Jihad Bil Hikmah Ala Ustadz Jefri Al-Buchari (Uje)

Ustadz kondang yang dicintai umat itu telah kembali ke pangkuan Ilahi, Jum’at, 26 April 2013. Jutaan umat Islam menangisi kepergiannya. Mengenang dakwahnya yang inspiratif dan menyentuh. Menyanjung akhlak dan budi pekertinya yang santun, pemurah, bijaksana, dan menginspirasi banyak orang untuk menjadi muslim yang menepati sifat-sifat muslim sejati, yaitu “rahmatan lil ‘alamien.”

Laki-laki 40 tahun itu telah mengakhiri dunia ini dengan jihadnya yang agung: dakwah bil hikmah, yaitu menyampaikan dakwah dengan cara yang arif bijaksana, melakukan pendekatan actual dan update sehingga dakwahnya diterima semua kalangan, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Seperti inilah seharusnya seorang Mujahid melakukan dakwah, yaitu menerapkan suatu metode pendekatan komunikasi dakwah yang dilakukan atas dasar persuasive.

Bila kita menilik kembali ke sirah nabawiyah, Muhammad kecil sudah disiapkan dengan berbagai tempaan yang membuat dirinya matang dan bijaksana. Dimulai sejak beliau kehilangan orang tuanya, dimana beliau sudah disiapkan oleh Allah agar mandiri. Lalu beliau membantu pamannya berdagang di usia muda yang membuat beliau cakap dan mampu berkomunikasi dengan baik dengan sesama, serta memberikan citra bahwa Nabi Muhammad adalah memang seorang yang bisa di percaya.  Hingga pada akhirnya, di usia yang masih muda, beliau sudah diberikan gelar al amin oleh kaum Quraisy Mekkah. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Al Ahzab ayat 21:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Allah menyiapkan Rasul terakhirnya untuk bisa di jadikan teladan. Dijauhkan dari segala hal yang bisa merusak dirinya maupun umat. Akan tetapi, pun sudah menjadi sosok al amin di masyarakat kota Mekkah. Nabi Muhammad tidak serta merta mudah dalam melakukan dakwah Islam. Penolakan pun sangat banyak, yang hingga memaksa beliau memindahkan basis dakwahnya ke Madinah. Dalam surat Al Qalam ayat 3 dan 4 pun Allah menyampaikan firmannya tentang keindahan teladan Rasulullah:

 

“Dan sesungguhnya bagi kamu (Muhammad) benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.

Artinya, dakwah bil  hikmah adalah dakwah dengan keteladanan. Dengan konsep sederhana, yakni menjadi yang terbaik di hadapan umat. Dengan kekuatan keteladanan  ini, objek dakwah akan percaya kepada ulama atau ustadz yang menyampaikan, dan dengan modal kepercayaan ini, sang ustadz akan lebih mudah pula menyampaikan nilai-nilai Islam. Karena jika kita tidak bisa memberikan keteladanan yang baik, maka objek dakwah pun akan menjadi ragu untuk mengikuti ajakan dan pesan Islam yang disampaikan.

Model dakwah bil hikmah dengan teladan inilah yang telah dilakukan oleh ustad Jefri Al-Buchori, sehingga beliau dikenal sebagai “Ustadz Gaul” yang fenomenal. Sebuah dakwah dan sekaligus jihad yang indah, penuh kedamaian, tanpa sedikitpun unsur paksaan, jauh dari kekerasan dan konflik.

Kita merindukan lebih banyak lahirnya Ustadz-ustadz ala Jefri Al-Buchori, agar imej Islam yang telah ternodai oleh segelintir umat yang melakukan kekerasan, intimidasi dan terror atas nama Islam, bisa dipulihkan kembali. Dan akhirnya, Islam benar-benar hadis sebagai penyelamat umat dan kemanusiaan, meninggikan harkat dan martabat manusia, serta melindungi hak asasi dan kemerdekaan!

(Ghazali/Mediaikhwan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *