Jihad Yang Kebablasan Melahirkan Aksi-Aksi Teroris

Aksi-aksi terorisme bukan semakin minimalis, justru semakin berpusing seperti “gasingan” dimana pusarannya semakin membesar. Penggerebekan teroris di Bandung (Jawab Barat), Kebumen (Jawa Tengah) dan Lampung dalam waktu yang hampir bersamaan, menunjukkan showterorisme semakin bertaji. Bahkan di Bandung sampai delapan jam bertarung dengan Densus 88. Prestasi teror yang tentunya bisa mengalahkan Noorden M Top dan Dr. Azhari, bahkan bomber Bali.

Pertanyaan tunggalnya yang juga banyak menghiasi media-media arus perdana ialah: Mengapa teroris tidak habis? Mengapa geliatnya bagaikan monster yang menakutkan, bahkan mereka mampu membunuh aparat bersenjata seperti di Poso beberapa waktu lalu, atau berani adu senjata seperti di Bandung beberapa hari lalu?

Pertanyaan ini tentunya sangat mudah dijawab: Selama doktrin jihad yang salah kaprah bebas berselancar di tanah air, baik melalui dakwah langsung maupun lewat media-media sosial dan cetak, maka selama itulah geliat jihad seperti Belalang Kadung yang tidak pernah menutup matanya. Artinya, “Lek-lekan jihad”, atau jihad sepanjang umur, akan terus menjadi menu utama di kalangan umat yang berpahaman radikal. Apalagi “mentor-mentor” jihad bebas berkeliaran dan tidak ada undang-undang yang bisa menjerat atau menahan mereka. Racun-racun yang mereka tebarkan seolah-olah benih di tanah yang subur, mendapat siraman yang cukup dan vitamin dari lanskap politik reformasi yang menjamin kebebasan bersuara, berorganisasi dan berpolitik, termasuk beragitasi dan berideologi!

Lebih tegasnya, negara telah kalah dengan euforia ideologis yang berkembang pesat. Yang bisa dicegah barangkali hanyalah aksi-aksi terorisme, itu pun jika secara dini bisa terendus. Selanjutnya, benih-benis teroris bercambah dengan pesat, karena tidak ada upaya dialogis yang bersifat ideologis. Perang melawan teroris sering hanya bersifat penindakan atau operasi ala militer. Pencegahan melalui upaya-upaya yang dilakukan oleh BNPT selama ini mengalami stagnasi bahkan gagal, sering pula salah sasaran. Misalnya, kebijasakan deradikalisasi hanya berpusat di kubu moderat, tidak menyentuh ke kubu radikal yang merupakan basis atau mengeramnya para teroris.

Lebih jauh, pemahaman atau tafsir jihad yang salah mendapat tempat yang seluas-luasnya seiring dengan semangat reformasi yang bergulir bak tsunami. MUI sebagai lembaga resmi negara mengalami kemandulan dan kehilangan taring, tidak mampu berhadapan dengan kubu radikal, tidak punya nyali dan kekuatan. Nyaris MUI telah kehilangan eksistensinya, kecuali hanya sekedar tukang label “Halal” untuk produk barang.

Lecensi untuk penafsiran jihad diberikan langsung oleh mentor-mentor jihad yang bergerilya di lapangan dakwah, karena MUI telah kehilangan jati dirinya sebagai lembaga resmi keagamaan yang seharusnya bisa mengontrol fatwa-fatwa sesat yang berkeliaran dengan bebasnya di tengah-tengah umat, termasuk fatwa jihad yang salah.

Selain membanjirnya mentor-mentor jihad bak air bah, muncul ormas-ormas radikal yang membelakangi dan meminggirkan peran MUI. Dari sinilah proses brainwash atau cuci otak itu tumbuh bak jamur di musim hujan, sehingga diprediksi ada jutaan generasi muda Islam yang telah teracuni dengan ideology radikal. Bagaikan puncak gunung es, tinggal menunggu meleleh. Akhirnya, hanya operasi penindakan yang bisa diandalkan. Sedangkan design pencegahan tidak berfungsi sama sekali.

Sekilas Meluruskan Pemahama Jihad Yang Kebablasan

Syaikh Yusuf Qaradhawi dalam bukunya “Fiqhul Jihad”  berpendapat  bahwa jihad mempunyai makna yang lebih luas daripada peperangan (al-qital), meskipun kata beliau, fiqih memahami jihad dengan peperangan.

Beliau mengemukakan berbagai definisi jihad yang diberikan para ulama. Beliau lebih memilih jihad yang didefinisikan sebagai pengerahan usaha dan kemampuan di jalan Allah dengan nyawa, harta, pikiran, lisan, pasukan, dan lain sebagainya. Menurut beliau definisi ini yang lebih tepat karena mencakup seluruh jenis jihad yang diterangkan al-Qur’an dan Sunnah.

Dengan mengutip pendapat Ibnu Taimiyah beliau memberikan isyarat bahwa jihad mencakup aktivitas hati berupa niat dan keteguhan, aktivitas lisan berupa dakwah dan penjelasan, aktivitas akal berupa pemikiran dan ide, serta aktivitas tubuh berupa perang dan lain sebagainya.

Beliau membagi jenis jihad menjadi empat:

1. Jihad Militer: Jihad Perlawanan dan Jihad Penyerangan

2. Jihad Spiritual 

3. Jihad Dakwah

4. Jihad Sipil (al-Jihad al-Madani). Jihad sipil ini mencakup Jihad Ilmu, Jihad Sosial, Jihad Ekonomi, Jihad Pengajaran, Jihad Kesehatan, dan jihad lainnya.

Mengingat dan menimbang betapa kronisnya kesalahan di dalam memahami makna jihad saat ini, sudah saatnya seluruh komponen umat Islam terutama para pemimpin dan ulama untuk mensosialisasikan “gerakan jihad yang beradab” sebagai gaya hidup kaum Muslimin, yaitu jihad dalam pengertian yang komplit, bukan sepotong-sepotong sebagaimana yang dipropagandakan oleh sebagian kalangan radikal.

Berdasarkan makna, definisi, konsep dan cakupan jihad sebagaimana yang dijelaskan secara gamblang dan komprehensif oleh Syaikh Yusuf Qaradhawi dalam bukunya tersebut, dapat kita simpulkan jika jihad benar-benar dan sungguh-sungguh diterapkan oleh umat Islam akan mampu menyelesaikan problematika umat Islam kontemporer, termasuk memotong mata rantai terorisme yang tidak pernah diajarkan sedikitpun di dalam ajaran Islam. Selain, tentunya, bisa membersihkan pemahaman jihad yang telah terinfiltrasi oleh pemikiran radikal yang berafiliasi kepada jihad global yang dipelopori oleh Al-Qaeda di Timur Tengah.

(Ghozali/Mediaikhwan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *