JIHAD MENURUT SAYYID QUTB

Dakwah & Amar Ma’ruf Jika Umat Islam Tidak Diperangi

Sayyid Qutb, pengarang tafsir Fi dzilali al Qur’an dan buku Ma’alim fit thariq menentang keras pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa jihad bersifat defensif. Qutb menekankan bahwa jihad fisik itu dilakukan bila dakwah Islam dirintangi. Bila dakwah atau jihad dengan lisan tidak dirintangi, maka jihad dengan lisan itulah yang dilakukan. Jihad dengan lisan dan penjelasan akan mudah dilakukan jika saja antara manusia dan dakwah ini tidak ada aral yang merintanginya, kebebasan dakwah terjamin dan merekapun terlepas dari tekanan eksternal.

 Qutb melanjutkan bahwa pada periode Mekah hingga periode awal hijrah ke Madinah, kaum muslimin tidak diperintahkan untuk berperang. Mereka hanya diperintahkan, “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikan shalat dan tunaikan zakat” (An-nisa’ 77).

Tidak diizinkannya berperang pada periode Mekah ini, menurutQutb, ada beberapa kemungkinan sebab: telah terjaminnya kebebasaan berdakwah di Mekah, fase Mekah adalah fase pendidikan dan persiapan serta untuk menghindari peperangan di setiap rumah karena antara keluarga di Mekah masih banyak yang belum Islam. Kemudian Allah mengizinkan perang dalam firman-Nya:

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. dansesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa’(QS. Al Hajj: 39-40)

Kemudian Allah mewajibkan peperangan terhadap orang-orang yang memerangi mereka saja,“dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu…” (Al-Baqarah 190).

Setelah itu Allah memerintahkan untuk memerangi orang-orang musyrik semuanya, “dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semua..” (At-Taubah: 36)

Dikatakan pada mereka:

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”

Sayyid Qutb mengatakan bahwa peperangan dalam Islam mengalami perkembangan yang menarik: pertama diharamkan, lalu diizinkan, lalu diperintahkan hanya untuk orang-orang yang memulai peperangan, kemudian terakhir diperintahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrik yang ada.

Sayyid Qutb juga membantah kaidah pergerakan Islam dan Jihad, sifatnya mempertahankan diri ( ad difa’). Menurutnya orang-orang yang menyandarkan pada alasan-alasan yang sifatnya pertahanan bagi perluasan pergerakan Islam adalah orang-orang yang terpedaya pada serangan orientalis.

Jihad yang tidak defensif itu, merupakan landasan bagi pemuliaan manusia di muka bumi. Untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada hamba menuju penghambaan pada Allah.

Selanjutnya Qutb mengatakan : “ Tidak ada diantara mereka yang berkata , saat mereka bertanya kenapa mereka berperang: “ kami keluar untuk mempertahankan negeri kami dari ancaman musuh!” atau kami keluar untuk menghalau musuh-musuh kami dari bangsa Persia dan Romawi,” atau “ kami keluar untuk memperluas daerah kami dan mengeruk rampasan yang banyak.”

Mereka berkata, “Allah mengutus kami agar kami mengeluarkan orang-orang yang Dia kehendaki dari penghambaan hamba kepada penghambaan Allah semata. Dari kesempitan dunia menuju keluasannya. Dari kelaliman agama-agama lain, menuju keadilan agama Islam. Lalu ia mengutus utusannya dengan agama untuk makhluknya. Barang siapa yang menyambut kami, kami akan sambut baik-baik, kami biarkan, tidak akan kami ganggu di tanahnya.” (Ghozali)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *