Announcement: Program “Menulis Di Dalam Penjara” Sebagai Upaya Rehabilitasi Untuk Memutus Mata Rantai Terorisme

gambar ali imran utk HOT TOPIK

Dalam sistem peradilan, kita mendengar istilah “berkelakuan baik” selama di dalam penjara, sikap yang berpotensi mengurangi masa tahanan.
Dengan menulis, narapidana tidak saja berkelakuan baik, tetapi juga “kelakuan”-nya tersebut bermanfaat bagi banyak orang. Karya yang dihasilkannya bukan tidak mungkin akan menginspirasi dan menyadarkan banyak orang. Jika pemerintah Brazil memberikan pengurangan masa tahanan melalui membaca, maka seharusnya, pemerintah Indonesia menggagas program pengurangan masa tahanan melalui menulis, “Redemption Through Writing”.
Maka seharusnya, narapadina teroris seperti Ali Imran, dan lain-lain narapidana, yang rajin menulis buku atau karya tulisan selama berada di dalam penjara, dan narapidana mana saja yang mampu menulis dan melahirkan karya, dapat diberikan pengurangan masa tahanan, karena apa yang mereka lakukan lebih daripada sekadar “berkelakuan baik”. Dan, “Redemption through Writing” adalah gagasan menarik dan positif yang perlu diterapkan oleh pemerintah Indonesia.
Tulisan ini tidak membicarakan mengenai terorisme di Indonesia, tetapi lebih mengenai bagaimana buku atau karya itu bisa lahir dari dalam penjara. Dalam sejarah Indonesia, sudah banyak tokoh besar yang menulis dari dalam penjara, salah satunya adalah presiden pertama Indonesia, sang proklamator, Ir. Soekarno. Dari balik jeruji penjara Sukamiskin, Soekarno menulis pledoi yang berjudulIndonesia Menggugat, pledoi tersebut kemudian dibacakan di gedung landraad pemerintah kolonial Belanda di Bandung—gedung tersebut kini diberi nama Gedung Indonesia Menggugat. Pledoi Indonesia Menggugatmenjadi salah satu tonggak kebangkitan semangat bangsa Indonesia dalam melawan panjajahan Belanda selama ratusan tahun.
Mohamad Hatta, sewaktu ditahan di penjara Glodok pada 1934 sempat menulis beberapa karya. Salah satufounding father Indonesia bersama Soekarno itu menamatkan penulisan buku Krisis Ekonomi dan Kapitalismedari dalam penjara tersebut. Sewaktu dibuang ke Digul, dia tetap aktif menulis untuk berbagai surat kabar yang terbit di Jawa dan Sumatera serta melahirkan buku berjudul Alam Pikiran Yunani.
Tan Malaka, tokoh yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah kemerdekaan Indonesia, menulis buku Madilogsecara sembunyi-sembunyi dari dalam penjara. Selain itu, buku Dari Penjara ke Penjara mengungkapkan bahwa perjuangan Tan Malaka berkaitan erat dengan penjara dan pengasingan. Namun bagi Tan Malaka penjara dan pengasingan tidak lantas menyurutkan semangatnya untuk berjuang dan untuk tetap menulis demi mengabarkan pemikirannya.
Sosok lain yang erat kaitannya dengan menulis dari dalam penjara adalah Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya melahirkan karya legendarisnya, Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), sewaktu dia ditahan di Pulau Buru selama puluhan tahun. Buya Hamka, menulis karya besarnya,Tafsir Al-Azhar, juga dari dalam penjara.
Ali Imran, yang divonis seumur hidup karena dianggap terlibat dalam Bom Bali, terbilang lebih beruntung karena tidak mengalami pelarangan untuk menulis, bahkan diberi kebebasan untuk berkarya. Hal ini berbeda dengan beberapa tokoh yang telah disebutkan di atas, di mana mereka harus menulis secara sembunyi-sembunyi dan baru bisa menerbitkan buku mereka setelah mereka keluar dari penjara. Nawal El Sadawi bahkan harus menuliskan karyanya di atas kertas toilet. Sayid Qutb harus menyelundupkan kertas-kertasnya keluar masuk penjara.
Penjara, bisa jadi merupakan sebuah peluang bagi pikiran-pikiran kreatif. Isolasi, kesendirian, kebebasan dari kesibukan dan pengaruh dunia luar, serta kesepian yang tak terelakkan, merupakan kondisi yang sangat memungkinkan bagi lahirnya sebuah karya. Menulis merupakan suatu dialog sunyi dengan diri sendiri. Dengan menulis, seseorang bisa berkontemplasi, melakukan refleksi perjalanan hidup, dan lebih peka dengan kondisi sekitarnya. Dalam hal ini, Ali Imran menuliskan kisah-kisahnya di penjara dan refleksinya mengenai terorisme, yang menjadi penyebab dirinya dipenjara. Karya yang dihasilkannya malahan tidak mendukung terorisme, tetapi menentangnya, yang dia tuangkan dalam beberapa buku dan karyanya.
Oleh karena itu, masuk akal jika pemerintah Brazil, sebagaimana yang disebutkan di awal tulisan ini, memberikan potongan masa tahanan selama 4 hari untuk setiap buku yang diselesaikan, dalam artian selesai membaca kemudian menuliskan esai singkat mengenai buku tersebut. Hal ini dilakukan agar para tahanan, sekeluarnya dari dalam penjara, memiliki pemahaman dan pola pikir yang lebih baik.
Memang sudah bukan rahasia bahwa ada beberapa aktivitas kriminal yang tetap dapat dilakukan dari balik penjara, seperti perjudian, peredaran narkoba dan brain washing (cuci otak) ataupun rekrutmen baru yang dilakukan narapidana teroris untuk melahirkan lebih banyak teroris-teroris baru. Ini terjadi karena masih lemahnya sistem yang diterapkan di dalam penjara. Nah, menulis merupakan bentuk aktivitas positif dan bermanfaat bagi kedua belah pihak, baik bagi para tahanan maupun bagi otoritas penjara demi menghindari terjadi aktivitas-aktivitas negative yang bisa menjurus kepada teror. Maka sudah seharusnya pemerintah, dalam hal ini BNPT dan Kemenkum HAM, melirik program tersebut sebagai salah satu cara untuk melakukan proses rehabilitasi terhadap para narapidana di penjara-penjara di Indonesia.
(Ghozali/Mediaikhwan.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *