Islam Tanpa Teror, Inspirasi Dari Maulid Nabi Muhammad saw

ISLAM TANPA TEROR, Inspirasi dari maulid nabi

Seorang bayi yang diberi nama Muhammad —terpuji di bumi, tersanjung di langit— terlahir ke dunia dari celah-celah Lembah Mekah yang gersang. Ia lahir pada 12 Rabi’ul Awal, 14 abad silam. Sejarah menorah tintas emas tatkala bayi mulia itu diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul akhir zaman untuk menyempurnakan perilaku mulia manusia. Tatkala manusia sebagai makhluk beradab berada di ambang kehancuran. Sungguh, kelahiran dan terutusnya beliau adalah rahmat bagi alam semesta. Allah SWT berfirman:

 “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ 107)

Selain sebagai ekspresi rasa syukur atas kelahiran Rasulullah SAW, substansi dari peringatan Maulid Nabi adalah mengukuhkan komitmen pada ajaran beliau yang merupakan rahmatan lil alamien. Setidaknya, ini terwujud dengan tiga hal.

Pertama, meneguhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW. Bagi seorang mukmin, kecintaan terhadap Rasulullah SAW adalah sebuah keniscayaan, sebagai konsekuensi dari keimanan.

Kedua, meneladani perilaku dan perbuatan mulia Rasulullah SAW dalam setiap gerak kehidupan kita. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Kita tanamkan keteladanan Rasul ini dalam keseharian kita, mulai hal terkecil, hingga paling besar, mulai kehidupan duniawi, hingga urusan akhirat. Kita teladani sikap beliau yang menyayangi sesama manusia, bahkan hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Ketiga, melestarikan ajaran dan misi perjuangan Rasulullah SAW. Sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhir, Rasul meninggalkan pesan kepada umat yang amat dicintainya ini. Beliau bersabda :

 “Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya sallallahu alaihi wa sallam” (HR. Malik).

Artinya, inspirasi dari Maulid Nabi Muhammad SAW ini ialah “akhlak”, dimana umat Islam telah menyeleweng jauh dari contoh keagungan kepribadian Nabi. Padahal Allah berfirman,“Sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung!” (QS. Al-Qalam: 4)

Mari kita lihat pada diri istri Nabi Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sehari-hari, Aisyah hanya menjawab, “Ah semua perilakunya indah belaka.” Ketika didesak lagi, Isteri Nabi yang sering disapa Khumairah oleh Nabi ini hanya menjawab, “khuluquhu al-Qur’an” (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Qur’an berjalan.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Ada sahabat yang merasakan, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi tersebut.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul yang mulia.

Lihatlah indahnya akhlak Nabi dalam peristiwa lain. Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat, “Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!” Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, engkau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.” Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu.

Singkat cerita, Rasul akhirnya memberikan tongkatnya pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi seraya berkata, “Lakukanlah!”

Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, “Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah”. Seketika itu juga terdengar ucapan, “Allahu Akbar” berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau beliau tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi ke hadirat-Nya.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis (bangkrut) di akhirat. Na’udzu billah.

Peristiwa itu sudah lewat ratusan tahun lalu. Tetapi lewat Maulid Nabi SAW ini kita diingatkan, sekecil apapun tindakan buruk kita kepada orang lain, tetap akan dihisab di hari akhirat. Karena itu jangan pernah menebarkan teror dan rasa takut kepada siapapun, karena selain hal itu bertentangan dengan ajaran Islam, perbuatan itu juga akan diperhitungkan oleh Allah SWT di hari akhirat!

(Ghozali/Mediaikhwan.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *