Mengapa Mereka Menjadi Teroris?

Sebagai dampak dari perbuatan segelintir umat Islam yang melakukan tindakan-tindakan anarkis dan teror, berkembanglah stigma negatif yang menyamakan jihad dengan teror. Islam diopinikan sebagai agama teroris, dan teroris identik dengan umat Islam terutama orang-orang yang dipandang militant atau radikal. Bahkan, stigma ini melesat seperti peluru yang tak bermata, menusuk ke jantung umat Islam. Hasilnya, Islam divonis sebagai agama teroris! Jihadisme disamakan dengan terorisme, sehingga jihad yang suci dan agung telah berubah bagaikan monster yang mengerikan.

Salah paham ini bisa saja disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat mengenai Islam, tetapi tidak tertutup kemungkinan karena sebagian muslim justru melakukan jihad melalui aksi-aksi terorisme. Hasil penelitian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) tentang radikalisme di kalangan siswa dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Jabodetabek bisa dijadikan contoh dari ancaman radikalisme di kalangan anak muda. Sebanyak 49 persen siswa yang disurvei pada Oktober 2010-Januari 2011 menyatakan setuju dengan penggunaan kekerasan demi agama (Detiknews, 28 April 2011).

Jelas reaksi kaum muda tersebut sebagai benih-benih pemikiran yang bisa mengarah pada tindakan terorisme. Bahkan beberapa teroris masih remaja dan masih sekolah, seperti yang terjadi di Klaten, Jawa Tengah (2011). Begitu juga yang tewas di Solo pada September 2012, Farhan dan Mukhsin masih berusia 19 tahun. Farhan bahkan baru tamat dari Pondok Pesantren Ngruki Sidoarjo. Calon bomber, Yuki Wantoro, yang tewas di Tanjung Balai Asahan juga masih berusia 19 tahun.

 

Fenomena ini menjadikan Indonesia rawan terorisme. Bukan hanya jadi sasaran teror, sekaligus tempat persemaian yang subur bagi teroris. Ini merupakan hal yang layak kita renungkan. Kondisi psikologis seperti apa yang mendorong anak-anak muda berusia produktif itu menjadi radikal bahkan teroris?

Banyak faktor pemicu anak menjadi radikal. Pengungkapan kasus-kasus terorisme di Indonesia menunjukkan, banyak pelajar dan remaja berhasil direkrut menjadi anggota kelompok teroris berasal dari latar belakang pendidikan agama yang minim. Di beberapa daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung dan Sumatera Utara ditemukan fakta yang mengarah sebagai bukti adanya pembinaan terhadap orang-orang muda menjadi anggota teroris. Mereka direkrut oleh anggota senior dan dilatih dengan tujuan regenerasi.

Tidak heran apabila kelompok radikal masih terus tumbuh subur seperti cendawan di musim hujan. Faktor inilah yang menyebabkan jaringan terorisme di Indonesia tidak pernah mati. Belum ada indikasi yang menunjukkan bahwa kelompok teroris mengalami kelemahan atau vakum. Bahkan prestasinya menanjak dengan keberhasilan mereka membunuh 5 aparat di Poso akhir tahun lalu.

Watak Manusia Indonesia Yang Mudah “Ngamuk” Jadi Lahan Subur Bibit Terorisme

Jika sebatas menebar rasa takut, setiap orang yang melakukannya bisa disebut teroris. Namun, masalah bakal jadi rumit ketika menebar ketakutan itu atas nama agama. Mengatasnamakan Islam dan jihad fi sabilillah untuk mengharap mati syahid, jelas menambah kompleks persoalan. Inilah yang membuat munculnya label teroris berbasis agama (baca: Islam). Padahal Islam sama sekali tidak pernah mentolerir kekerasan, apalagi anarkis dan teroris yang mengganggu kenyamanan hidup manusia.

Sebuah pemikiran dan ideologi tidak akan mati, meskipun para penganutnya sudah terkubur hancur dimakan tanah! Demikianlah sebuah ungkapan yang sering kita dengar dan tidak asing lagi di telinga kita. Memang begitulah realitasnya. Sebagai contoh: Walaupun Dr. Azhari dan Noorden M Top telah wafat, namun semangat militansinya melawan pemerintah yang dianggap thagut terus hidup di hati sekian banyak para pemuda yang menganggap kematiannya sebagai bentuk kesyahidan dan kepahlawanan.

Walaupun disatu sisi ada persamaan jalan cerita Khawarij dengan teroris berbasis agama, namun khusus untuk Indonesia, kelahiran teroris tidak bisa dipisahkan dari watak dan karakteristik manusia Indonesia itu sendiri. Inilah juga yang menyebabkan Dr Azhari dan Noorden cepat mendapat pasaran dan jualan terornya laku keras di negeri ini. Dalam bukunya Manusia Indonesia: Sebuah pertanggungjawab,  minimal,  Mochtar  Lubis  berani membuat suatu kesimpulan atau bahkan menggeneralisir sifat-sifat manusia Indonesia.

Jika  memang  dalam  Manusia  Indonesia  adalah  suatu ungkapan realitas  maka ternyata manusia Indonesia penuh dengan paradoks  yang tetap saja tak terselami oleh siapa pun, termasuk oleh Mochtar  Lubis sendiri. Ciri ciri manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis, antara lain adalah: Munafik, segan dan enggan bertanggungjawab atas perbuatannya, berjiwa feodalistik, percaya takhyul, artistik, berwatak lemah, boros, cemburu dan tukang tiru.

Di  samping  itu, dan inilah asal muasal lahirnya watak radikal itu, manusia Indonesia juga mempunyai  sifat bisa kejam,  bisa meledak, mudah ngamuk, membunuh, membakar, khianat, menindas, memeras,  menipu, mencuri, korupsi, tidak peduli dengan nasib orang lain, dan lain-lain.  Jika membaca Manusia Indonesia dengan teliti, maka ditemukan beberapa hal penting yang menyebabkan orang mudah menjadi radikal bahkan teroris:

 

Pertama,  penuh dengan nada-nada kekecewaan. Kekecewaan  terhadap  lingkungan kehidupan masyarakat, tatanan politik serta kekuasaan, menjadikan manusia  Indonesia penuh  dengan nada-nada sinis.

 

Kedua,  sarat dengan sifat-sifat negatif dan kemudian bangga dengan  sisi  gelap  tersebut. Banyak di antara mereka  inilah  yang berhasil mencapai puncak kekuasan dan karier. Sementara mereka  yang bertahan dengan  ciri,  sikap  dan  sifat manusia  Indonesia yang sederhana,  jujur, ramah, mendahulukan orang lain, tidak  iri  hati, senang  dengan kemajuan,  toleran, tolong menolong,  dan lain-lain justru terhempas serta tertinggal jauh.

 

Ketiga,  kurang menghargai perbedaan pendapat dan kebaikan orang lain. Disinilah klimaks radikal itu muncul dengan ideologi takfiriyah, yaitu begitu mudahnya menyalahkan hingga mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham dengannya. Watak bringas ini semakin disuburkan dengan pengaruh konflik di Timur Tengah yang bernuansa Islam, dan menjalar ke darah daging segelintir pemuda yang terbakar jiwanya melihat ketidakadilan, penindasan, dan penjajahan terhadap umat Islam. Gayung pun bersambut dengan kepulangan veteran-veteran perang Afghanistan, sebagian mereka segera memindahkan wilayah konflik kesini. Tak ayal lagi meledaklah disana sini bom, penembakan dan teror.

Memang disatu sisi masyarakat Indonesia juga dikenal dengan ramah dan sopan santun, selain religius dan suka mengalah. Tetapi karakter-karakter itu kebanyakan hanya muncul dalam Perwayangan dengan Pandawa Lima, yaitu Puntodewo, Wenkudoro, Arjuna, Nakula dan Sadewo. Puntodewo, Nakula dan Sadewo diartikan sebagai tokoh yang lemah lembut dan selalu mengalah .

Faktor Sosial Psikologis

Kekerasan merupakan ciri utama dari terorisme. Ciri lainnya adalah membentuk kelompok bawah tanah (underground), menjadikan doktrin jihad sebagai landasan gerakan, dan adanya perlawanan terhadap pemegang kekuasaan. Unsur-unsur ini mungkin merupakan jawaban atas kebutuhan psikologis mereka yang berpotensi jadi teroris.

Kelompok (jemaah, jaringan atau sel) merupakan sumber harga diri bagi seseorang. Dengan bergabung dalam suatu kelompok, seseorang dapat memenuhi kebutuhan akan identitas sosial. Dengan demikian, kelompok menjadi sumber harga diri terutama bagi individu yang mengalami rasa keterasingan.

Dengan ideologi kuat disertai loyalitas (bai’at) yang tinggi terhadap pimpinan (amir) dan jemaah, anggota teroris akan menemukan jati dirinya untuk mencapai tahap kesempurnaan, yaitu masuk surga. Hal ini mungkin merupakan jawaban atas keadaan jiwanya yang semula mengalami kekaburan identitas, gambaran diri negatif, serta tidak adanya figur atau institusi yang memungkinkan ia menemukan jati dirinya.

Seseorang merasa cocok menjadi anggota kelompok teroris tentu karena terdapat kesesuaian antara misi kelompok dengan kebutuhan atau nilai-nilai pribadinya. Dengan melakukan perlawanan terhadap pemegang kekuasan melalui jalur bawah tanah, tampaknya merupakan saluran yang tepat bagi dorongan bawah sadar berupa tumpukan amarah terpendam terhadap figur pemegang otoritas.

Perlawanan terhadap pemegang kekuasaan saat ini mungkin merupakan manifestasi kemarahan terpendam terhadap otoritas yang menindasnya pada masa kecilnya dulu, yang mungkin saja adalah orangtua sendiri.

Begitu banyak orang, bahkan banyak yang menyebut diri religius, tidak belajar pelajaran mencintai (termasuk berdoa untuk mengampuni) musuh-musuh mereka. Mereka malah membenci, menggugat, protes, dan menyingkirkan musuh mereka; menjadi teroris di dalam hati mereka sendiri, di komunitas mereka, dan akhirnya di negara mereka.

Jadi, pada akhirnya terorisme menunjuk pada satu kenyataan pahit kondisi psikologis. Mereka tidak mau mengakui kesalahan apalagi mengubah perilaku mereka, walaupun sesudah di penjara bertahun-tahun. Orang-orang yang tertangkap polisi atau menyerahkan diri misalnya, hanya akan menunjukkan identitas kelompok terkecilnya, tidak akan memberikan keterangan kelompok yang sejajar dengan mereka atau atasan-atasannya karena terikat dengan bai’at – ikrar atau janji sumpah setia sampai mati untuk taat kepada amir dan jemaah.

Tak ada orang yang terlahir sebagai aktor kekerasan, tetapi mereka terlibat dalam aksi kekerasan karena sebuah proses pengenalan akan kekerasan, mulai terlibat (get involved) dan akhirnya meninggalkan aksi kekerasan (disengage). Namun bukan mudah bagi pelaku terorisme untuk meninggalkan habitatnya karena alasan-alasan yang disebutkan tadi. Muhammad Thoriq dan Yusuf Rizaldi misalnya – peracik bom Tambora dan Depok – bukan serta merta menyerahkan diri sebaik bom  meledak. Mereka terlibat pergulatan batin selama beberapa hari baru kemudian tergerak untuk menyerahkan diri, setelah masuk dalam daftar DPO.

Bahkan, ketika terancam dengan perang dan kehancuran, banyak pelaku teror akan menolak negosiasi karena negosiasi memerlukan kesediaan untuk meletakkan harga diri. Dalam doktrin yang mereka terima ditanamkan “menang atau mati syahid”. Mereka harus hidup sesuai dengan nilai-nilai kejujuran dan integritas yang diterimanya dari kelompok atau jemaahnya. Apabila mereka kalah dengan prinsip-prinsip itu, berarti telah mencemarkan dirinya sendiri dan dianggap pengkhianat (munafik) oleh kelompoknya. Demikianlah, teroris yang paling menakutkan adalah teroris dalam jaringan kecil karena ia terus berevolusi menjadi teroris bagi bangsanya.

 

Bahkan, kelompok kecil sekarang menjadi tren di kalangan kelompok jihad. Kelompok ini anggotanya tidak lebih dari 10 orang. Mereka melakukan ‘amaliyat-‘amaliyat jihad yang mengarah ke terorisme atas tiga alasan sebagai legitimasi. Pertama, realitas teologis (akidah), yakni melakukan kekerasan atas perintah Allah. Kedua, realitas historis, yakni melakukan kekerasan karena meneruskan sejarah. Ketiga, realitas ideologis, yakni untuk terbentuknya negara (khilafah) Islam.

Dengan melihat militansi dan kegigihan pelaku terorisme, maka tidak mudah bagi aparat keamanan, termasuk aparat intelijen untuk bisa mereduksi potensi mereka apalagi memutus mata rantainya. Terlebih lagi dalam setiap penggerebekan terjadi informasi yang terputus (missing link) disebabkan tewasnya pelaku sehingga aparat mengalami kesulitan untuk menemukan jaringan mereka.

Pengamat teroris dan penulis buku “Kawanku Teroris”, Noor Huda Ismail, menganggap pendalaman terhadap dinamika setiap individu teroris itu menjadi salah satu aspek penting dalam memutus mata rantai teror yang mirip tokoh mitologi Yunani, Hydra, yang mempunyai banyak kepala. Dipotong satu kepala, kepala yang lain segera muncul menggantikannya (Tempo, 31 Mei 2010).

Noor Huda mencontohkan dengan kesuksesan polisi menangkap pelaku utama bom Bali 1, yaitu menangkap hidup-hidup semua pelaku utama (Imam Samudra dan tiga bersaudara Mukhlas, Amrozi, dan Ali Imron). Mereka telah mengikuti semua proses hukum, termasuk mengakui aksi pengeboman mereka di depan pengadilan yang disiarkan secara luas di media.

Namun dalam keadaan tertentu tidak mudah memang untuk melumpuhkan teroris atau menangkapnya hidup-hidup. Sedangkan menembak untuk membunuh teroris saja tak gampang, apalagi menembak untuk melumpuhkan jauh lebih susah. Pasukan elit Amerika saja, Navy Seal, terpaksa menembak mati Osama bin Ladin karena menangkapnya hidup dipastikan tidak bisa dilakukan. Dasar keyakinan yang mengakar di hatinya dan di hati semua pelaku teror adalah lebih baik mati daripada ditangkap hidup oleh polisi. Dengan mati yang mereka yakini sebagai syahid itu, mereka akan mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah Subhanahu wataala, selain tentunya 72 bidadari.

 

-Ghozali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *