islam. Islam itu adalah Adil. Jika kamu melihatnya menjurus kepada yang sebaliknya seperti zhulum, kezaliman, kebengisan dan ammarah, itu bukanlah Islam.”
Fakhruddin ar Razi berkata: “Saya bisa rumuskan Islam itu pada hanya dua hal. Ibadah pada Kholiq Pencipta yaitu Allah swt dan rahmah kasih sayang terhadap ciptaanNya (makhluq).”
Kegilaan apakah yang telah merasuki umat Islam dewasa ini? Apabila seseorang menyelisihi pendapat mereka, maka atas nama Islam, kemarahan mereka bagaikan gunung berapi yang memuntahkan lahar, seolah-olah dirasuki setan.
Kita melihat hal ini di mana-mana. Sebagian kelompok yang mengarak nama Islam dan jihad, memaki-maki umat Islam yang lain yang tidak sehaluan dengan mereka, sehingga hilang sopan-santun dan budi pekerti, apatah lagi akhlaq mereka sebagai orang Islam. Mereka mencaci maki, mencela, menghina, mengkafirkan, bahkan sampai menghalalkan darah umat Islam lain yang menyelisi kelompok mereka, seolah-olah perbendaharaan makrifatullah dan kebenaran itu milik haqiqi mereka, yang diturunkan dari langit ketujuh khusus untuk mereka. Sekali lagi, na’udzubillah.
Mereka sewenang-wenang menghukum orang sebagai kafir, murtad dan munafik semata-mata kerana perbedaan pendapat. Mereka melaknat saudara-saudara mereka, mereka mendoakan bala sebaik saja mereka dapati saudara mereka menyampaikan sesuatu yang tidak mereka setujui.
Faham radikalisme ini bukan saja telah menjadi penyakit mereka, bahkan mengotori jati diri mereka sebagai Muslim jadi-jadian yang menganggap keislam orang lain tidak “sah”, seolah-olah surga hanya milik mereka. Sekali lagi, hanya milik mereka!
Demikianlah hebatnya fenomena radikalisme yang akhir-akhir ini mewabah di negeri seribu pulau ini. Mereka berhasil memecahbelah umat Islam menjadi umat yang keras dan berwatak militant, bukan lagi umat pertengahan yang ramah dan menyejukkan. Mereka bersatu pada jalan “radikalisme” dan mereka akhirnya akan saling membunuh umat Islam lainnya semata-mata kerana perbedaan pandangan. Contohnya, sudah banyak umat Islam yang tewas karena peluru tak bermata, bom bunuh diri, serangan ala gerilya, yang tak jelas apa maksud dan tujuannya, kecuali – kononnya – jihad!
Mereka akan bergegas-gegas membuat pengumuman atau merilis “atas nama jihad dan Islam”, dimana mereka akan menunjukkan wajah-wajah keras mereka, melaungkan slogan ke sana ke sini sambil menggenggam kitab suci, seolah-olah mereka “pewaris” nabi. Dari manakah datangnya semua ini? Apakah RasuluLlah dan para Sahabat mengajar kita berjingkrak-jingkrak penuh ammarah dan melatah?
Penulis mengingatkan kita semua tentang pesan-pesan dari Sheikh ‘Ali al Jumu’ah: “Mereka ini menyeru manusia dengan paksa supaya mengikut pendapat mereka seolah-olah wahyu telah turun kepada mereka. Mereka ini memiliki sifat takabbur dalam keadaan tidak sedar. Sehingga menghukum dengan kafir, bida’ah, serta fasiq terhadap umat Islam lainnya yang tidak mengikuti mereka tanpa mereka sadari bahwa mereka telah disusupi oleh iblis.”
Pesan Sheikh ‘Ali al Jumu’ah selanjutnya: “Kerana mereka telah menyempitkan pandangan agama yang luas dan mereka mengubah agama Allah yang penuh rahmat menjadi laknat. Kerana mereka mencemarkan gambaran Islam di hadapan manusia dengan menggunakan perjuangan atas nama Islam.”
Tanpa disedari hari ini kita semakin terjebak kedalam perangkap faham “reaksioner” yang menjadikan umat Islam sendiri sering terjebak dalam mentalitas “balas dendam” yang menghilangkan kewarasan, kehormatan serta akhlaq mulia oleh rentetan provokasi terencana yang dilakukan oleh agen-agen provokator mengatasnamakan “jihad”, seolah-olah jihad itu monopoli mereka. Seolah-olah mereka yang berhak menafsirkan jihad, kelompok lain tidak berhak!
Semakin hari umat Islam yang berpahaman sempit ini akan semakin agresif, tetapi mereka akan memetik buah keradikalan mereka sendiri, jika mereka tidak sadar. Bahwa mereka dikelilingi oleh jutaan umat Islam lainnya yang masih moderat (umat pertengahan), yang masih mengandalkan akhlak, budi pekerti dan cara berpikir lokal yang sederhana: “bersatu dalam perbedaan pendapat”. Ibarat tangan dan kaki yang bergerak bebas kesana kemari, tetapi tetap berada di dalam kesatuan tubuh yang satu. Camkan!
(Ghazali/Mediaikhwan.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *