Teroris Bukan Mujahid dan Bukan Syuhada

24

Malam pergantian tahun diwarnai dengan penggerebekan teroris di Jalan Haji Hasan, RT 05 RW 07, Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa, 31 Desember 2013 malam. 6 terduga teroris tewas di tempat  sementara satu teroris bernama Anton alias Septi ditangkap dalam keadaan hidup di dekat sebuah warnet di Banyumas. Segera saja media-media online yang pro kepada aliran radikal dan takfiriyah (mengkafirkan pemerintah dan aparatnya) menuduh bahwa penembakan itu melanggar HAM dan asas praduga tak bersalah. Lebih dari itu, media-media pro aliran keras itu juga tidak-tidak segan-segan segera menobatkan ke-6 orang yang tewas itu sebagai “mujahidin” dan “syuhada”.
Akhir-akhir ini kita memang biasa melihat dengan mata kepala kita, bagaimana sejarah perjuangan umat Islam kembali dinodai oleh ulah oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan Islam dan jihad. Dengan seenaknya mereka melakukan tindakan teror, pengeboman dan penembakan terhadap polisi bahkan polisi yang sedang menuju ke mesjid, serta berupaya untuk mengacaukan ketentraman negeri kaum muslimin dengan kedok jihad. Padahal Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari apa yang mereka lakukan.
Benarkah mereka mujahidin dan syuhada? Alangkah cocok sebuah bait syair yang menggambarkan keadaan orang-orang seperti mereka:
Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila
Namun, malang. Ternyata Laila tidak mengiyakan omongan mereka
Begitulah kurang lebih keadaan mereka. Dengan tanpa malu-malu, mereka mengaku sebagai barisan mujahidin dan menobatkan diri sebagai calon syuhada atau syuhada. Bagaimana mungkin orang yang gemar menebar kekacauan dan kerusakan di atas muka bumi dengan membunuh nyawa tanpa hak layak untuk disebut sebagai mujahid, apalagi dinobatkan sebagai syuhada? Allahul musta’an! Di manakah akal mereka?
Alangkah kasihannya para pemuda yang jahil/tidak mengerti syari’at Islam dengan mudahnya ditipu oleh mujahid gadungan. Sehingga akhirnya nyawa mereka sendiri pun mereka relakan –dengan aksi bom bunuh diri – untuk memperjuangkan apa yang mereka kira sebagai sebuah jihad dan pengorbanan untuk agama.
Aduhai, alangkah malang nasib mereka. Tidakkah mereka ingat akan sebuah firman Allah yang menceritakan keadaan orang-orang seperti mereka, yang bersusah payah melakukan suatu usaha dan menyangka telah mempersembahkan sesuatu yang terbaik bagi agamanya. Padahal kenyataannya mereka adalah orang yang paling merugi amalnya. Allah ta’ala berfirman:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah: Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi amalnya. Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dunia sementara mereka mengira telah melakukan sesuatu kebaikan dengan sebaik-baiknya.” (Qs. al-Kahfi: 103-104)
Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib, ad-Dhahhak dan para ulama lainnya bahwa golongan yang termasuk dalam cakupan ayat ini adalah kaum Haruriyah/Khawarij. Meskipun ayat ini juga mencakup celaan bagi Yahudi dan Nasrani. Sehingga Ibnu Katsir menyimpulkan, “Sesungguhnya ayat ini berlaku umum bagi siapa saja yang beribadah kepada Allah namun tidak di atas jalan yang diridhai Allah. Dia menyangka bahwa dia berada di pihak yang benar dan amalnya akan diterima. Padahal, sebenarnya dia adalah orang yang bersalah dan amalnya tertolak.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [5/151-152])
Mujahid yang benar, bukanlah pelaku teror. Karena niat dan tujuan keduanya berbeda. Mujahid berbeda dengan teroris seperti yang ada sekarang ini.
(Ghozali/Mediaikhwan.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *