Gawat! 1,8 Juta Penduduk Indonesia Terlibat Jaringan Teroris

Mediaikhwan.com – Akhir-akhir ini sering terdengar upaya beberapa kelompok muslim yang melakukan bom bunuh diri atau juga dikenal sebagai suicide bombing dan human bombing atau bom manusia. Hal itu tidak hanya menyentakkan pemerintah tetapi juga dunia bahwa terorisme masih bertaji di Indonesia. Berdasarkan temuan terbaru sebuah Lembaga Survei, jumlah masyarakat Indonesia yang diduga terlibat dalam jaringan teroris mencapai 1,8 juta orang atau dua persen dari total penduduk Indonesia yaitu 204 juta jiwa.

Semua tindakan anarkis yang menimbulkan suasana teror itu dilakukan dengan mengusung dan mengatasnamakan “jihad”. Jihad seolah-olah menjadi legitimasi bagi kelompok ini untuk menebar serangkaian teror, walaupun berdasarkan data survey tersebut tren radikalisme kian surut dari tahun ke tahun.

Beberapa fakta dan bukti cukup mencengangkan dan mengejutkan kita. Misalnya, sebelum bom Cirebon dan Solo, ada aksi bom buku, Maret tahun lalu.  Sepekan pasca bom Cirebon, polisi membongkar rencana pemboman di wilayah Gading Serpong, Tangerang. Tak terbayangkan jika bom berbobot hampir 180 kg yang ditanam di gorong-gorong dekat gereja serta saluran pipa gas itu meledak. Diperkirakan ledakannya lebih hebat dari bom Bali. Korbannya bakal banyak, karena menyulut pipa gas, dan menghantam  gereja pada saat ribuan jemaat menghadiri perayaan Paskah Jumat Agung di gereja Christ Catedral.

Frekuensi aksinya pun kian meningkat. Kalau pada masa Noordin M. Top, biasanya berlangsung setahun sekali. Tapi kini dalam lima bulan sudah terjadi dua kali. Pelakunya sudah dapat ditebak, yaitu kelompok yang menamakan dirinya jihadis. Ini bisa dibuktikan,  setelah tiga hari pasca ledakan Bom Solo, Rabu (28/09/2011) Forum Islam Al-Busyro merilis pernyataan terkait Bom Solo, yang ditulis seseorang bernama Al-Akh Abu Ja’far al Muhajir di Arrahmah.com (28 September 2011) :

“….Dan untuk kalian ketahui bahwa ini bukanlah serangan terakhir kami. Yakinlah bahwa kami masih mempunyai banyak alternatif model serangan yang tentu saja akan mengejutkan kalian. Selama ini kami telah mengetahui banyak kelemahan kalian, dan kalian sampai hari ini tidak mengetahui sumber kekuatan kami. Itulah bodohnya kalian. Maka tunggulah…sesungguhnya kami juga menunggu bersama kalian. Dan tidaklah yang kami tunggu-tunggu melainkan satu dari dua kebaikan yaitu : Hidup Mulia (menang) atau Mati Syahid….!!!”

Pernyataan tersebut mengisyaratkan kebanggaan tersendiri bagi pelaku bom bunuh diri. Mengapa bangga jadi human boming?

Sebenarnya secara umum ada dua reaksi para ulama dalam menyikapinya, sebagian melarang (baca: haram) dan sebagian lagi memuji. Kedua kelompok tersebut sama-sama menyertakan argumen-argumennya, baik naqly maupun aqly. Bagi mereka yang menganggapnya sebagai aksi bunuh diri (‘amaliyat intihariyah), maka implikasinya kepada para pelakunya ialah tidak diberlakukan hukum-hukum mati syahid, dipandang sebagai orang hina karena berputus asa dengan membunuh diri. Di akhirat, pelakunya dianggap akan masuk neraka. Sedang bagi mereka yang menganggap aksi bom bunuh diri sebagai aksi mati syahid (‘amaliyat istisyhadiyah), maka implikasinya kepada para pelakunya adalah diberlakukan hukum-hukum mati syahid. Dia dianggap sebagai pahlawan dan teladan keberanian yang patut dicontoh dan di akhirat akan masuk surga.

Pro kontra inilah yang mendorong penulis untuk memilih “human boming”  sebagai bahan refleksi dan renungan kita bersama. Mengapa serangan bom bunuh diri menjadi senjata pilihan bagi kelompok teroris, ialah karena kemampuannya yang mematikan dan menciptakan kekacauan serta ketakutan. Inilah pilihan janggal kelompok yang menamakan dirinya jihadis. Tetapi penulis tidak menyentuh aspek fiqih dalam tema ini karena ia rawan konflik, dalam arti terjadi perbedaan pendapat (ikhtilafan katsira) di kalangan ulama masa kini, antara yang membenarkan tindakan tersebut, dengan yang mengharamkannya sebagaimana telah dikupas tuntas oleh Dr. Muhammad Tha’mah Al Qadah dalam bukunya, “Al-Mughamarat bi An-Nafsi fi Al-Qital wa Hukmuha fi Al-Islam” (Aksi Bom Syahid dalam Pandangan Hukum Islam), terbitan tahun 2002. Penulis hanya menyentuh aspek ideologis dan politis dalam tulisan ini.

 

Suburnya Gerakan Ideologis

Perjalanan sejarah gerakan Islam yang panjang dan berliku-liku, ibarat air sungai yang menabrak sebuah gunung, menimbulkan dua arus yang berjalan sendiri-sendiri. Islam terbelah menjadi dua tipe utama. Pertama, gerakan radikal ideologis yang berhadapan dengan realitas. Gerakan ini mencoba mengatasi masalah umat Islam dengan cara merombak total sistem sekuler yang ada serta memimpin umat untuk menerapkan seluruh hukum (syari’at) Islam dalam negara tanpa kompromi. Kedua, gerakan Islam pragmatis yang mengakui keabsahan sistem yang ada, serta berjuang dari dalam sistem.

Bertolak dari kondisi umat Islam yang kini hidup tercerai berai, maka yang dilakukan gerakan Islam beraliran radikal atau garis keras (mutasyadidun) adalah mengubah total sistem sekuler itu, baik melakukannya melalui tanzhim (organisasi) yang dibentuk model jema’ah maupun secara underground (bawah tanah). Intinya adalah dengan mencabut legitimasi pemerintahan yang sah.

Bagi kelompok radikal ini, mereka tidak mengakui keabsahan sistem pemerintahan (sekuler) yang ada, karena menurut mereka, sistem bikinan penjajah ini hakekatnya adalah musuh Islam dan pelayan kaum penjajah. Perubahan ini harus dilakukan dari luar sistem untuk menghancurkannya, bukan dari dalam sistem seperti yang dilakukan partai-partai Islam pragmatis dengan berpartisipasi dalam kabinet dan parlemen.

Paling tidak ada 5 (lima) karakter kelompok garis keras ini yang tidak mengakui sistem pemerintah yang mereka tuduh menjadi agen Barat dan dikategorikan sebagai thaghut :

Pertama, menganut sikap radikal, yaitu bertindak bukan atas dasar fiqih al-waqi’ (fiqih yang bertolak dari fakta) dan tidak pula fiqih al-mashalih (fiqih yang mempertimbangkan kemaslahatan), melainkan atas dasar agitasi dan ideologi.

Kedua, mempunyai ide irhab (ekstrem). Mereka menyerukan Islam secara kaffah dengan menyerang apa saja yang menjadi milik pemerintah dan menganggap pemerintah yang ada tidak mempunyai legalitas dari segi syari’at. Mereka melakukan training dan rekrutmen dengan mencuci otak sehingga tampil dalam bentuk yang berbeda, mengkafirkan kaum muslimin, menghancurkan gedung-gedung, meledakkan dan membunuh semua aparatur negara karena dianggap “thaghut,” melakukan fa’i (merampok) atas harta milik negara dan orang-orang kafir.

Ketiga, mempunyai wawasan dan aksi yang hanya bersifat lokal. Mereka tidak peduli dengan persoalan umat Islam yang sedang dicekik kemiskinan, kebodohan dan kejahilan. Skala prioritas mereka adalah mencabut rasa tidak aman di kalangan rakyat agar menolak pemerintah.

Keempat, selalu berusaha menampakkan diri sebagai kelompok salafi jihady, dengan dalih Islam adalah agama yang menganjurkan peperangan dan agitasi untuk mengislamkan seluruh penduduk bumi.

Kelima, mementingkan figuritas. Mereka mempraktikkan kultus individu, karena mengedepankan figur pimpinan (qiyadah) daripada pemikiran yang serius dan produktif. Jika menghadapi masalah yang perlu keputusan, kata akhirnya bukan pada pertimbangan pemikiran, melainkan pada kehendak figur pimpinan yang dibangun melalui sistem “bai’at.”

Gerakan Islam dengan karakter-karakter ini jelas sarat dengan kekerasan dan cenderung menghalalkan agitasi dan peperangan. Gerakan Islam seperti ini pun kemudian mengagitasi umat secara ideologis dengan mengacaukan gambaran perjuangan Islam yang hakiki,  mempersulit perjuangan dengan mengusung interpretasi yang “salah” terhadap simbol-simbol Islam.

Selanjutnya, gerakan ini membuat tafsir dan persepsi sendiri yang berbeda dengan tafsir para ulama salaf, terutama berkaitan dengan konsep fa’i (harta rampasan tanpa pertempuran), ghanimah (harta rampasan melalui pertempuran).

 

Pengaruh Doktrin

Secara politis, banyak gerakan-gerakan radikal memaparkan berbagai gagasan tentang Islam secara terbuka. Keteguhan mereka untuk menerapkan syari’at Islam telah mendorong mereka untuk menolak bentuk pemerintahan negara ini (system demokrasi), karena dalam demokrasi kekuasaan di tangan rakyat yang diartikan merampas kekuasaan Allah Ta’ala.

Akhirnya, maraknya gerakan-gerakan radikal di tanah air melahirkan propaganda-propaganda dan indoktrinasi yang telah menjauhkan umat ini dari kesantunan dan kasih sayang yang menjadi sifat dasar agama ini. Selanjutnya, corak perlawanan bermigrasi, dari perlawanan terhadap Amerika dan sekutunya, menjadi perlawanan terhadap pemerintah dan penyelenggara negara. Puncak dari semua itu adalah, terjadinya bom bunuh diri saat akan dilaksanakan shalat Jumat di masjid Mapolres Cirebon, yang disusul dengan bom bunuh diri di GBIS Solo.

Dimana letak indoktrinasi dalam kejadian itu?  Perhatikan: Pelaku yang terdoktrin dengan baik, tenang, sadar, dan menarget pimpinan tertinggi di lokasi kejadian, yakni Kapolres Kota Cirebon (bom Cirebon), dan menarget umat Nasrani (bom Solo). Pelaku mengambil posisi terdekat dengan korban. Ekspresi radikal tampak pada orientasi ideologisnya, doktrin jihad yang dipakai, target aksi teror, hingga penggunaan bom bunuh diri.

Kasus ini membuat umat Islam tersentak. Lagi-lagi umat Islam diuji. Betulkah pemboman ini dilakukan mujahidin? Kalau orang mendalami fiqih jihad, tidak mungkin membom mesjid. Semilitan-militannya mujahidin, merusak mesjid dilarang. Termasuk tempat ibadah umat lain. Bisa dipastikan, ini bukan mujahidin. Kalaupun mujahidin, ini adalah mujahidin salah kaprah yang telah terkena doktrin. Karena telah didoktrin dan yakin bahwa dengan membunuh polisi (thaghut) dan orang-orang kafir dapat pahala dan masuk syurga, maka pelaku nekad meledakkan dirinya sendiri.

Sebagian gerakan Islam mewujudkan diri dalam beragam bentuk, mengacu pada radikalisme. Ia muncul karena doktrin yang menjadi watak keagamaan, dengan menanamkan kebencian pada pemerintah dan aparatur negara. Acuan ini seringkali menjadi bersifat radikal atau militan, melawan rejim penguasa sekuler, atau berjuang untuk membangun sistem kenegaraan yang didasarkan pada syari‘ah (Islam).

Perjuangan menegakkan syari’at Islam sah-sah saja dan merupakan hak setiap individu (warganegara). Tetapi melakukannya dengan cara-cara anarkis dan teror jelas bertentangan dengan sifat dasar agama ini sendiri, yang mengacu pada sumber mata air “rahmatan lil ‘alamien”.

Gerakan radikalisme agama merupakan bagian yang tak terpisahkan dari percaturan politik dewasa ini. Sebagian dari gerakan itu dengan jelas menjadikan doktrin jihad sebagai pijakan. Anehnya, doktrin itu dipraktik secara serampangan dan hanya untuk kepentingan sesaat.

Jihad memang merupakan bagian integral wacana Islam sejak masa-masa awal Islam hingga sekarang. Harus diakui, terdapat kelompok-kelompok Muslim yang menggunakan cara-cara kekerasan atas nama jihad, bahkan ada yang mengartikan jihad adalah membunuh. Kelompok radikal justru membuatnya menjadi sangat mudah diadu domba. Psikologi kaum radikal adalah psikologi orang marah. Seperti yang diketahui orang marah sangat kehilangan daya nalar kritis dan akal sehatnya, sehingga bila mereka liar akan sangat tidak terkontrol, sebaliknya juga mereka menjadi sangat mudah dihasut dan dibohongi sehingga menjadikannya sebagai pion yang sangat ideal karena akan mengikuti apa saja kemauan penyuruhnya sekaligus bisa dikorbankan dengan sangat mudah.

Gerakan jihad semacam ini tidak mendapat dukungan luas dari umat keseluruhan. Selain tidak efektif dan tidak bermanfaat, juga membuat stigma negatif terhadap umat Islam. Lihat misalnya kasus Bom Cirebon dan Solo. Hampir tidak ada dukungan dari umat Islam. Mayoritas mengecamnya. Bayangkan orang seperti Ustadz Abu Bakar Baasyir, yang dianggap sebagai teroris dan lokomotif jihad saja mengecam dan mengatakan pelakunya “gila.” Harusnya aksi jihad itu melahirkan dukungan dari umat Islam, bukan cacian.

 

Lahirnya Sel-sel Jihad

Lahirnya sel-sel jihad under ground, yang diistilah dengan jihad fardhiyah, sebenarnya bersumber dari pemikiran yang digagas oleh Abu Musab Al Suri, tokoh jihad dari Suriah. Dia mengarang buku setebal 1600an halaman berjudul Da’wah Al Muqawwammah Al Islamiyyah Al  Alamiyyah. Di dalam buku yang sebagian telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu, dia mengatakan gerakan jihad berjamah sudah ketinggalan zaman, bahkan katanya “gagal total.”  Kelemahan jihad jamaah, kata Al Suri, jika dipukul musuh bisa merusak organisasi. Misalnya penangkapan aktivis atau tokoh akan merembet dengan penangkapan tokoh lainnya.  Akibatnya, organisasi bisa lumpuh. Itu sebabnya, Abu Musab As Suri menawarkan alternatif jihad fardhiyah, yang dianggap lebih “aman”. Bila musuh berhasil memukul sel jihad, maka yang rusak hanya sel itu saja. Anggota sel yang selamat, juga mudah membuat sel jihad baru.

Gagasan jihad fardhiyah Abu Musab Al Suri inilah yang menjadi trend baru di kalangan jihadi di Indonesia yang dipelopori oleh Imam Samudra, Dr Azhari dan Noordin M. Top. Mereka secara organisatoris merupakan “sel terputus” yang tidak ada hubungannya baik dengan NII, DI/TII maupun JI. Tetapi, mereka mewarisi semangat yang sama, yaitu sama-sama ingin menegakkan syari’at Islam. Mengapa harus secara fardhiyah, kelompok kecil, dan penuh kerahasiaan?

Jawabnya adalah, pasca Bom Bali 2 terjadi penangkapan besar-besaran para tokoh JI. Penangkapan ini sampai ke akar-akarnya yang mengakibatkan JI lumpuh total. Keadaan yang sama dialami Jamaah Ansarut Tauhid (JAT) pasca pelatihan militer di Aceh pada 2010. Banyak pentolannya termasuk Abu Bakar Ba’asyir, Aman Abduurahman, Umar Patek, Abu Tholut ditangkap. Ini mengakibatkan JAT mengalami stagnasi dan melemah secara struktural. Belajar dari kesalahan ini, kelompok jihad fardhiyah eksis menjalankan aksinya. Walaupun mereka bisa juga digulung dan pemimpinnya ditangkap, namun mereka tetap bisa recovery dengan cepat. Kelompok Noordin M. Top boleh disebut memakai strategi jihad fardiyah ini, yang terus diwarisi oleh kelompok Cirebon melalui dua aksi sporadis, bom Cirebon dan Solo.

Kelompok jihad fardiyah tidak membangun struktur organisasi sebagaimana struktur jamaah jihad yang terkesan gemuk dan birokratis. Dalam lingkaran aktivis jihad fardiyah itu biasanya hanya dipimpin oleh seorang pemimpin (amir qiyadah) dengan struktur sel yang sangat kecil, di bawah 10 orang. Ini untuk menjaga kerahasiaan agar mudah mengatur strategi serangan dan menentukan target. Hubungan satu satu sel dengan lainnya dibuat terputus. Dengan struktur seperti ini para penganjur jihad fardiyah percaya keamanan gerakan mereka bisa lebih terjaga.

Hal ini membuat semakin mudahnya orang untuk berjihad. Siapa saja yang bersemangat ingin jihad bisa belajar ilmu-ilmu askary (kemiliteran) dengan mudah. Misalnya, untuk menguasai bom tidak perlu lagi pergi ke Afganistan atau Mindanao karena internet menyediakan semua fasilitas untuk itu.  Istilahnya cyber i’dad alias pelatihan militer via internet. Setelah menguasai ilmunya, dia bisa langsung jihad, karena dalam konsep jihad fardhiyah berperang satu atau dua orang juga termasuk jihad.

Kelompok ini tidak mau tahu tentang fiqh waqi (fiqh realitas), mereka tidak membaca realitas sosial politik, atau memperhitungkan manfaat dan mudaratnya. Modalnya hanya dalil syari saja. Ketika dalil syari membolehkan, mereka bergerak tanpa mempertimbangkan konteks sosial politik. Padahal pemahaman atas konteks sosial politik atau fiqh waqi ini penting sekali dan termasuk di dalam seni berpolitik di dalam Islam (as-siyasah as-syar’iyyah).

Menariknya, antara satu sel dengan sel lain tidak terhubung dan berbeda. Mereka punya strategi dan agenda perang masing-masing atau disebut dengan aksi-aksi individual, tidak melibatkan kelompok atau jemaah besar. Nah, dalam lingkup individu, indoktrinasi dalam misi bunuh diri bukan soal kematian dan pembunuhan saja tetapi mencakup banyak hal. Bom bunuh diri memiliki nilai simbolik tinggi karena kemauan pelaku meninggal menunjukkan dedikasi tinggi terhadap kelompok ataupun keyakinan mereka. Kerelaan untuk mati merupakan simbol dari perjuangan “syahid”, dukungan terhadap kaum tertindas (mustadh’afin) serta unsur ‘pembangkit’ tenaga bagi anggota baru untuk melakukan misi bunuh diri di masa depan.

Walaupun ada peneliti dan pengamat teroris menyebutkan bahwa di balik alasan kepercayaan, muncul kekuatan pendorong lain yaitu politik, unsur penghinaan, pembalasan dendam dan altruisme. Namun menurut penulis, agama dan kepercayaan memainkan peranan penting (skala prioritas) dalam merekrut dan memotivasi seseorang untuk menjalankan aksi-aksi sporadisnya. Artinya, alasan utama seseorang melakukan pengeboman bunuh diri adalah berdasar kepada kepercayaan yang dianutnya. Faktor-faktor lain, kalaupun ada, hanya menyumbang dengan persentasi yang kecil.

 

Islam Adalah Rahmatan Lil ‘alamin Bukan Ghadab (Radikalisme) dan Irhab (Terorisme)

Maraknya gerakan radikalisme dalam masyarakat Muslim secara langsung memperteguh citra lama tentang Islam bahwa pada dasarnya agama ini bersifat radikal dan intoleran. Kesan ini sulit dibantah, karena gelombang radikalisme Islam telah menjadi bagian penting dari rentetan kekisruhan politik sejak pertengahan abad ini. Meskipun demikian, sulit pula membenarkan pandangan yang umumnya tersebar dalam media massa Barat bahwa radikalisme adalah ciri inheren Islam. Karena ciri utama agama ini sebenarnya adalah rahmatan lil ‘alamien, bukan ghadhab (radikalisme) dan irhab (terorisme).

Kelompok radikal Islam memahami Islam sebagai agama yang sempurna dan lengkap, dan memberikan perhatian kepada otentisitas kulturalnya yang berbasis “khilafah.” Namun Islam bukanlah agama dalam pengertian barat, tetapi Islam adalah cara hidup yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Posisi ini berbeda dari kaum sekularis yang menolak intervensi agama dalam kehidupan publik, terutama politik. Manifestasi dari pandangan radikal adalah pada keharusan untuk mendirikan negara Islam yang didasarkan pada syari’ah. Perbedaan antara kaum radikal dan modernis adalah penegasan yang pertama terhadap keunikan Islam. Mereka dengan tegas menolak setiap usaha untuk mengidentifikasi Islam dengan demokrasi, kapitalisme, sosialisme atau ideologi barat lainnya. Hanya saja, berbeda dari Islamis atau neo-fundamentalis, radikalisme Islam memperbolehkan penggunaan cara kekerasan atau bahkan pembunuhan untuk mewujudkan agenda dan tujuan politiknya.

Islam sebabagaimana telah disebutkan datang dengan konsep rahmatan lil ‘alamin, bukan ghadhab dan irhab dalam segenap macam, bentuk dan skalanya. Sehingga semua warga Muslim menjadi hamba-hamba Allah yang saling bersaudara, saling mencintai dan saling menghargai semata karena Allah. Tidak boleh seseorang karena ambisi politik atau interpretasi yang berbeda tentang nash-nash di dalam Al-Qur’an atau hadits, lalu mengklaim bahwa pendapatnya yang benar, sementara pendapat yang berseberangan dengan pendapatnya adalah batil dan harus dijauhi. Rasulullah SAW sendiri walaupun harus berhadapan dengan kaum munafikin yang secara tegas dinyatakan di dalam Al-Qur’an ciri-cirinya, namun tidak menganiaya, menyiksa apalagi membunuh mereka, padahal secara politik Rasulullah telah sepenuhnya menjadi penguasa absolut. Ini menjadi dalil sejarah yang paling shahih tentang haramnya menumpahkan darah sesama Muslim walaupun ia teridentifikasi sebagai munafik. Siapa pula kita yang berani-beraninya mengidentifikasi seseorang itu sebagai munafik atau bukan munafik, padahal diri kita sendiri belum tentu selamat dari unsur-unsur kemunafikan.

Tetapi demikianlah, sikap radikal dan salah kaprah di dalam memahami jihad, telah melahirkan tingkahlaku yang irhab (tindakan teror) karena dipicu oleh ghadhab (radikal/rasa marah). Lihatlah, sifat-sifat ghadhab memasuki pintu-pintu hati manusia, yaitu kita menjadi bangsa yang pemarah, bahkan “sok” marah untuk menegakkan syariat Islam padahal anak bini, jiran tetangga dan masyarakat sekitar centang perenang di dalam mengamalkan Islam, yang lebih layak untuk didakwahi, bukan dimarahi, diagitasi apalagi dibom. Marah telah meratah anak-anak bangsa kita, sehingga setiap hari muncul Qabil-qabil baru, bahkan dengan teknik yang lebih canggih, yaitu mutilasi dan bom martir.

 

Kesimpulan

Kesimpulan ini menunjukkan bahwa kesalahan dalam memahami makna Islam menjadi  faktor pemicu radikalisme itu. Ia berpengaruh dalam gerakan jihadis berhaluan keras. Jadi, radikalisme yang hadir di Indonesia bukan semata-mata sebagai fenomena impor tetapi salah kaprah yang berlarutan ini menempatkan sebagian umat ini di kotak radikal. Artinya, pemanipulasian konsep jihad menjadi pendorong aksi-aksi teror mereka.

Ideologi amat keji dari orang-orang yang memahami secara salah tentang jihad, dan bangga memamerkannya, dalam sejarah, mungkin hanya komunisme dan fasisme, ideologi yang setara dalam kekejian, tujuan menghalalkan cara.

Diperlukan agenda prioritas untuk mengembalikan salah kaprah ini sehingga umat Islam bisa menjadi penyumbang terbesar terhadap kedamaian dunia yang menepati misi suci agama ini sebagai “rahmatan lil ‘alamien.”

 

Ghazali | mediaikhwan.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *