Tadzkiroh, Buku Yang Menginspirasi Aksi-Aksi Terorisme

Tadzkiroh

Ada yang menarik dalam acara “Debat” di TvOne Senin malam (6/1/2014) yang membongkar kesesatan buku Tadzkirah karangan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Acara yang dipandu oleh Alfito Dinofa menghadirkan mantan petinggi Jemaah Islamiyah (JI) Nasir Abas, Brigjen Boy Amar Rafli, Ustad Nanang Ainur Rofiq (JAT) dan seorang pengacara TPM. Mereka berlima berdiri di depan ratusan pengunjung acara Debat Tv One.

Tentu saja jauh lebih banyak pemirsa di luar studio yang menyaksikan. Debat Tv One memang selalu menarik untuk disaksikan walaupun televisi milik Bakri ini terkadang menyebalkan juga. Lebih-lebih ketika menayangkan iklan ARB, konon banyak pemirsa yang geleng-geleng kepala karena jengkel. Secara keseluruhan acara-acara di televisi berciri merah-merah ini tetap menarik, terutama berita-beritanya.

Yang tidak menarik dari acara debat malam Senin itu adalah tingkat emosi kubu JAT yang diwakili ketua JAT Jakarta, Ustad Nanang Ainur Rofiq. Ustadz berbaju koko dan berjenggot tipis ini sepertinya tidak bisa menahan diri ketika Nasir Abas mengupas buku Tadzkiroh. Dia tampak berapi-api, tapi kehilangan arah, tidak nyambung dan berusaha mendewa-dewakan buku mahagurunya Ustad Abu Bakar Ba’asyir. Beberapa kali Ustad Nanang Ainur Rofiq mengumbar emosi bagaikan mau berkelahi.

Topik tentang buku Tadzkiroh sebenarnya tidak terlalu penting diberitakan panjang lebar. Ia akan menyebabkan, “buku Tadzkiroh akan semakin dicari oleh umat,” begitu teriak Ustadz Nanang bangga dan sekali lagi, berapi-api. Tidak terlalu penting untuk pendidikan siapapun.

Acara Debat itu tentu penting buat yang suka. Tapi debat dengan akibat membuat populeritas Ustad Abu Bakar Ba’asyir akan semakin melejit, tidak perlu terjadi. Ada banyak topik lain yang bernilai pendidikan dan inspirasi-motivasi daripada sensasi berita seperti itu. Terkesan sekedar bersensasi-ria untuk mengejar rating tayang. Sungguh tidak bijak strategi seperti itu. Apalagi debat tersebut tidak mempunyai “kesimpulan” sama sekali.

Padahal buku Tadzkirah merupakan buku yang menginspirasi para teroris untuk melegalkan aksi-aksi terorisme. Karena itu tidak perlu dicetak permanent dengan cover dan design yang cantik. Karena begitulah sejatinya buku “propaganda”. Buku itu ditulis saat Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ditahan di sel Badan Reserse Kriminal Mabes Polri pada November 2011 lalu. Pemimpin Jama’ah Anshorut Tauhid ini dihukum 15 tahun penjara karena divonis terlibat kasus terorisme.

Tadzkirah (artinya surat nasihat dan peringatan) berupa nukilan ayat-ayat Al-Quran yang kemudian diartikan sendiri oleh Ustad Abu Bakar Baasyir. Ada 12 bab atau lampiran, dalam pengantarnya tertulis untuk para penguasa yang berpenduduk mayoritas muslim. Bab pertama membahas tentang “Surat Ulama kepada Presiden Republik Indonesia”. Pada bab ini dia  menuliskan seruan kepada pemerintah agar bertobat.

Bab-bab selanjutnya, sesuai judulnya soal nasihat, membahas mengenai imbauan para ulama, tak lain dia sendiri. Misalnya, menyerukan penguasa bertobat dan tidak mencampuradukkan sistim pemerintahan Islam dengan non-Islam.
Seperti Bab V, VI, dan VII, tentang “Rincian Bekerja di Dinas Pemerintahan Thaghut”. Menurutnya, dalam surat Al-Baqarah ayat 257, thaghut adalah segala sesuatu yang melampaui batas sehingga disembah di samping Allah.

Pada bab ini juga membahas tentang pengertian thaghut dan para pendukungnya. Dia mencontohkan perilaku thaghut adalah penguasa yang memutuskan perkara dengan hukum bukan syariat Islam. Ada pula tulisan butir-butir perlawanan terhadap sistem thaghut hingga status Amerika di hadapan kaum muslim.

Mungkin ini yang dimaksud Jenderal Sutarman, yaitu kutipan di dalam buku ini yang mengajak umat muslim untuk berjihad – dengan merujuk ucapan Syeikh Abu Dujanah Ash Shamy – adalah pada kalimat: “Jika kami mengatakan kebenaran pasti kami akan mati, dan jika kami tidak mengatakan kebenaran maka kami pun akan mati, maka kami akan mati dengan mengatakan kebenaran dan kami tetap akan mengatakan kebenaran meskipun taring-taring anjing mencabik-cabik daging kami, meskipun paruh-paruh buruh mematuk-matuk kepala Kami, hidup Kami hanya untuk Allah. Kami mati karena membela agama Allah”.

(Ghozali/Mediaikhwan.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *