Menangkal Benih terorisme

Tertangkapnya sekitar 20-an orang terduga teroris baru-baru ini dimana beberapa orang diantaranya tewas dalam penggerebekan dan baku tembak menunjukkan perang terhadap terorisme belum menyentuh akar persoalan. Sudah ratusan orang yang terlibat jaringan terorisme diringkus polisi, tapi tindakan represif belum membuat aksi radikal menurun apalagi menghilang. Kita masih menghadapi pekerjaan besar untuk menumpas benih-benih kegiatan berbahaya ini.

Aksi-aksi terorisme biasanya melibatkan jaringan dan sel yang kuat. Ini jelas merisaukan karena menggambarkan masih hidupnya kegiatan terorisme. Kegiatan radikalisasi melalui indoktrinasi berjalan dengan bebas, untuk merekrut dan membujuk seseorang agar bersedia terlibat dalam aktivitas jihad, bahkan sampai merelakan nyawanya.

Membongkar jaringan yang terlibat dalam aksi-aksi terorisme mesti dilakukan secara masif. Publik perlu memberikan dukungan penuh kepada kepolisian karena sekarang mereka jadi sasaran teror. Pemerintah bersama masyarakat masih perlu menggencarkan gerakan melawan segala hal yang berhubungan dengan terorisme, dari ajaran sampai kegiatan mereka.

Namun terorisme akan terus muncul jika ideologi radikal masih dibiarkan bersemi di masyarakat. Para penganut radikalisme ini meyakini paham merekalah yang paling benar. Di Indonesia, radikalisme acap dilekatkan dengan gerakan Islam karena pelaku yang sudah tertangkap kerap mengklaim aktivitasnya sebagai sebuah jihad.

Deradikalisasi yang tepat dan sistematis perlu dilakukan guna mencegah tumbuhnya ideologi ekstrem yang menabrak segala aturan masyarakat maupun negara itu. Gerakan antiterorisme ini juga bertujuan menebarkan keyakinan bahwa agama mana pun tak membenarkan aksi kekerasan dalam mencapai tujuan.

Tak sedikit narapidana kasus terorisme ini akan kembali beraksi begitu bebas. Di luar penjara, jaringan terorisme terus giat melakukan rekrutmen anggota baru, kebanyakan di antaranya dari kaum muda. Tertangkapnya enam remaja di Klaten yang berusia di bawah 20 tahun dalam kasus terorisme Januari lalu merupakan salah satu bukti. Data juga menunjukkan, di antara 500-an tersangka teroris yang ditangkap oleh Densus 88, sekitar 80 persen adalah kaum muda.

Penyemaian benih-benih radikalisme biasanya dilakukan secara sistematis, halus, dan tertutup. Aktivitas semacam ini mesti dilawan seluruh elemen masyarakat, seperti pengajar agama, guru, dan setiap keluarga. Masyarakatlah yang paling awal tahu setiap kejanggalan yang muncul di lingkungannya–termasuk yang muncul di kalangan pemuda. Tak perlu mencari jauh-jauh, benih-benih terorisme itu sangat mungkin berada di sekitar kita.

(Ghozali/Mediaikhwan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *