Bila Singa Tauhid Berani di Kandang Sendiri

14

Kehadiran tiga tokoh ulama Timur Tengah dan mantan pemimpin Jemaah Islamiyah (JI) Mesir, Dr. Syeikh Najih Ibrahim, Syeikh Hisyam Najjar dan Syeikh Ali Hasan al-Halabi di Nusakambangan pada 9 Desember 2013 menjadi legitimasi bahwa tidak seorangpun berhak menafsirkan “jihad” berdasarkan pemikiran emosional tanpa didasarkan argumentasi yang baku dan “research history” yang menjadi latar belakang agama Islam. Kehadiran tiga ulama Timur Tengah itu juga tidak sedang mewakili pemahaman jihad yang baku, tetapi berusaha setidak-tidaknya mengembalikan pemikiran jihad yang telah jauh terlempar dari makna aslinya.
Dalam acara tersebut, hadir sejumlah napi, diantaranya adalah Ustadz Abu Sulaiman Aman Abdurrahman, Rois Abu Syaukat, Arif Budiman, Ali Umar, Zaenal Muttaqin, Subur Sugiarto, Ahmad Hasan, Arifin, Priatmo dan Toni Togar.
Ironisnya, ketika acara digelar, para ikhwan telah membuktikan keprimitifan dan dangkalnya pemikiran mereka yang dituduh dengan pasal terorisme itu. Acara tausiah merangkap diskusi/dialog, terutama di LP Kembang Kuning, Nusakambangan itu, pun akhirnya berbuah hujatan bukan adu argumentasi. Sikap ini tentu saja jauh dari nilai-nilai profesionalisme seorang intelektual apalagi kononnya “ulama” yang mau mendengar, dikritik dan berhujjah.
Sebagaimana yang dilaporkan media-media online beraliran “radikal” dan “takfiri,” ketika Hasan al Halabi memaparkan muqoddimahnya yang menjurus kepada peniadaan takfir terhadap penguasa yang berhukum dengan hukum buatan, ustadz Aman seketika itu langsung menginterupsi, “Bahwa kami telah tahu tujuan anda datang ke sini, dan bahwa Lajnah Daimah pun yang anda berintisab kepadanya telah mentahdzir kesesatan anda apalagi masyayikh kami ahlut tauhid wal jihad telah banyak membongkar kesesatan anda.”
​Lalu al Halabi menjawab, “Bahwa lajnah daimah hanya menulis tahdziran 1 1/2 halaman saja, sementara saya telah membantahnya lagi dengan tulisan lebih dari 1000 halaman. Sudahkah anda membacanya?“
Ustadz Aman menjawab, “Artinya anda belum rujuk dari pemahaman anda yang sesat tersebut?“.
Al Halabi mengiyakannya, “Saya tidak rujuk karena Saya benar”.
Karena tidak mungkin ada titik temu pemikiran dan pemahaman, akhirnya Aman Abdurrahman, Rois Abu Syaukat, Arif Budiman dan Ali Umar, meninggalkan ruang pertemuan.
Dalam perdebatan tersebut, tiba-tiba Toni Togar menimpali, “Teruskan saja syaikh, jangan dihiraukan”.
Demikianlah mentalitas para ikhwan ketika dihadapkan dengan tokoh-tokoh ulama berkaliber, langsung seperti “rumput putri malu”, disentuh sedikit saja langsung menggulung dirinya. Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa mereka tidak sanggup berhadapan dengan “kebenaran” karena akan membongkar paham “takfiri” yang selama ini mereka dewa-dewakan. Sekaligus ini juga membuktikan bagaimana para ikhwan ini – yang dijagokan sebagai “singa tauhid”, entah oleh siapa – ternyata hanya berani di kandang sendiri.
Dialog/diskusi itu ibarat “perang”, tepatnya perang pemikiran. Jika ia seorang pengecut, tentu tak berada di medan laga. Jika ia bukan orang yang yakin akan kebenaran yang dielus-elusnya, tentu ia lari dan bersembunyi, menghabiskan sisa usia. Namun, itulah kehebatan “mutiara dialog” untuk berhujjah mencari simpul-simpul kebenaran. Ia telah meyakinkan diri menjadi bahagian yang bererti bagi umat dan agama ini. Mereka yang tidak sanggup melaga kebenarannya, karena memang salah, akan telempar jauh.
Sikap yang lebih gentlemen ditunjukkan oleh Abu Bakar Ba’asyir dan ikhwan-ikhwan di Pasir Putih, Nusakambangan, yang mengikuti tausiyah/dialog sampai tuntas, walaupun mereka tetap bertahan dengan paham “takfiri”nya yang telah mengantarkan mereka ke Nusakambangan.
Hikmah dan kesimpulan yang dapat dipetik adalah, tidak ada kebenaran yang hakiki selama datang dari hasil “ijtihad” yang tidak memenuhi standard atau kapasitas sebagai mujtahid. Imam Syafie saja yang merupakan salah seorang mujtahid mutlak yang telah mencukupi semua persyaratan ilmu, dengan tawadhuk berkata, “Kalau pendapatku ini menyalahi hadith Nabi, maka kembalilah kepada kebenaran yang berasal dari Nabi saw.”
Masya-Allah, sebuah sikap yang patuh dicontoh.
(Ghazali/Mediaikhwan.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *