Teroris Membunuh Polisi, Fenomena “Setan Berjenggot”

Tewasnya Bripka Sukardi menambah panjang daftar polisi yang ditembak oleh terduga teroris. Sekaligus menunjukkan polisi menjadi targer segar para teroris. Target yang disebut dengan “Anshor Toghut” ini dianggap menjadi tulang punggung pemerintahan NKRI yang dinilai mengobok-obok syariat Islam dan menangkapi para mujahidin. Maka polisi menjadi target dan bidikan utama.

Sebagaimana diberitakan, Bripka Sukardi ditembak mati di depan gedung KPK, Selasa malam, 10 September 2013. Empat peluru bersarang di dada dan perut.

Dalam beberapa bulan terakhir aksi penembakan terhadap polisi semakin marak. Pada Jumat malam (16/8/2013) 2 polisi, Bripda Maulana dan Aipda Kus Hendratma, tewas ditembak di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Sebelumnya, Aiptu Dwiyatna, anggota Pembinaan Masyarakat (Bimas) Kepolisian Sektor Metro Cilandak tewas ditembak di depan Rumah Sakit Sari Asih, Ciputat, Rabu (7/8/2013). Pada Sabtu (27/7/2013) di Cirendeu Raya, Aipda Patah Saktiyono, menjadi korban penembakan orang tak dikenal.

Maraknya penembakan terhadap aparat Negara ini menunjukkan serangan teroris semakin massif dan terorganisir. Sayangnya, lagi-lagi serangan dilakukan secara gerilya dan “tembak curi”, dilakukan pada malam hari, bahkan ada pada dini hari.

Lebih tragis lagi, para pelakunya yang diduga kuat teroris, melakukan pembunuhan berencana terhadap target yang lengah, dan dengan alasan “jihad”. Islam sebagai agama suci dan rahmatan lil ‘alamien lagi-lagi diseret oleh para ikhwan yang kononnya sedang memperjuangkan syariat Islam dan berjihad.

Dari mana kelompok radikal ini mendapat lecensi untuk mengklaim bahwa jihad adalah dengan membunuhi aparat, ngebom sana sini dan tindakan terror lainnya? Pasti tindakan tersebut merupakan “salah tafsir” yang kebablasan dalam memaknai jihad yang suci. Tindakan barbar tersebut juga tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Nabi baru berperang dan angkat senjata bila diperangi. Artinya, Islam tidak memulai peperangan, kecuali umat Islam diperangi. Penafsiran ini sudah baku sejak zaman Nabi hingga akhir zaman.

Beberapa tahun yang silam pernah terjadi pengeboman dan perusakan di kota Riyadh, saat itu Syeikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr angkat suara, “Sejelek-jeleknya perbuatan yang dihiasi oleh setan adalah yang mengatakan bahwa pengeboman dan perusakan adalah bentuk jihad. Akal dan agama mana yang menyatakan membunuh jiwa, apalagi yang terbunuh adalah orang-orang Islam, memerangi orang-orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin, membuat kekacauan, membuat wanita-wanita menjanda, menyebabkan anak-anak menjadi yatim, dan meluluhlantakkan bermacam bangunan sebagai jihad?”

Beratnya Hukuman Pembunuhan Menurut Syariat Islam dan Fenomena Setan Berjenggot

Allah Ta’ala berfirman mengenai kedua anak Adam yang saling membunuh (yang artinya), “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah. Maka jadilah ia seorang di antaraorang-orang yang merugi.” (QS. Al Maidah: 30)

Begitu pula hukuman keras bagi Bani Israel yang membunuh seorang manusia, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32)

Mengenai pembunuhan dengan cara sengaja, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An Nisa’: 93)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Musnahnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim.” (HR. Muslim, An Nasa’i dan At Tirmidzi. Shahih At Targhib wa At Tarhib no.2439, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya penduduk langit dan bumi bersekongkol untuk membunuh seorang mukmin, niscaya Allah akan menelungkupkan mereka ke dalam neraka.” (HR. At Tirmidzi. Shahih At Targhib wa At Tarhib no.2442, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi)

Dari ‘Ubadah bin Ash Shoomit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membunuh seorang mukmin lalu dia bergembira dengan pembunuhan tersebut, maka Allah tidak akan menerima amalan sunnah juga amalan wajibnya.” (HR. Abu Daud. Shahih At Targhib wa At Tarhib no.2450, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits inishahih. Lihat Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, Al Munawi, 6/252)

Al Bukhari membawakan hadits dalam Bab “Dosa orang yang membunuh kafir mu’ahad (yaitu non muslim yang terikat perjanjian damai dengan kaum muslimin) tanpa melalui jalan yang benar”. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membunuh kafir mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari no. 3166)

Dengan demikian syariat Islam “mengharamkan” tindakan membunuh sesama muslim, apalagi di Negara yang aman, jauh dari kekacauan dan peperangan. Sedangkan membunuh non-muslim yang terikat perjanjian damai dengan kaum muslimin saja dilarang keras, apalagi membunuh sesama muslim dengan alasan “toghut”, dll. Pelakunya dijamin tidak mencium bau surga, apalagi masuk surga.

Kesalahan di dalam memahami makna jihad ini telah membuat sebagian penganut aliran radikal bertindak diluar norma, etika dan jauh dari ajaran Islam itu sendiri yang kononnya sedang mereka perjuangkan. Bagaimana mungkin memperjuangkan kebenaran dengan cara menindas kebenaran dan menghalalkan segala cara. Maka tindakan-tindakan teror yang marak akhir-akhir ini lebih menyerupai perbuatan-perbuatan setan yang menyusup ke dalam pemikiran kaum radikal. Atau, bisa juga diistilahkan dengan “Setan Berjenggot”.

Ghazali (Mediaikhwan.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *