Mentaati Orang Tua Mendapat Pahala Jihad

Prioritas melayani orang tua melebihi pahala jihad fisabilillah berdasarkan sabda Rasulullah SAW :

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud beliau berkata: “Saya bertanya kepada Nabi SAW, ” Amalan apakah yang paling disukai oleh Allah SWT? Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya. Saya bertanya lagi: Kemudian apa lagi? Beliau bersabda: Berbuat baik kepada kedua orang tua. Saya bertanya: Kemudian apa lagi? Beliau bersabda: Berjihad di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ironisnya mereka mengejar pahala ibadah sunat tapi yang wajib ditinggalkan. Kewajiban melayani orang tua mereka dianggap bukan ibadah melainkan hanya adat kehidupan manusia. Maka jika mereka lalai mengingat keduanya, tidak ada kekesalan di dalam hati, tidak rasa berdosa dan bermaksiat kepada Allah SWT.

Sungguh penyimpangan yang tidak disadari, melainkan saat keduanya kembali ke rahmatullah. Lalu anak-anak itu secara alami menjadi ibu dan bapak generasi baru. Dia merasakan sakit menjaga dan mendidik anak seperti orang tua dulu. Akhirnya dia sadar betapa siksa dirinya diabaikan dan dibuang bagaikan sampah.

Bukan hanya orang tua yang terguris hati, Rasulullah SAW pun pernah meneteskan air mata mendengar pengaduan seorang pria tua tentang anaknya yang melawan:

 “Wahai Rasulullah, anakku telah aku didik tetapi setelah dewasa dia menzalimiku. Lelaki itu kemudian menyatakan kesedihannya dengan untaian syair yang memilukan:

“Ketika kamu masih kecil, tangan ini yang memberimu makan.

“Engkau minum juga aku yang tuangkan. Bila dirimu sakit, aku berjaga semalaman.

“Karena sakitmu itu aku mengeluh kerisauan. Tetapi, di saat engkau dewasa dan mencapai tujuan.

“Kulihat pada dirimu apa yang tak ku harapkan. Kau balas aku dengan kekasaran.

“Seakan-akan nikmat dan anugerah engkau yang berikan.”

Mendengar bait-bati syair pria tua itu, berlinganlah air mata Rasulullah SAW seraya bersabda: “Kamu dan hartamu milik ayahmu.” (Ditakhrij oleh Ibnu Majah 2357, Imam Ahmad dalam al-Musnad 6883, Ibnu Hibban dalam shahihnya 409, 4182, Al-Baihaqi dalam as-Sunan 16054).

(Ghozali/Mediaikhwan)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *