Teroris Tidak Muncul Secara Kebetulan

Anggota Komisi Kepolisian Nasional, Prof. Adrianus Meliala menyatakan pelaku teroris di Indonesia telah mengubah pola kerja dari terorisme berjaringan menjadi aksi individual yang sulit dicari kaitannya dengan kelompok terdahulu.
“Sekarang masuk pada situasi yang kita sebut self radicalization, menjadi radikal dengan sendirinya entah dengan bantuan bacaan, internet, pengajian,” kata Guru Besar Ilmu Kriminal UI ini.
Menurut Adrianus sepak terjang pelaku individual ini sudah terbukti dalam beberapa kasus yang hingga kini belum dikuak Densus. “Bisa jadi puluhan (kasus) kalau kita hitung dengan apa yang terjadi di Papua, Poso, Solo, Jogja, Cirebon, Tasikmalaya,” pungkasnya.
Benarkah kegiatan terorisme di Indonesia muncul secara kebetulan yang disebut self radicalization, yaitu terjadi dengan sendirinya melalui bacaan, internet dan pengajian?
Analisis kriminolog Adrianus Meliala benar dari satu sisi, yaitu radikalisme berkembang melalui bacaan, internet dan pengajian. Tetapi tidak benar dari sisi yang lain, yaitu aksi-aksi teroris hanya karena pengaruh bacaan dan internet. Karena sesungguhnya pelaku terorisme adalah aksi-aksi massif yang telah disiapkan melalui kaderisasi, brainwashing dan mental ideology. Aksi-aksi peledakan atau penembakan terhadap aparat bukan karena pengaruh bacaan atau internet, melainkan pelakunya memang betul-betul telah matang untuk amaliyat jihad seperti melakukan ightiyalat (operasi pembunuhan rahasia), isytisyhadiah (bom bunuh diri), fai (perampokan), dan lain-lain.
Ada atau tidak ada bacaan dan internet, pelaku aksi-aksi terorisme tersebut tetap menjalankan aksinya karena mereka merupakan bagian dari laboratorium besar bernama “jihad”; bahwa nun disana sekelompok umat bekerja dengan penuh semangat, dengan senjata seadanya, lengkap dengan semangat martir berapi-api.
Jadi pelaku terorisme bukan produk dari bacaan atau internet sebagaimana sinyalemen Adrianus Meliala, melainkan pelakunya seolah-olah ingin membuktikan bahwa mereka adalah thaifah mansyurah (kelompok yang menegakkan panji-panji Islam) seperti janji Rasul dalam hadits-haditsnya. Dan dengan demikian tidak bisa dibasmi dengan cara menangkap atau membunuh mereka, atau dengan cara-cara penegakan hukum lainnya. Kerana gerakan teroris yang berlatar belakang jihad merupakan bagian dari network “cagar alam” yang tak bisa dihilangkan, terutama ideologinya.
Ghazali/Mediaikhwan.com
15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *