Announcement: Mengapa Doa Anda Tidak Dikabulkan?

gambar untuk DOA HARIAN

Hebatnya kekuatan doa diibaratkan sebuah martel yang dipukulkan ke besi yang bengkok. Pukulan yang bertubi-tubi membuat besi itu menjadi lurus kembali.

Umar bin Khaththab ra pernah ditanya, apakah doa tidak menyalahi takdir? Si penanya mungkin berfikir, Allah swt telah menjadikan segala sesuatu yang hidup, bergerak maupun mati, semuanya telah ditetapkan dan tertulis di Luh Mahfuz. Mana mungkin ketetapan Allah itu berubah-rubah berdasarkan selera dan keinginan (doa) manusia.
Umar menjawab, “doa itu adalah “keluar” dari takdir untuk kemudian “masuk” ke dalam takdir berikutnya.”
Dari Tsauban berkata bahawa telah bersabda Rasulullah saw:  “Tidaklah ada sesuatu pun yang dapat menolak takdir melainkan doa” (hadith Shahih riwayat Ibn hibban dalam sahihnya disepakati oleh adz-Dzahabi).
Hal ni sesuai dengan firman Allah swt:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada-mu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apa-bila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Al-Baqarah {2}: 186)
Terkabulnya doa itulah takdir, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, yaitu kita memenuhi perintah-Nya dan beriman kepada-Nya.
Makhluk yang paling dekat (muqarrabin) dengan Allah adalah para Malaikat, yang paling mengetahui (‘alim) tentang perintah dan larangan Allah. Kalau berdoa itu bertentangan dengan takdir, tentulah mereka tidak akan menyelisihi ketentuan Allah itu. Ternyata, malahan mereka berdoa, berzikir dan bertasbih terus menerus kepada Allah ‘Azza wa Jalla, padahal telah tsabit kedudukan mereka sebagai makhluk yang “ma’sum” (suci tanpa dosa).
Termasuk, mereka juga mendoakan orang-orang beriman di bumi dan memohonkan ampunan sebagaimana doa para malaikat pemikul ‘Arsy berikut ini:

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertas-bih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) keja-hatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar” (Al-Mu’min {40}: 7-9)
Doa para malaikat untuk orang-orang beriman di bumi membuktikan besarnya fadhilat (keutamaan) berdoa, sampai- sampai langit hampir pecah disebabkan kuatnya signal doa yang online ke langit seperti disebutkan dalam ayat:
“Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atas (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memo-honkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Penyayang” (Asy-Syuura {42}: 5)
Dahsyatnya kekuatan doa itu dibuktikan dengan ucapan Nabi saw, “Doa yang benar dari orang yang bertaubat bisa memindahkan sebuah gunung” (Ash-Shahihain).
Tidak ada sebuah pun tiang yang paling kokoh dan raksasa di bumi melainkan gunung yang menjadi penyangga bumi ini agar tidak oleng. Tetapi itu bisa dipindahkan hanya dengan sebuah doa yang benar.
Doa yang benar? Ya, ada banyak doa yang dilafazhkan kaum muslimin setiap hari. Semua doa itu dihafal dan diucapkan, baik secara berjemaah maupun sendiri-sendiri, mulai dari rumah, mesjid, lapangan, hingga di jalan-jalan. Pokoknya, hampir semua orang berdoa dengan doanya masing-masing.
Tetapi lihatlah, berapa persen dari jutaan doa yang berkumandang itu, dikabulkan Allah? Ada “doa akbar” (zikir akbar) yang bertebaran di tanah air, ada jutaan umat yang menadahkan tangannya memohon kepada Allah, ada ribuan alim ulama yang berdoa agar negeri ini jauh dari musibah dan bencana.
Apa yang terjadi kemudian? Musibah dan bencana terus meratah negeri ini tanpa kenal ampun. Kemaksiatan dan kemungkaran terus subur bak cendawan di musim hujan, tanpa dapat dicegah. Korupsi-korupsi “gendut” merajalela dan terus mewariskan kemiskinan dari generasi ke generasi. Video-video porno, selingkuh dan free seks malah menjadi trend anak-anak bangsa.
Mengapa semua ini terjadi? Mengapa semua doa tidak dikabulkan? Apakah Allah “pelit” sekali untuk hanya sekedar mengabulkan doa hamba-hamba-Nya? Dimana silapnya sampai doa seolah-olah putus signal dengan Allah ‘Azza wa Jalla? Adakah sesuatu yang salah di dalam doa? Apakah manusianya yang tidak ikhlas dalam berdoa? Atau, syarat dan ketentuan yang berlaku untuk suatu doa masih belum diapplikasi dengan benar?
Sudah begitu lama, ingin agar harapan segera terwujud. Beberapa waktu terus menanti dan menanti, namun tak juga impian itu datang, tak juga doa dikabulkan. Kadang jadi putus asa karena sudah seringkali memohon pada Allah. Sikap seorang muslim adalah tetap terus berdoa karena Allah begitu dekat pada orang yang berdoa. Boleh jadi terkabulnya doa tersebut tertunda. Boleh jadi pula Allah mengganti permintaan tadi dengan yang lainnya dan pasti pilihan Allah adalah yang terbaik.
Ayat yang patut direnungkan adalah firman Allah Ta’ala,
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al Baqarah {2}: 186)
Sebagian sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat sehingga kami cukup bersuara lirih ketika berdoa ataukah Rabb kami itu jauh sehingga kami menyerunya dengan suara keras?” Lantas Allah Ta’ala menurunkan ayat di atas.
Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah berkata, “Kedekatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kedekatan Allah pada orang yang berdoa (kedekatan yang sifatnya khusus).”
Perlu diketahui bahwa kedekatan Allah itu ada dua macam: Kedekatan Allah yang umum dengan ilmu-Nya, ini berlaku pada setiap makhluk. Kedekatan Allah yang khusus pada hamba-Nya dan seorang muslim yang berdoa pada-Nya, yaitu Allah akan mengijabahi (mengabulkan) doanya, menolongnya dan memberi taufik padanya.
Kedekatan Allah pada orang yang berdoa adalah kedekatan yang khusus – pada macam yang kedua – (bukan kedekatan yang sifatnya umum pada setiap orang). Allah begitu dekat pada orang yang berdoa dan yang beribadah pada-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits pula bahwa tempat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah adalah ketika ia sujud.
Siapa saja yang berdoa pada Allah dengan menghadirkan hati ketika berdoa, menggunakan doa yang ma’tsur (dituntunkan), menjauhi hal-hal yang dapat menghalangi terkabulnya doa (seperti memakan makanan yang haram), maka niscaya Allah akan mengijabahi doanya. Terkhusus lagi jika ia melakukan sebab-sebab terkabulnya doa dengan tunduk pada perintah dan larangan Allah dengan perkataan dan perbuatan, juga disertai dengan mengimaninya.
Dengan mengetahui hal ini seharusnya seseorang tidak meninggalkan berdoa pada Rabbnya yang tidak mungkin menyia-nyiakan doa hamba-Nya. Pahamilah bahwa Allah benar-benar begitu dekat dengan orang yang berdoa, artinya akan mudah mengabulkan doa setiap hamba. Sehingga tidak pantas seorang hamba putus asa dari janji Allah yang Maha Mengabulkan setiap doa.
Ingatlah pula bahwa doa adalah sebab utama agar seseorang bisa meraih impian dan harapannya. Sehingga janganlah merasa putus asa dalam berdoa.
Ibnul Qoyyim berkata: “Doa adalah sebab terkuat bagi seseorang agar bisa selamat dari hal yang tidak ia sukai dan sebab utama meraih hal yang diinginkan. Akan tetapi pengaruh doa pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang doanya berpengaruh begitu lemah karena sebab dirinya sendiri. Boleh jadi doa itu adalah doa yang tidak Allah sukai karena melampaui batas. Boleh jadi doa tersebut berpengaruh lemah karena hati hamba tersebut yang lemah dan tidak menghadirkan hatinya kala berdoa. Boleh jadi pula karena adanya penghalang terkabulnya doa dalam dirinya seperti makan makanan haram, noda dosa dalam hatinya, hati yang selalu lalai, nafsu syahwat yang menggejolak dan hati yang penuh kesia-siaan.”
Ingatlah hadits dari Abu Hurairah ra., Nabi saw bersabda:
“Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain doa.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, Ahmad 2/362. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Jika memahami hal ini, maka gunakanlah doa pada Allah sebagai senjata untuk meraih harapan. Penuh yakinlah bahwa Allah akan kabulkan setiap doa. Dari Abu Hurairah ra., Nabi saw bersabda,
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Lalu pahamilah bahwa ada beberapa jalan Allah kabulkan doa. Dari Abu Sa’id ra., Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan doanya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semi-sal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Ka-lau begitu kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan doa-doa kalian.” (HR. Ahmad 3/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid).
Boleh jadi Allah menunda mengabulkan doa. Boleh jadi pula Allah mengganti keinginan kita dalam doa dengan sesuatu yang Allah anggap lebih baik. Atau boleh jadi pula Allah akan mengganti dengan pahala di akhirat. Jadi doa tidaklah sia-sia.
Ingatlah wejangan yang amat menyejukkan hati dari cucu Nabi saw, Al Hasan bin ‘Ali ra :
“Barangsiapa yang bersandar kepada baik-nya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah pilihkan untuknya). Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua keadaan (yang Allah) berlakukan (bagi hamba-Nya)”
Ada banyak sebab mengapa doa bagai layang-layang yang putus benang, dihempas angin ke hulu dan ke hilir, tanpa suatu kepastian. Selain faktor manusia-nya yang mungkin kurang ikhlas plus banyak dosa, ada satu faktor lagi yang turut menentukan sukses tidaknya suatu doa, yaitu faktor sanad (asal usul doa) dan matan (isi doa).
Saat ini doa-doa yang beredar, dibaca dan dihafal oleh kaum muslimin, kebanyakan doa-doa yang sanadnya tidak jelas, walaupun matannya bagus. Padahal syarat suatu doa itu dikabulkan ialah apabila sanad dan matannya bagus, mempunyai sumber rujukan (rawi) yang shahih.
Dalam hal ini Rasulullah saw sebenarnya sudah memberi petunjuk dalam hadits-hadits shahihnya bahwa sebaik-baik doa adalah yang terdapat di dalam Al-Qur’an karena ia diturunkan langsung dari Lauh Mahfuz. Selain wahyu Allah dimana membacanya saja mendapat pahala, doa-doa di dalam Al-Qur’an terbukti sukses mendulang ‘ijabah (dikabulkan) karena berasal dari doa-doa manusia pilihan yang paling baik dan paling sempurna di muka bumi, yaitu para Nabi, Rasul dan Shalihin. Al-Qur’an menjelaskan hal ini:
“Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah)” (Al-Anbiyaa’ {21}: 106)
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (Al-A’raf {7}: 180)
Sebagian mufassir ada yang berpendapat, pengertian Asma’ul Husna adalah doa-doa yang terdapat di dalam Al-Qur’an yang merupakan wahyu kepada para Nabi, Rasul dan Shalihin. Doa-doa tersebut merupakan kalam Ilahi yang tiada hijab (penghalang), yang dilantunkan oleh para kekasih Allah. Dengan membacanya saja sudah mendulang pahala, selain doa-doa itu pernah mengetuk pintu-pintu langit dan diterima di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.
Di dalam hadits Qudsi, dari Anas radhiallahu ‘anh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan, dan Aku tidak mempedulikannya” (HR At-Tirmidzi)
Disini Allah Ta’ala menamakan doa dengan ibadah sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits, “Doa adalah ibadah” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud dan An-Nasa’i)
Alasannya sangat jelas, sebab orang yang memohon kepada Allah, berarti ia menghinakan dirinya di hadapan-Nya dan pasrah kepada-Nya. Oleh karena itu doa harus disertai sikap optimis. Adapun yang berhati lalai dan lengah, atau berdoa berdasarkan tradisi dan hafalan saja, maka doanya tidak sampai ke pintu-pintu langit. Padahal orang yang berdoa sangat membu-tuhkan untuk dikabulkan, maka ia harus khusyu’ dan merasa membutuhkan atas apa yang dimintanya kepada Allah Ta’ala.
Selain hadirnya hati (memahami apa yang diminta), di antara perkara yang menyebabkan dikabulkannya doa adalah bertawassul kepada Allah dengan menyebut Rububiyah-Nya. Hal ini berdasarkan hadits, “Wahai Rabb-ku, wahai Rabbku…” (HR. Muslim)
Telah disebutkan dalam sebuah riwayat, jika seseorang berkata: “Ya Rabb, ya Rabb, ya Rabb”, maka Allah Ta’ala akan berfirman (kepadanya), “Apa yang engkau inginkan?” atau dengan kalimat semisal, lalu Allah mengabulkannya. Karena kita dapati kebanyakan doa di dalam Al-Qur’an diawali dengan menggunakan kalimat “Ya Rabbi” (Wahai Rabb-ku) atau “Rabbana” (wahai Rabb kami).
Oleh karena itu doa hendaknya tidak beralih dari lafazh yang bersumber dari syari’at, dengan membuat bait-bait doa yang sangat beragam yang tidak memiliki kendali (penguat yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah). Mungkin di dalamnya terdapat lafazh yang tidak benar lalu menganggapnya termasuk doa yang disyari’atkan. Karenanya para ulama berwasiat agar kita tidak beralih dari lafazh-lafazh yang bersumber dari syari’at kepada selainnya, kecuali jika ia menghendaki keinginan khusus untuk kemaslahatannya dari Allah Ta’ala dalam doanya.
(Ghozali/Mediaikhwan.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *