Fa’i Untuk Dana Jihad Bertentangan Dengan Syari’at Islam

Belakangan ini kita kembali disuguhkan dengan pemberitaan tentang terorisme. Ada yang menarik dan perlu untuk dikritisi dari pemberitaan tersebut, yakni kelompok teroris Abu Roban alias Bambang Nangka alias Untung disebut telah melakukan sejumlah aksi perampokan untuk mendanai kegiatan teror atau fa’i. Kelompok ini diduga terlibat dalam aksi perampokan di 10 lokasi dengan total hasil rampokan sekitar Rp 2 miliar.

Berdasarkan penelusuran tim Antiteror Polri, dana hasil fa’i itu diduga telah mereka gunakan untuk pembelian senjata, bahan pembuat bom, hingga untuk istri dari para terduga teroris yang ditangkap atau tewas. “Mereka gunakan hasil fa’i di antaranya beli senjata di Cipacing,” ujar salah satu nara sumber saat memberikan paparan di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Rabu (15/5/2013).

Dalam Islam memang mengenal istilah harta fai’ (lihat: QS. Al Hasyr [59] ayat 6-7). Namun definisi dan penjelasan mengenai fai’ tidak sesederhana dan sesempit sebagaimana yang mereka pahami. Islam tidak mengajarkan untuk menghalalkan segala cara dalam memperjuangkan cita-citanya. Bahkan Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan yang merugikan apalagi menyebabkan nyawa orang-orang yang belum tentu bersalah melayang.

Mengenai fai’ itu hanya bisa dilakukan dalam konteks dan dengan kondisi khusus, yaitu ketika musuh Islam (kafir harby) yang berada di suatu wilayah perang (darrul harb) pergi ketakutan akan datangnya pasukan Islam (dalam konteks perang fisik). Harta yang tidak sempat mereka bawa dan tertinggal atau ditinggal, maka itulah yang disebut harta fa’i, dan yang berhak menentukan serta membagikan harta fa’i tersebut adalah seorang pemimpin (kepala negara) atau penguasa muslim (khalifah) yang terpilih dengan ketentuan hukum Islam.

Dilihat dalam konteks sejarah munculnya fa’i, dilatarbelakangi adanya pengkhianatan orang Yahudi Bani Nadhir yang enggan membantu membayar tebusan ganti rugi atas terbunuhnya dua orang muslim dari Bani Kilab yang tidak sengaja dibunuh oleh Amir bin Umaiyyah adl-Dhamri, serta rencana Bani Nadhir hendak membunuh Nabi Muhammad saw. Atas dasar itulah Nabi mengutus seorang utusan kepada mereka untuk menyampaikan pesan: “Keluarlah kalian dari negeriku karena kalian telah merencanakan pengkhianatan. Aku beri tempo 10 hari. Kalau setelah itu masih ada yang terlihat, akan kupenggal batang lehernya.”
Awalnya mereka setuju dengan keputusan yang Nabi buat, namun mereka berubah pikiran lantaran terbujuk rayuan Abdullah bin Ubay bin Salul yang menjanjikan akan melindungi mereka dengan dua ribu tentara, sehingga mereka bertekat untuk bertahan di benteng-benteng mereka. Lalu Rasulullah saw., memerintahkan para sahabatnya untuk memerangi mereka. Sebelum terjadi peperangan mereka sudah ketakutan melihat tentara Islam dan menyerah tanpa perlawanan. Kepada Rasulullah saw., mereka bersedia meninggalkan kota Madinah sebagaimana yang diinginkan beliau. Tetapi Rasulullah saw menjawab : “Sekarang aku tidak menerimanya kecuali jika kalian keluar dengan darah-darah kalian saja. Kalian boleh membawa harta yang dapat dibawa oleh unta, kecuali senjata.” Akhirnya mereka menerima keputusan ini dan keluar dengan harta yang dapat diangkut oleh unta mereka. Harta yang mereka tinggalkan itulah yang disebut dengan harta fa’i.

Tidak dipungkiri, di tengah-tengah kaum Muslim ada pemahaman agama yang keliru, yang kemudian menjadi dasar untuk melakukan aksi yang juga keliru. Dalam kasus fa’i (harta rampasan), sebagian kecil kelompok Muslim radikal menganggap harta di luar kelompok mereka sama statusnya seperti harta milik orang kafir. Dari sinilah muncul aksi-aksi teroris karena mereka tidak mengakui pemerintahan yang tidak sesuai dengan konsep Syari’at Islam. Karena tidak mengakui, maka produk hukum yang dibuat oleh pemerintah tidak harus dipatuhi. Oleh karena itu mereka menganggap perbuatan tersebut sebagai sesuatu yang sah, pemahaman mereka (teroris) yang tanpa hujjah menjadi pembenaran atas aksi-aksi kriminal untuk mengambil harta orang lain di luar kelompok mereka. Inilah kesalahan fatal dalam memahami makna fa’i.

Padahal, harta rampasan perang dalam Islam adalah harta yang diperoleh dari peperangan melawan orang kafir. Syekh Abdul Baqi Ramdhun menjelaskan bahwa harta fa’i menurut istilah syar’i adalah segala apa yang dirampas dari orang-orang kafir tanpa melalui perang ataupun pengerahan kuda maupun onta. Seperti harta yang ditinggalkan orang-orang kafir karena takut diserang oleh kaum muslimin dan mereka melarikan diri, harta jizyah, harta pajak dan hasil kompensasi perdamaian, harta ahli dzimmah yang mati tidak punya ahli waris, dan harta orang murtad dari Islam apabila ia terbunuh atau mati.

Jadi dalam kondisi aman, perampokan atas nama fa’i itu tidak benar. Kesalahan ideologi para teroris itu tidak bisa dihubungkan dengan Islam. Sebab Islam sudah memiliki aturan yang tidak pernah menghalalkan perampokan.

(Ghozali/Mediaikhwan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *