Announcement: Islam Mengharamkan Kebencian Dan Permusuhan

Propaganda “membenci orang-orang kafir”, yang disuarakan oleh berbagai elemen ormas Islam radikal akhir-akhir, sejatinya tidak mencerminkan ajaran (syari’ah) Islam karena mudaratnya lebih banyak daripada manfaatnya. Propaganda tersebut seolah-olah ingin menampilkan Islam sebagai “agama kekerasan” dan agama “balas dendam” terhadap umat beragama lain. Padahal Rasulullah saw telah mencontohkan perilaku yang terkenal di seluruh dunia ketika menaklukkan Mekah (Futh Makkah) dengan kata-katanya, “Hari ini adalah hari perdamaian, hari kasih sayang…siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan (salah satu pemimpin kafir Quraisy) maka dia selamat…”
Tindakan Rasulullah tersebut, yang dicatat oleh sejarah sebagai tindakan paling beradab dan terhormat, telah menaikkan reputasi umat Islam menjadi umat yang dihargai di seluruh dunia. Sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa Islam “nonviolence” (antikekerasan). Lihatlah, bagaimana Rasulullah memaafkan musuh-musuhnya di hari dimana musuh-musuh tersebut bertekuk lutut, dan membiarkan mereka berlalu tanpa disakiti sedikitpun. Padahal masih segar dalam ingatan kaum muslimin pada waktu itu bagaimana selama 13 tahun Nabi dan umat Islam ditindas, diintimasi, diteror, diusir bahkan dibunuh. Namun luar biasa, Rasulullah dan kaum muslimin membalasnya dengan kasih sayang, dengan akhlak yang indah, penuh sopan santun dan hormat.
Tetapi hari ini, lihatlah umat ini telah semakin jauh dari ajaran (syari’ah) Islam yang sebenarnya. Kekerasan, propaganda dan agitasi memenuhi ruangan dan rongga-rongga pemikiran sebagian umat Islam yang berpahaman radikal. Mereka memamerkan Islam sebagai agama “violence” (kekerasan) dan menantang umat-umat dari agama lain untuk berperang. Satu sikap yang tidak pernah dipraktekkan oleh Rasulullah dan kaum Muslimin dalam sejarah awal berkembangnya Islam.
Ajakan jihad untuk membunuh Myanmar Buddha misalnya, menunjukkan seolah-olah Islam adalah agama kekerasan dan perang. Sikap sebagian ormas-ormas radikal yang memprovokasi untuk berperang melawan Myanmar Buddha hanya melahirkan segelintir umat yang berpikir dan bertindak dengan kekerasan, dan anarkis. Sikap ormas-ormas radikal tersebut justru bertentangan dengan ajaran suci Islam. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa ada agenda politik tertentu yang ingin dikejar oleh ormas-ormas radikal itu. Setidak-tidaknya, arogansi mereka semakin memperburuk citra Islam di mata dunia.
(Ghozali/Mediaikhwan)
16

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *