Gawat! Ternyata Banjir Jakarta Bawa Berkah Bagi Partai dan Tokoh Politik

hidayat-nur-wahid-terjang-banjir-250x205

Banjir di musim hujan telah identik dengan Jakarta bahkan menjadi momok yang menakutkan. Banjir ekstrem yang melanda Jakarta sangat situasional. Jadi situasinya benar-benar situasional sekali karena titik banjir berubah-ubah selain daya serap air dan curah hujan di mana-mana dan ada kiriman dari Bogor.

Namun dibalik banjir Jakarta yang ekstrem itu, ada sebuah fenomena yang menarik untuk diamati yang sedang melanda ibukota dan b

eberapa daerah lain di negeri kita. Lebih fokus lagi dapat disebutkan bahwa ini berkaitan dengan “banjir kampanye” di sela-sela banjir betulan. Lebih spesifik lagi bisa disebutkan “banjir janji” di sela-sela banjir air yang menggenangi Jakarta. Apalagi kalau bukan “janji politik” dari partai-partai dan tokoh-tokoh politik yang berdesakan ikut blusukan ke genangan air yang membasahi Jakarta.
Sebenarnya dapat dikatakan bahwa sudah menjadi kebiasaan partai-partai dan tokoh-tokoh politik untuk “menangguk di air keruh” dalam setiap musibah yang melanda negeri ini. Apalagi tahun 2014 adalah tahun “akumulasi konflik” dimana partai-partai dan tokoh-tokoh politik turun ke gelanggang untuk memperebutkan “kursi” panas di parlemen dan eksekutif. Jika saja bumi ini bisa bicara, maka mulai dari Nangroe Aceh hingga tanah Papua pastilah menjadi saksi dari apa yang telah mereka “obralkan” untuk masyarakat.
Berjanji ataupun “obral janji” baik di musim kampanye ataupun tidak, sebenarnya adalah satu talian atau ikatan kontrak yang perlu dipatuhi. Jangan pandang kata-kata yang telah kita lontar sebagai janji dengan sebelah mata. Jika janji kita dustai, itu akan menjadi gergaji dua mata. Bakal menyakitkan perasaan dan hati orang lain dan juga bakal menjatuhkan harga diri kita sendiri. Singkirkan minda dari paradigma lagu tak betul, “Janji Tinggal Janji.”
Tetapi karakter partai-partai dan tokoh-tokoh politik di negeri ini bagaikan “gangster”, jadi mana ada istilah “menepati janji”. Maklum, janji politik. Singkat cerita, “pasih di mulut, manis di bibir dengan bertopeng kejujuran, topi haji dan komat-kamit tasbih macam mantera Eyang Subur yang sudah tidak laku.”
(Ghozali/Mediaikhwan.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *