MUI Perlu Mengeluarkan Fatwa Melarang Ajaran Sesat “Takfiriyah”

21
Benih-benih terorisme tumbuh subur berakar pada pemahaman “takfiriyah”, yaitu kafir mengkafirkan sesama umat Islam. Distorsi ini menjadi begitu berbahaya sebagai persemaian radikalisme yang memicu tindakan terorisme.
Agresifnya penyebaran faham sesat takfiriyah ini telah membuat buram potret umat Islam yang dulunya dikenal sangat toleran. Sebenarnya gagasan dasar perjuangan Islam adalah mengenalkan konsep rahmat dan rahim (pengasih dan penyayang). Konsep dasar Islam adalah salam yang memastikan damai bagi semua makhluk. Emosi dan sikap radikal yang melampaui batas hanya membuat umat Islam semakin terpuruk.
Sepertinya ada keanehan dalam tindakan teroris di Indonesia, yang dihubungkan dengan agama Islam. Ada upaya memasukkan faham asing dalam Islam di Indonesia sehingga menampilkan wajah yang keras dan garang. Hilang kasih sayang, penyantun dan pemaaf sesama anak bangsa. Tindakan brutal, agitasi, ekstrem dan radikal dikedepankan, yang justru melahirkan aksi-aksi teorisme.
Jaringan terorisme berupaya melakukan pembunuhan dengan target tertentu (assassination). Targetnya, mereka melakukan assassination terhadap siapa saja yang mereka anggap thaghut (penguasa jahat) berbasis “takfir” (prinsip dan dogma mengkafirkan orang lain). Perlawanan dengan kekerasan yang dilakukan teroris, yang mengklaim melawan hegemoni AS, adalah tindakan yang semakin memperburuk citra Islam itu sendiri. Kalau memang AS yang menjadi musuh, mengapa tidak langsung saja menyerang AS di negara adi daya tersebut.
Umat ini, sejak dahulu, telah terbagi menjadi dua kelompok, masing-masing berada di ujung (yang saling bertentangan) dan satu kelompok berada di tengah-tengah. Dua kelompok yang dimaksud adalah kelompok yang saling bertolak belakang. Satu kelompok tidak mau mengkafirkan siapapun dari ahlul qiblah (kaum muslimin) dan kelompok lain sangat mudah mengkafirkan seseorang dengan sebab dosa apapun. Kelompok pertama berhaluan tafrith (meremehkan dosa) dan yang lain berhaluan ifrath (berlebihan dalam menyikapi orang yang berbuat dosa). Adapun kelompok yang di tengah adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Ada golongan tertentu yang mengkafirkan orang yang tidak mau berbaiat kepada imam mereka. Ada juga kelompok yang memukul rata dengan vonis kafir terhadap semua orang yang ikut demokrasi dan pemilu. Ada yang berijtihad bahwa tidak ada mani’ (penghalang) apapun untuk mengkafirkan mereka semua. Ada lagi yang mengkafirkan seluruh PNS, Polri, TNI, anggota DPR/MPR, hakim dan jaksa. Mereka dianggap memberikan loyalitas kepada thaghut. Tanpa disadari pula ada golongan yang mengkafirkan orang yang mati dalam keadaan melakukan dosa besar.
Pengkafiran satu sama lain akan membangkitkan fitnah dan konflik harizontal yang tidak menguntungkan sama sekali, selain melahirkan aksi-aksi terorisme. Mengapa doktrin takfiriyah dikatakan sebagai pemicu terorisme? Karena kelompok yang menggunakan ideologi takfir telah memoles wajah Islam menjadi garang dan tidak bersahabat. Mereka sangat ektrim dalam mengeluarkan seseorang dari lingkup Islam. Mereka adalah orang-orang Ghulatut takfir (Takfiri ekstrim).
Sejarah Islam pernah dicemari dengan sikap kaku dan sok paling Islami sendiri yang dilakonkan oleh sekelompok orang dungu, kaku, dangkal pemahaman agamanya dan berhati kaku bak batu. Ciri paling menonjol kelompok ini adalah sikap ekstrim internal. Mereka bersikap keras, kaku tak kenal toleransi terhadap sesama kaum Muslim yang berbeda faham dengan mereka. Mereka tidak ragu-ragu menjatuhkan vonis kafir terhadap kelompok lain yang berseberangan dengan faham mereka.
Ringkas kata, pilar akidah mereka paling dasar adalah mengkafirkan siapapun yng berbeda faham atau pendapat dengannya. Kecenderungan bersikap “ektrim internal” ini tidak berhenti di sini. Virus penyakit ini terus menjalar menjadi kebencian dan radikalisme yang berujung pada tindakan terorisme.
Coba lihat, peledakan Bom di Kuta Bali pada Oktober 2002, ternyata dilakukan oleh pemuda-pemuda Muslim yang mengaku sedang melakukan jihad. Bom bunuh diri di Hotel JW Mariot Jakarta pada 2009 ternyata juga tersangkanya pemuda Muslim yang merasa sedang berjihad. Bom bunuh diri di Mesjid Cirebon dan Gereja Solo pada 2011, begitu pula bom bunuh diri Mapolres Poso pada 2013, juga dilakukan oleh jaringan pemuda yang mengaku sedang berjihad. Hal ini tentu saja sangat ironis, karena bunuh diripun sudah dianggap sebagai jihad. Ini adalah akibat doktrin sesat takfiryah yang memvonis kafir siapa saja sampai-sampai menghalalkan darah.
Menghadapi gelombang ajaran sesat takfiriyah yang kian menjadi-jadi ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai sebuah lembaga fatwa resmi di negara ini perlu segera mengeluarkan fatwa untuk “mengharamkan” ajaran sesat takfiriyah, kerana penyebaran ajaran sesat ini sudah sedemikian masifnya baik melalui buku, media online maupun dakwah dan tabligh akbar. Karena distribusi ideology brutal ini sudah mengancam stabilitas nasional dan kedamaian di dalam masyarakat.
Menjatuhkan vonis “kafir” kepada sesama umat Islam adalah suatu hal yang sangat riskan dan besar tanggung jawabnya di hadapan Allah. Karena itu dalam hadits Ibnu ‘Umar, Nabi mengingatkan, “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya, “Wahai kafir”, maka kalimat ini harus disandang oleh salah seorang dari keduanya. Kalau memang seperti yang dia katakan, (maka tidak mengapa), dan kalau tidak, maka kalimat itu akan kembali kepadanya.” (HR. Bukhari no. 6104)
Selain itu, dibelakang vonis kafir akan ada sejumlah hukum yang dibangun di atasnya, berupa membunuh orang-orang yang murtad, memerangi orang-orang kafir, memberi ta’zîr (hukuman pelajaran) kepada orang-orang fasik dan pelaku bid’ah dan sebagainya dari masalah-masalah detail yang hanya dipahami hakikatnya dan akan diletakkan pada tempatnya oleh para ulama.
Dan sebagaimana yang telah disebutkan bahwa salah satu sebab munculnya ideologi terorisme yang mengatasnamakan agama adalah dibangun di atas vonis-vonis tersebut, maka merupakan suatu hal yang sangat penting untuk mendudukkan makna dan hakikat dari istilah-istilah syar’iy tersebut.
Berikut ini beberapa hal yang mungkin bisa menjadi solusi masalah ini:
Meluruskan makna istilah-istilah syar’iy di atas.
Menerangkan tentang bahaya ekstrim dalam beragama dan bahaya menjatuhkan tuduhan kepada seorang muslim tanpa ilmu.
Menerangkan fatwa-fatwa para ulama berkaitan dengan masalah ini.
Mengumpalkan dasar-dasar ideologi yang menyimpang dalam hal ini kemudian membantahnya dengan argument dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Menerangkan tokoh-tokoh yang menyandang dan menyebarkan pemikiran ini di tengah umat.
Meluruskan makna jihad yang hakiki dan pembagian orang-orang kafir menurut kaidah-kaidah Islam. Meluruskan pemahaman dalam dua masalah ini termasuk solusi dasar dalam menuntaskan masalah terorisme.
Menyingkap tabir penyimpangan dan kerusakan paham Khawarij dan yang semisal dengannya dalam garis ekstrim. Paham ekstrim ini dan sejumlah pemahaman yang segaris dengannya sangatlah penting untuk diterangkan kepada umat tentang dasar-dasar kesesatan pemikiran mereka dan bahayanya.
Meluruskan istilah-istilah syari’at yang kerap disalahpahami, seperti pengertian Imamah, ‘Imarah, Bai’at, negeri Islam, negeri kafir, dan yang semisalnya.
Istilah-istilah di atas termasuk istilah yang banyak digunakan oleh orang-orang yang terjerumus dalam garis ekstrim/teroris. Dan tidak diragukan bahwa menyelewengkan istilah-istilah tersebut dari hakikatnya akan melahirkan berbagai macam kerusakan dan kehancuran bagi umat.
Dengan lahirnya fatwa yang mengharamkan ajaran sesat takfiriyah sebagaimana fatwa yang dikeluarkan terhadap ajaran sesat Ahmad Qadian, diharapkan jejak para teroris tidak semakin diikuti, habitatnya kian pupus dan doktrin takfiriyah dapat dibasmi sampai ke akar-akarnya.
(Ghozal/Mediaikhwan.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *