Bom Bostom Inspirasi Baru Bagi Teroris?

Bom Bostom yang menewaskan tiga orang dan menyebabkan puluhan orang cacat serta setidaknya 170 orang terluka di dekat garis finis Maraton Boston, pertengahan April lalu, tidak saja menyentakkan dunia tetapi juga menyisakan duka bagi dunia Islam.

Duka bagi dunia Islam karena sekali lagi Islam yang dinobatkan sebagai “rahmatan lil ‘alamin” menerima pukulan telak, karena pelaku Bom Bostom tersebut, Tamerlan Tsarnaev dan adiknya, Dzhokhar Tsarnaev, pemuda Muslim asal Chechnya yang mengungsi dari wilayah yang dicabik konflik di Rusia Selatan. Mereka bersama keluarganya tinggal secara legal di AS sejak satu dekade lalu.

Jelas, dunia sekali lagi akan menuding Islam sebagai “tertuduh” utama dan biang kerok dari anarkisme, yang membuat umat Islam di seluruh dunia terkena getahnya. Apalagi MailOnline di You Tube, 19 April lalu, mengungkapkan fakta bahwa kedua pemuda itu telah menjadi pengikut ulama radikal yang dikaitkan dengan Al Qaeda di Chechnya. Menurut laporan itu, Al-Juhani adalah Ideolog penting bagi Al Qaeda di Chechnya dan Kaukasus yang menginspirasi banyak pemuda untuk melakukan terror.

Walaupun mujahidin Kaukasus, melalui sebuah situs yang digunakan militan Chechen membantah keterkaitan apa pun dengan serangan bom maut di lomba Maraton Boston, namun yang pasti adalah dua tersangkanya berasal dari etnis Chechen, yang terkenal sebagai separatis militan yang aktif.

Menurut pernyataan itu, Mujahidin Kaukasus tidak berperang melawan Amerika Serikat. Dikatakan bahwa pihaknya berperang dengan Rusia, yang bukan saja bertanggungjawab atas pendudukan Kaukasus, melainkan juga atas kejahatan keji terhadap warganya. Pernyataan itu ditandatangani oleh Komando Mujahidin Provinsi Emirat Kaukasus Dagestan.

Mujahidin Kaukasus boleh jadi tidak terlibat dalam peristiwa Bom Bostom yang spektakuler itu, baik secara organisasi maupun keamiran dan bai’at. Karena jihad bisa dilakukan secara individu atau kelompok kecil yang dikenal dengan istilah jihad fardhiyah atau fardhu ‘ain yang bisa dan sah dilakukan seorang diri. Jihad dalam bentuknya yang lebih terstruktur dengan manajemen modern bisa dilihat di Afghanistan, Irak, Palestina dan kini Suriah.

Keistimewaan jihad fardhiyah (fardhu ‘ain) dibandingkan jihad jama’iy (dilakukan secara berjemaah), adalah bisa dalam bentuk personal assasination atau operasi ightiyal (serangan gerilya) terhadap target musuh, atau aksi Istisyhad (bom bunuh diri) yang semua persiapannya dilakukan seorang diri. Sehingga tidak diperlukan persiapan yang banyak, meliputi : personal, logistik, safe house, strategi dan sebagainya.

 Bom Bostom, menurut persepsi kelompok yang mendukung jihad fardhiyah, adalah sebagai salah satu bentuk perlawanan yang dilakukan oleh segelintir umat Islam (mujahidin) secara individu. Bom Bostom adalah salah satu diantara perlawanan yang ditujukan terhadap Amerika dan sekutunya yang dianggap telah menzalimi umat Islam di berbagai belahan dunia. Kesimpulannya, Bom Bostom adalah jihad, walaupun dilakukan oleh dua orang yang tidak terakses dengan pimpinan mujahidin.

Namun jihad yang suci menjadi warna yang penuh kekerasan, anarkis dan zalim ketika orang-orang yang tidak tahu apa-apa terpaksa menanggung derita seumur hayat bahkan anak-anak yang meninggal, wanita dan orang tua yang cacat. Mereka yang menjadi korban “jihad” seringkali adalah mereka yang tidak terkait sedikit pun dengan akar masalah, bahkan mereka tidak tahu mengapa mereka menjadi korban.

Alangkah bagusnya jika jihad dilakukan secara gentlemen, langsung ke sasaran utama. Jika Israel yang menjadi musuh misalnya, target jihad dilakukan langsung ke sasaran. Bukankah Rasulullah telah mencontohkan jihad yang benar, yaitu melakukan jihad langsung di medan perang dengan musuh-musuh yang bersenjata. Malahan Nabi melarang membunuh wanita, anak-anak, orangtua, merusak bangunan dan tanaman.

Bom Bostom adalah contoh jihad yang tidak gentlemen, jauh dari sifat-sifat dan ajaran Islam itu sendiri yang tidak membenarkan sasaran perang ke masyarakat awam. Tetapi telah ratusan bom yang meledak dan meluluh lantakkan sendi-sendi kehidupan dan peradaban manusia, meninggalkan luka dan trauma yang dalam. Masih ada dan banyak bom-bom “Bostom” baru yang siap meledak, yang menginspirasi banyak orang yang berpikiran sempit, dangkal dan radikal, yang akan mencoreng moreng “kesucian” ajaran Islam.

(Ghazali/Mediaikhwan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *