Opini Tentang Novel KABUT JIHAD

Novel Tentang Terorisme:

Kisah Perampokan CIMB, Abu Bakar Ba’asyir & Pelatihan Militer di Aceh

Oleh Dr Zainul Fuad MA


MEDIAIKHWAN – Agenda kontra terorisme yang berujung pada tindakan represif, merupakan agenda yang jauh dari nilai ideal. Kekerasan tidak pantas dilawan dengan kekerasan pula. Karena kekerasan vis a vis memiliki fundamen yang rapuh, dan bertentangan dengan kultur bangsa kita yang menjunjung tinggi keramah tamahan, beradab dan sopan santun.

Ini penting dipahami agar terorisme dan kontra-terorisme tidak dipraktek secara kaku. Diperlukan kesadaran berupa pembongkaran dimensi internal agama dan paham keagamaan, sekaligus membuka mata atas adanya agenda-agenda politik yang melingkupi fenomena terorisme.

Faktanya, terorisme erat hubungannya dengan kompleksitas paham keagamaan, politik internasional dan soal-soal hajat hidup kemanusiaan yang paling riil dalam kehidupan sehari-hari, yakni sosial-ekonomi. Walaupun harus diakui pula bahwa paham keagamaan yang cenderung radikal, melahirkan sikap yang membolehkan kekerasan atas nama agama. Terorisme yang motif dan tujuan strategisnya murni politis, di mana agama sebenarnya lebih merupakan kedok yang digunakan oleh para teroris karena secara praktis dan pragmatis hal itu berguna dan efisien untuk mendapatkan dukungan dan legitimasi publik.

Sebenarnya sangat tepat untuk melakukan diseminasi wacana deradikalisasi paham keagamaan sebagai model kontra-terorisme alternatif pada masyarakat luas. Merujuk pada gagasan Dr. Moeslim Abdurrahman (2009) bahwa secara antropologis masyarakat hendaknya disentuh secara sejarah dan berdialog sesuai dengan kenyataan hidup yang dialami sehari-hari. Masyarakat harus mulai diajak berbicara soal-soal apakah agama sudah menjadikannya sejahtera, tawadhuk dan shaleh, atau agama menjadikannya sebagai manusia pemarah, suka kekerasan, atau apakah fungsi agama itu sebenarnya. Dalam tataran ini deradikalisasi harusnya berupaya membaca kembali konservatisme penafsiran agama agar lebih sesuai dengan konteks kemanusiaan yang jauh dari tindak kekerasan.

Bukankah Indonesia sudah sejak lama memahami kemanusiaan sebagai nilai yang luhur, bijaksana dan cinta damai. Jadi, hendaknya paham keagamaan apapun menyesuaikan diri dengan konteks ini. Mungkin deradikalisasi semacam ini bisa juga disebut dengan “pribumisasi” paham keagamaan.

Nah, sastra sebagai bagian dari jiwa bangsa Indonesia, memuat ratusan hikayat dan kisah-kisah klasik yang menjadi pribadi bangsa yang agung ini dalam membangun budayanya. Kita memiliki sastra Melayu klasik, Jawa klasik, Bali klasik, dan lain-lain — yang ditulis dengan aksara serta bahasa masing-masing. Selanjutnya sastra berkembang mewakili jiwa bangsa. Dengan demikian sajak-sajak Chairil Anwar dan Amir Hamzah, telah menjadi duta kesusastraan Indonesia. Demikian pula novel-novel Sutan Takdir Alisjahbana dan Pramoedya Ananta Toer. Dan kini, novel-novel best seller seperti Lasykar Pelangi dan Negeri 5 Menara, telah menyedot juta pembaca padahal mereka yang membaca novel-novel itu bukanlah peminat sastra yang ekstrem. Malahan ketika difilmkan, laris manis mengalahkan film-film yang dibintangi oleh bintang-bintang Hollywood.

Jika sastra menempati satu persen saja dari buku yang masuk ke Gramedia, maka ada sekitar 300 judul baru setiap bulan yang diterima toko buku. Lebih lagi, sastra tidak bergantung pada buku pula. Di masa lalu sastra lisan berkuasa. Di masa kini, sastra merambat dalam sinyal-sinyal digital. Tanggungjawab sastra terletak pada kepekaannya dengan persoalan-persoalan sosial-politik dan sejarah.

Islam semakin menjadi isu urgen pasca Perang Dingin. Islam, sebagaimana segala agama, adalah sumber klasik kesusastraan. Dalam kesusastraan dewasa ini, salah satu pertanyaan besarnya adalah: haruskah sastra Islam berdakwah? Ya, sesungguhnya sastra tradisi Islam melihat peradaban Islam sebagai sumber kekayaannya tanpa mesti berkhotbah.

Novel “Kabut Jihad” (Penerbit Pustaka Bayan, Bandung, 2012) yang ditulis oleh Khairul Ghazali, narapidana teroris kasus CIMB Medan dan Pelatihan Militer di Jantho Aceh (2010), sesungguhnya bercerita tentang akidah yang berbenturan antara aliran radikal dengan moderat. Namun tak berdaya menghadapi sebuah anarkhisme teroris yang sedemikian kuat dan menggurita di jiwa pelaku-pelakunya. Tetapi lewat dialog tokoh-tokohnya, penulis mengembalikan tradisi sastra sebagai perlawanan terhadap aksi-aksi terorisme dan kekerasan dalam masyarakat. Artinya, kita bukan hanya melawan, tapi juga mengatasi terorisme dengan sastra. Karena novel ini juga berisi penyesalan orang-orang yang terpaksa meringkuk di dalam penjara, dan juga anak-anak dan wanita (istri) yang menjadi korban akidah yang radikal itu.

Terorisme yang terjadi dewasa ini dilakukan oknum tertentu yang kehilangan kesadaran, sehingga terorisme tidak hanya menghancurkan bangunan gedung dan membunuh manusia yang bergelimpangan, namun juga telah membunuh nalar dan moral kemanusiaan yang dibangun para pendahulu kita.

Nah, novel Khairul Ghazali yang ditulis dari dalam penjara ini menyuarakan nilai-nilai Islam yang emansipatoris, progresif, mencerahkan, dan memberikan kedamaian, yang mendorong keberagamaan yang ramah sehingga diharapkan mampu memberikan pemaknaan yang progresif atas doktrin keagamaan. Doktrin agama yang selama ini dipahami adalah bersifat simplistik, literalistik, dan reduksionis. Model literalistik inilah yang membentuk karakter Muslim yang arogan dalam memahami teks. Untuk itu perlu pemahaman yang progresif, di mana doktrin dimaknai sebagai cahaya yang membebaskan bukan mencekam. Novel ini menghadirkan keberagamaan yang radikal-fundamental (yang bercorak keras dan marah) menuju wajah keberagamaan yang ramah, sejuk, penuh kedamaian, dan mengantarkan kepada pemahaman umat yang progresif, egaliter, dan tranformatif

Intinya, pemberantasan terorisme harus dilakukan dengan berbagai cara. Selain penindakan hukum, pencegahan harus mendapat skala prioritas, terutama dengan menumbuhkan kesadaran. Nah, sastra merupakan salah satu medium yang paling efektif untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat, apalagi di tengah bombardir berita yang sifatnya hanya jangka pendek, maka sastra menyimpan khazanah intelektual dan pencegahan jangka panjang. Apalagi, jika novel ini difilmkan, maka dua peristiwa penting (pelatihan militer Jantho-Aceh dan perampokan CIMB Medan) akan menjadi alur cerita utama yang bisa meluruskan makna jihad yang sebenarnya, melalui peristiwa besar yang mendunia. Lebih-lebih karena novel ini ditulis langsung oleh pelaku jihad dari balik jeruji penjara, sehingga pesan-pesan yang disampaikannya terasa lebih adil dan profesional, agar jejak para teroris tidak semakin diikuti, dan habitatnya kian punah.

 

Kisah Perampokan CIMB dan Pelatihan Militer (I’dad)

 

Novel ini bercerita full tragedi nasional tahun 2010: pelatihan militer di Jantho (Aceh), perampokan kontroversi bank CIMB dan penyerangan Polsek Hamparan Perak. Tidak tanggung-tanggung, puluhan nyawa melayang dalam tiga tragedi berdarah itu, yang menambah panjang daftar anak-anak yatim dan janda di republik ini. Selain itu, terjadi penangkapan massal dan terbesar dalam sejarah yang tidak pernah terjadi kecuali di zaman pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo tahun 60-an dan peristiwa Komando Jihad tahun  1976 yang penuh rekayasa intelijen.

Terinspirasi dari pengalaman dan kisah nyata itu, penulisnya mencoba mengisahkan konflik kehidupan bersama orang-orang yang terlibat peperangan, baik fisik maupun batin. Lembaran-lembaran sejarah penting itu, walaupun ia ironi bagi bangsa ini, harus dibuka kembali untuk menjadi pelajaran bagi generasi mendatang.

Novel ini menggali peristiwa demi peristiwa langsung dari para jihadis yang masih hidup. Mereka yang “disahihkan” oleh pengadilan sebagai teroris itu dijadikan narasumber. Menampilkan tokoh-tokoh utama seperti Abdul Somad, Abu Yosef dan Usaid, ideolog yang dideklarasikan sebagai teroris papan atas yang mempunyai kapasitas dalam melahirkan militansi melalui metode brain washing. Di tangan mereka, siapa saja bisa menjadi martyr untuk mendapatkan impian 72 bidadari. Ketokohan Abdul Somad, tidak diragukan lagi, merupakan lokomotif jihad di tanah air yang menjadi rujukan hampir seluruh gerakan jihad, terutama di basis-basis militant dan jaringan sel (under ground).

Siapa Abdul Somad? Sejarah pasti telah merekodkan rekam jejaknya. Namanya yang tidak begitu terkenal di zaman Orde Baru, tiba-tiba meroket di zaman reformasi. Pasti semua orang mengenalnya, paling tidak pernah menatap wajahnya, baik secara langsung maupun melalui televisi, koran, majalah atau buku.

Siapa pula Wak Gong? Perampokan CIMB Medan yang menggemparkan tanah air bahkan dunia itu, menyisakan satu nama yang merupakan ketua eksekutor tim fa’i (baca: perampokan) yang dikenal juga dengan sebutan si Mata Elang. Mengapa mereka mengumpulkan dana jihad dengan cara merampok dan membunuh (ightiyalat)? Kenapa sampai muncul Penjara Pudu (Malaysia), Rutan Makobrimob Kelapa Dua (Depok), Rutan Poldasu (Sumut) dan Rutan Poltabes (Medan)? Apa yang terjadi di dalam empat penjara itu? Berbekal pengalaman empat penjara itu, novel ini dipersatukan dalam ikatan ideologis. Bisakah mereka memenangkan semua impiannya, atau gagal kandas di balik jeruji besi?

Novel ini mendaur ulang sejarah yang telah disetting oleh tokoh-tokoh tersebut, dan mengingatkan kita semua tentang bahaya ideologi yang dipaksakan hingga nyaris menjadi kebenaran.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *