Jihad Yang Sesuai Dengan Fitrah Kemanusiaan

Teror (irhaby) berbeda dengan jihad. Terorisme juga bukan menjadi bagian dari jihadisme. Masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda, walaupun kebanyakan orang masih menyalahpahami dengan menyamakan antara keduanya. Lewat penelusuran ayat-ayat al-Qur’an dapat diketahui bahwa tindakan terorisme melanggar ketentuan syari’at Islam, baik dilakukan oleh perorangan, kelompok, maupun negara. Tindakan teror tidak bisa dibenarkan dengan motif apapun termasuk jihad fi sabilillah. Jihad mempunyai tujuan mulia dan harus dikerjakan dengan cara-cara mulia dan beradab.

Namun kini jihad menjadi bahasa populer yang rawan disalahgunakan, dimana setiap orang seolah-olah mendapat lecensi untuk menafsirkannya sesuai kepentingannya. Padahal Indonesia bukanlah tempat yang tepat untuk melakukan teror karena Indonesia kawasan aman. Mereka yang memilih melakukannya hari ini dianggap isti’jal atau tergesa-gesa. Langkah mereka dianggap justru kontraproduktif terhadap dakwah.

Akibat terjadinya kesalahpahaman dalam memaknai jihad sebagai perjuangan fisik atau perlawanan bersenjata, mengakibatkan munculnya radikalisme yang melahirkan perbuatan-perbuatan ekstrim. Aksi terorisme yang selama ini terjadi bukanlah jihad. Setiap muslim memang dianjurkan untuk berjihad, namun jangan diartikan hal tersebut sebagai gesekan fisik.

Jihad itu bukanlah teror dan teror bukanlah jihad. Jihad bukanlah terorisme seperti yang didengung-dengungkan Barat. Tidak ada satu ayat pun dalam al-Qur’an yang mengajarkan terorisme. Bahkan Islam sangat melarang terhadap perilaku yang menyakiti dan meneror orang lain.

Sebenarnya mengidentikkan terorisme dengan Islam adalah fitnah besar, apalagi jika makna teror diartikan sebagai serangan tanpa pandang bulu. Islam justru datang mengajarkan adab-adab dalam berperang ketika konflik senjata/fisik sudah tidak dapat dihindari. Beberapa literatur fiqih menunjukkan betapa Islam mengajarkan larangan merusak hal-hal yang sama sekali tidak terkait dengan peperangan, melarang pembunuhan orang-orang yang tak berdaya (para tawanan, anak-anak, wanita, dan orang tua). Ia juga membatasi sasaran-sasaran perang, bahkan cara melumpuhkan dan membunuh lawan, hingga perlakuan terhadap harta rampasan perang serta tawanan pun sudah ada ketentuannya.

Al-Qur’an mempersonifikasikan wujud seseorang di hadapan Allah dan masyarakat dengan menggunakan kata nafs. Kalau demikian, tidak meleset jika kata itu dalam konteks jihad dipahami dalam arti totalitas manusia, sehingga kata nafs mencakup nyawa, emosi, pengetahuan, tenaga, pikiran, walhasil totalitas manusia, bahkan waktu dan tempat, karena manusia tidak dapat memisahkan diri dari keduanya.

Jihad adalah berjuang tiada henti dengan mencurahkan segala yang dimilikinya hingga tercapai apa yang diperjuangkannya, perjuangan dengan harta, atau apapun yang dimiliki, dengan niat melakukan di jalan Allah yang mengantar kepada ridha-Nya. Jihad atau peperangan yang diizinkan al-Quran hanya untuk menghindari terjadinya penganiayaan: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al- Baqarah: 190)

“Melampau batas” dijelaskan oleh Nabi shallallahu alaihi wassalam dengan membunuh wanita, anak kecil, dan orang tua. Bahkan oleh al-Quran salah satu pengertian jihad (qital) adalah tidak mendadak melakukan penyerangan. Malahan Al-Qur’an menegaskan, sebelum terjadi keadaan perang dengan pihak lain – jika sebelumnya ada perjanjian perdamaian dengan suatu kelompok – perjanjian harus dinyatakan pembatalannya secara tegas terlebih dahulu. Al-Quran menegaskan:

“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. al- Anfal: 58)

Perlu disadari bahwa izin memerangi orang kafir bukan karena kekufuran atau keenggangan mereka memeluk Islam, tetapi karena penganiayaan yang mereka lakukan terhadap hak asasi manusia untuk memeluk agama yang dipercayainya. Peperangan pada hakikatnya tidak dikehendaki oleh Islam. Seseorang yang telah dihiasi iman akan membencinya (QS. al- Baqarah (2): 216). Jadi sikap al-Quran terhadap peperangan adalah upaya menghindarinya (QS. al-Anfal(8): 61).

Berdasarkan dalil-dalil dan keterangantersebut dapat dipahami bahwa pada dasarnya umat Islam dilarang mencari musuh, selama gerak dakwah Islamiyah dalam situasi aman atau tidak diperangi. Perbuatan teror dengan dalih jihad dan penuh harapan ingin mendapatkan predikat syahid fi sabilillah, hanyalah mencoreng kesucian Islam. Dengan demikian, tidaklah benar bahwa konsep jihad dalam al-Quran sama dengan teroris, sebab tidak dibenarkan adanya jihad yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan.

-       Ghozali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *