Pengaruh Al-Qaeda Terhadap Gerakan Jihad di Asia Tenggara dan Indonesia

Nama “Al-Qaeda Indonesia” muncul pertama kali di kamp militer (tadhrib ‘askary) di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar pada 2010, dengan nama Al-Qaeda Serambi Mekkah. Tokoh-tokoh jihadis yang terlibat, sebagian besar sedang menjalani proses hukum di Nusakambangan, mengumumkan perlawanan jihad dalam video yang diungguh di Youtube pada 8 Maret 2010, yang berjudul “Seruan Jihad Dari Serambi Mekkah”.
Al-Qaeda dapat digambarkan sebagai kelompok jihad global yang sangat militan. Hal ini terlihat dari bagaimana kelompok ini melantik para anggotanya tidak saja dengan “Brainwashing”, tetapi juga melatih kemampuan tempurnya. Peristiwa 11 September adalah bukti yang memperlihatkan bahwa kelompok militan ini telah mampu meningkatkan kemampuan destruktifnya, dimana hanya penggunaan kekuatan militer yang dapat mengalahkannya.
Hal ini membuktikan bahwa Al-Qaeda memiliki jaringan yang besar bahkan sampai ke wilayah Asia, khususnya Asia Tenggara karena jumlah populasi Muslimnya besar. Oleh karena itu Asia Tenggara menjadi pilihan bagi Al-Qaeda untuk memperluas jaringannya. Terbongkarnya kelompok Jamaah Islamiah (JI) beberapa tahun lalu semakin memperkuat asumsi bahwa Al-Qaeda memilki jaringan yang kuat di Asia Tenggara. Apalagi setelah ditelusuri organisasi JI ini memiliki cabang di Malaysia, Singapura dan Indonesia yang dikaitkan dengan Hambali, Abu Bakar Ba’asyir, dan lain-lain.
Dengan demikian Asia Tenggara dapat disebut sebagai “rumah” bagi kelompok-kelompok atau gerakan militan seperti Jemaah Islamiah (JI), Abu Sayyaf, Mujahidin Fatani, Kumpulan Mujahidin Malaysia dan Mujahidin Indonesia Timur maupun Barat.
Selain kelompok-kelompok Islam keras, Asia Tenggara juga dikenal sebagai “rumah” bagi kelompok-kelompok atau group militan lainnya yang menjadikan Islam sebagai elemen penting untuk identitasnya. Seperti yang terdapat dibagian selatan Thailand, Moro National Liberation Front (MNLF) dan Moro Islamic Liberation Front (MILF) di Philipina, dan Mujahidin Indonesia Timur yang juga dikenal sebagai Al-Qaeda Indonesia.
Dengan ditetapkan Al-Qaeda sebagai tersangka utama peledakan 11 September dan resmi ditetapkannya Jamaah Islamiah (JI) sebagai jaringan Al-Qaeda, maka telah ditemukan signifikansi jaringan Al-Qaeda di AsiaTenggara, khususnya Indonesia.
Ada beberapa hal yang menjadi alasan Al-Qaeda untuk membangun jaringan di Asia Tenggara :
Ribuan penduduk Muslim Asia Tenggara, terutama Indonesia, pernah dan ikut bergabung dan berperang bersama pasukan Mujihiddin pada tahun 1980-an di Afghanistan.
Sejak awal 1980-an juga gelombang orang Asia Tenggara yang belajar di Univesitas Islam dan Madrasah Timur Tengah semakin meningkat.
Seringnya pemberontakan-pemberontakan Muslim di dikawasan Asia Tenggara seperti di Mindanau (Filipina Selatan) dan Fatani (Selatan Thailand) terhadap pemerintahan yang bersifat sekuler. Islam radikal berkembang begitu cepat di kawasan ini bersamaan dengan perubahan negara-negara menjadi lebih sekuler.
Asia Tenggara merupakan “surga” bagi pertumbuhan jaringan teroris. Hal ini dikarenakan lemahnya kekuatan polisi dan aparat keamanan di Asia Tenggara, sehingga dengan mudah kelompok teroris beroperasi.
Jihad global yang dikumandangkan Al-Qaedah dapat dilihat dengan bendera Al Qaeda yang berwarna hitam berkibar hampir di seluruh Negara-negara Timur Tengah, Afrika hingga ke Asia Tenggara, termasuk Filipina, Thailand dan Indonesia. Hal ini menunjukkan pengaruh Al-Qaeda sangat signifikan bahkan memimpin gerakan jihad di kawasan ini. Berikut adalah bendera dan simbol Al-Qaeda yang telah meng-global di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

1
Mujahidin Chechnya mengusung bendera Al-Qaeda.
2
Mujahidin Somalia mengusung bendera Al-Qaeda.
3
Mujahidin Kashmir mengusung bendera Al-Qaeda.
4
Mujahidin Mesir dengan latar belakang bendera Al-Qaeda.
12
Sebuah tank yang berhasil direbut mujahidin di Mali Utara dengan mengibarkan bendera Al-Qaeda.
5
Parade militer mujahidin Libya dengan mengusung bendera Al-Qaeda.
6
Mujahidin Yaman membawa senjata dan bendera Al-Qaeda.
7
Mujahidin Yaman berhasil merampas tank dan mengibarkan bendera Al-Qaeda.
8
Mujahidin Filipina dengan latar belakang bendera Al-Qaeda.

9
Bendera Al-Qaeda berkibar di Solo pada 2013.
10
Al-Qaeda Serambi Mekkah memperlihatkan bendera Al-Qaeda.
11
Santoso alias Abu Wardah, komandan Mujahidin Indonesia Timur dengan simbol-simbol Al-Qaeda.

Tandzim Al-Qaeda Serambi Mekkah dan Mujahidin Indonsesia Timur
Membicarakan terorisme di Indonesia  tidak akan lengkap tanpa menyebut Jamaah al Islamiyah (JI). JI merupakan organisasi yang selama ini bertanggungjawab atas berbagai aksi teror di Indonesia. Dua tokoh utama JI, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’syir merupakan mantan tokoh NII di masa Orba yang ditangkap tahun 1983. Namun mereka berhasil melarikan diri ke Malaysia (1985) dan mendirikan pesantren Lukmanul Hakim di Johor Baru. Lembaga ini merekrut pemuda Indonesia, Malaysia dan Singapura dikirim ke Afganistan untuk mengikuti latihan militer dan berperang melawan Uni Soviet. Namun seiring perkembangan waktu dan pengaruh jihad global yang dipelopori Al-Qaeda, JI mengalami stagnasi dan tereliminasi. Apalagi pengaruh Al-Qaeda semakin dominan dan populer di kalangan tokoh-tokoh jihadis karena keberhasilannya mendepak bekas Soviet dari Afghanistan dan selanjutnya berperang melawan Amerika dan sekutunya.
Kelompok ”Tandzim al-Qaeda untuk Serambi Mekkah” bukanlah Jamaah Islamiyah (JI), meskipun sebagian tokoh-tokohnya seperti Dulmatin, Abu Tholut, Umar Patek dan lain-lain sudah dibaiat menjadi anggota JI. Ini tampak dalam rekaman video yang dibuat kelompok tersebut—yang muncul di YouTube, 8 Maret—yang mengajak umat Muslim di Indonesia bergabung melakukan jihad dan dengan keras mengkritik JI sebagai organisasi yang mulai kehilangan taring.
Orang-orang yang bergabung dalam kelompok Al-Qaeda Serambi Mekkah (Aceh) adalah orang-orang yang berasal dari JI itu sendiri dan menginginkan aksi yang lebih besar. Kelompok ini selain berasal dari JI, juga meliputi Jamaah Anshorut Tauhid, Mujahidin KOMPAK, Wahdah Islamiyah, dan sebagainya. Ini menggambarkan bahwa Tandzim al-Qaeda Serambi Mekkah, adalah gerakan jihad global yang lebih representative dan menjadi pemersatu dari seluruh aliansi jihad yang terpecah-pecah. Fakta yang menarik adalah banyak dari kelompok-kelompok jihadis yang beroperasi saat ini, termasuk Al-Qaeda Indonesia, punya hubungan dengan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), sebuah kelompok yang dibentuk oleh Abu Bakar Ba’asyir di tahun 2008, yang telah menggantikan Jemaah Islamiyah (JI) sebagai organisasi jihad paling besar dan aktif di Indonesia.
Kamp pelatihan Aceh, yang diadakan dari tanggal 28 Januari hingga 22 Februari 2010 di perbukitan Jantho, sudah mulai direncanakan sejak awal tahun 2009. Alasan para elit pemimpinnya mendirikan kamp Aceh yaitu bahwa gerakan jihad perlu sebuah basis yang aman (qoidah aminah) untuk melancarkan serangan terhadap musuh dan pada akhirnya mendirikan sebuah negara Islam. Aceh dipilih karena sejarah perlawanannya terhadap pemerintah Indonesia, kemampuannya untuk menerapkan syariah Islam dan lokasi strategisnya di ujung pulau Sumatra, selain diharapkan akan mudah mendapat dukungan lokal.
Sedikitnya sembilan kelompok telah mengirimkan peserta ke kamp Aceh, yaitu:
JAT, dipimpin oleh Ubaid yang juga melibatkan Abu Bakar Ba’asyir
Kelompok Dulmatin cs
Ring Banten, sebuah faksi Darul Islam dari Jawa Barat, diwakili oleh pemimpinnya, Kang Jaja, dan beberapa anggota senior. Ring Banten pernah bekerja sama dengan JI dalam serangan bom Bali I, dan dengan Noordin Top, mantan anggota JI, dalam serangan bom Kedubes Australia, serta serangan bom kembar di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta tahun 2009
Faksi atau Kelompok Abu Umar, diwakili oleh Enceng Kurnia, yang pernah membantu Dulmatin berangkat ke Mindanao tahun 2003
Kelompok Aman Abdurrahman, seorang ustadz radikal sekaligus ideolog faham radikal yang dikenal dengan “singa tauhid”
Kelompok Mujahidin KOMPAK, sebuah kelompok jihad pimpinan Abdullah Sunata yang pernah mengirim anggota laskar mereka ketika terjadi konflik di Maluku dan Poso
Sebahagian besar anggota JI Lampung dan Sumatra.
Sebuah kelompok yang terdiri dari sekitar dua puluhan warga Aceh yang direkrut secara local
Kelompok Medan yang pernah tergabung dengan Toni Togar, mantan anggota JI, alumni Afghanistan dan pernah mengajar di Pesantren Ngruki, Solo.
Aliansi tersebut tidak akan kokoh dalam perlawananannya terhadap toghut dan pertahanan militernya (qoidah aminah) tanpa disatukan dibawah satu kekuatan jihad global. Dalam hal ini, gerakan jihad global yang berpengaruh di dunia saat ini adalah Al-Qaeda. Maka ketika para peserta dan instruktur pelatihan sudah berada di kamp bulan Januari 2010, para pemimpinnya seperti Dulmatin, Abu Tholut, Abdullah Sunata, Ubaid dan lain-lain sepakat menyebut kelompok ini “Al Qaeda Serambi Mekkah”, meskipun pada waktu itu kelompok ini tidak punya kaitan secara langsung dengan al-Qaeda, tetapi secara ideologis memiliki kesamaan, dan mendaulat kepemimpinan Osama bin Ladin (sebelum tewas) dan Syaikh Ayman Al-Zawahir, pendiri dan pemimpin agung al-Qaeda.
Jauh sebelumnya, Bom Bali 2002 merupakan indikasi pertama bahwa definisi dari Al-Qaida mengenai musuh—Amerika Serikat dan sekutunya dan semua warga negara yang membantu negara-negara tersebut yang disebut dengan “anhorut toghut” — sudah diadopsi. Fokusnya bisa saja ditujukan ke pejabat pemerintah Indonesia yang dianggap anti-Islam, atau serupa dengan kafir karena aliansinya dengan Barat, menentang syariah, atau kebijakan umum yang dianggap tidak islami.
Kehancuran kamp Aceh, tidak mengakibatkan Al-Qaeda Indonesia bubar ataupun mati, walaupun banyak pemimpinnya terbunuh dan ditangkap. Gerakan ini muncul kembali di Poso, dibawah komandan Santoso alias Abu Wardah, dengan memproklamirkan “Mujahidin Indonesia Timur”, yang sebenarnya adalah bagian dari Al-Qaeda Indonesia.
Santoso yang sempat menjalani vonis 4 tahun dari Pengadilan Negeri Palu, Sulawesi Tengah, atas kasus kepemilikan senjata api dan percobaan pembunuhan pada 2003, membuat qoidah aminah sebagai kelanjutan dari qoidah aminah di Jantho, di kawasan Pegunungan Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir. Artinya, Poso saat ini menjadi pusat pelatihan terorisme dari berbagai wilayah di Indonesia. Kota Poso dipilih sebagai pusat pelatihan karena lokasinya yang dekat dengan Filipina, berbukit dan hutan tebal.
Berdasarkan pengamatan selama ini, di negeri ini ada dua aliran atau kelompok besar dalam amaliyah jihad, yaitu :

1.Menyerang musuh di tempat di mana musuh paling mudah diserang
Kelompok ini berpendapat bahwa untuk menunjukkan solidaritas atau pembelaan atas kezaliman yang terjadi terhadap kaum muslimin di seluruh dunia harus ditunjukkan dengan aksi qishos atau menghukum musuh di tempat yang terdekat dengan kita dan yang paling mudah untuk diserang namun memiliki efek teror yang dahsyat.
Serangan pertama kelompok yang beraliran ini adalah Bom kedubes Filipina pada bulan Agustus 2000. Serangan dilakukan sebagai bentuk balasan kepada pemerintah Filipina atas serangan mereka ke kamp mujahidin dan sebagai bentuk dukungan kepada mujahidin di Filipina Selatan.
Lalu berikutnya adalah serangkaian Bom malam Natal 2000, sebagai bentuk dukungan dan pembelaan kepada kaum muslimin di Ambon yang dibantai oleh pasukan kafir salibis. Dan yang paling dahsyat berikutnya adalah Bom Bali 1 yang benar-benar menghentakkan seluruh dunia, karena pasca serangan WTC belum ada aksi sedahsyat itu. Sebelum para pelaku terungkap, di dunia maya marak (meski tidak secepat sekarang) beredar pernyataan dari orang yang mengaku sebagai komandannya bahwa itu adalah aksi pembalasan atas kezaliman yang dilakukan Amerika cs terhadap kaum muslimin di seluruh dunia. Hal ini semakin jelas setelah para pelakunya tertangkap dan bertutur di pengadilan dan juga menuliskannya dalam buku-buku dan makalah-makalah yang beredar luas baik di dunia maya maupun nyata.
Rangkaian serangan bom berikutnya juga masih didasari hal yang sama, yaitu sebagai pembelaan terhadap kaum muslimin dan hukuman bagi thoghut. Bahkan sampai-sampai baru-baru ini Al Qaida masih menyerukan kepada mujahidin Indonesia untuk menghukum para thoghut yang telah berani memenjarakan mujahidin terkhusus lagi memenjarakan Abu Bakar Ba’asyir.(lihat majalah Inspire 5, 2011)
Soal bentuk amaliyahnya bahkan bisa dilakukan seorang diri yang disebut dengan “jihad fardhiyah”. Operasi amaliyah Istisyhadiyah yang pertama adalah tonggak dimulainya era perang baru, perang melawan Salibis Intenasional dengan mengikuti pola serangan yang dipelopori oleh Al Qaida, yaitu menyerang musuh di tempat di mana musuh paling mudah untuk diserang di manapun berada. Pernyataan yang beredar di forum dan milis-milis di internet tentang Bom Bali telah cukup menunjukkan bahwa itu adalah salah satu operasi jihad global yang dilakukan oleh mujahidin lokal, sebagai bentuk pembelaan terhadap penindasan, pembantaian, penghinaan, dan kezaliman yang selama ini terjadi pada kaum muslimin di seluruh dunia.
Di persidangan kemudian terungkap semakin jelas bahwa amaliyah bom Bali ini dibuat dalam rangka menyambut seruan syaikh Usamah bin Ladin untuk memerangi Amerika dan sekutunya di seluruh dunia karena Amerika telah memaklumatkan perang salib melawan Mujahidin (teroris) di seluruh dunia.
Selanjutnya terjadi serangan Istisyhadiyah lagi di Hoteel Ritz Carlton dan JW Marriot pada pertengahan Juli 2009. Tak lama dari pasca terjadinya amaliyah Ritz Carlton-JW Marriot, perencanaan i’dad (kamp) Aceh juga pun sedang dimulai. Bahkan sebenarnya sudah dimulai sejak bulan April 2009, atau 3 bulan sebelum Bom Ritz Carlton meledak. Sebenarnya pengiriman peserta i’dad gelombang pertama pada mulanya direncanakan pada awal bulan Juli 2009 namun karena adanya peristiwa Ritz Carlton itu maka akhirnya ditunda. Namun persiapannya terus dilakukan. Termasuk Rekrutmen dan penggalangan dana yang semakin digencarkan melalui infak, sedekah dan fa’i.

2. Menghadapi musuh di suatu wilayah di mana kaum musliminnya telah sepakat untuk membentuk suatu qaidah aminah sebagai basis perjuangan
Tujuan dari kelompok ini adalah membentuk suatu basis perjuangan di mana nantinya kaum muslimin bisa datang untuk berjihad atau berlatih dan kemudian dapat menguasai sejengkal wilayah yang akan dijadikan percontohan bagi kaum muslimin di tempat lain. Hal ini terinspirasi dari mujahidin Afghan, Mujahidin Filipina Selatan, Fatani, Chechnya, dll. Prestasi terbaik kelompok ini adalah berdirinya basis di Tanah Runtuh Poso, di mana sempat terjadi rotasi mujahidin (ada mujahid keluar dan ada mujahid baru yang masuk), juga beberapa aksi ightiyalat dan peledakan yang sukses.
Di kemudian hari strategi ini coba dikembangkan lagi dengan dibuatnya markaz tadrib askari di Aceh, tentunya dengan modifikasi dan personalisasi di sana sini. Tapi polanya masih mirip, yaitu menguasai suatu tempat untuk melakukan kaderisasi mujahidin. Selanjutnya adalah berdirinya kamp militer yang lebih brilian di Gunung Biro Poso, dibawah komandan Santoso alias Abu Wardah.
Grafik Hierarki Al Qaida berdasarkan data dan fakta menunjukkan Abu Bakar Ba’asyir berada di posisi paling atas. Dibawah garis komandonya ada sejumlah tokoh, antara lain Dulmatin yang telah tewas, Abu Tholut, Ubaid, Abdullah Sonata, dan Mustakim. Nah, Ideolog papan atas saat ini yang dianggap “singa tauhid” adalah ustadz Aman Abdurrahman dan ustadz Rois yang sama-sama mendekam di Nusakambangan.
Kelompok ini membutuhkan tadrib—pelatihan untuk persiapan jihad. Kelompok ini juga memutuskan Aceh dan kini, Poso, menjadi tempat yang cocok buat mempersiapkan qoidah aminah, semacam awal perebutan kekuasaan, satu bagian penting buat membangun daulah Islamiyah alias negara Islam.
Kelompok Poso saat ini merupakan jaringan teroris yang terkuat setelah beberapa pentolan militan jebolan Afghanistan dan Moro ditangkap Densus 88. Dibawah panglima Santoso, kelompok ini lebih memilih untuk bertahan di kamp Gunung Biru dan mempersiapkan serangan-serangan mendadak yang mematikan. Seperti misalnya serangan di Gunung Koronjobu yang terletak di Desa Kalora, Tambarana, Poso, Sulawesi Tengah (20/12/2012). Sekitar 15 anggota Brimob yang sedang melakukan patroli mereka berondong tembakan. Tiga anggota brimob tewas di lokasi kejadian dengan luka tembak. Sebelumnya, mereka sukses mengeksekusi 2 anggota brimob dan menguburnya. Yang lebih spektakuler adalah isytisyhadiah (bom bunuh diri) di Mapolres Poso, walaupun tidak ada korban jiwa kecuali pelaku bom bunuh diri yang tewas, namun bom bunuh diri itu cukup menunjukkan bahawa mereka tidak takut mati. Semboyan mereka adalah, “jihad untuk mati (syahid) bukan untuk hidup”.
Ghazali/Mediaikhwan.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *