Tindakan Jubir FPI Munarman Mencoreng Nama Islam

 

Tindakan Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI) Munarman terhadap Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia Tamrin Amal Tomagola dalam sebuah acara yang disiarkan secara langsung olehTV One (Jumat, 26/6/2013), dengan menyiram secangkir air ke wajah Tamrin, menunjukkan emosional mengalahkan hikmah, kebijaksanaan dan akhlak. Satu sikap tidak terpuji yang semakin mencoreng moreng nama Islam, setelah selama ini Islam dikaitkan dengan tindakan anarkis segelintir orang yang melakukan aksi-aksi terror dengan mengatasnamakan Islam.

Aksi Munarwan yang ditonton oleh jutaan penonton itu sekali lagi menunjukkan bagaimana segelintir tokoh-tokoh Islam piawai dalam mempraktekkan premanisme di depan public. Ketua DPP FPI bidang Amar Ma’ruf Nahi Mungkar ini telah menginjak-nginjak ajaran suci Islam yang tidak saja memerintahkan “bilhikmah” dalam berbicara tetapi juga bijaksana dalam berbuat.

Tokoh muda FPI ini agaknya lupa bahwa Islam mengajarkan sikap lemah lembut, pemaaf dan saling berkasih sayang karena hal itu merupakan intisari dari ajaran Islam. Islam sendiri bermakna “sejahtera, aman dan damai” yang telah menginspirasi manusia untuk memeluk ajarannya. Tetapi dengan kejadian Jum’at pagi di live tvOne tersebut, Munarwan seolah-olah ingin menjajakan kepada dunia bahwa Islam berwatak bringas, kejam, penuh ammarah dan jauh dari akhlakul karimah yang dicontohkan Nabi umat ini, Muhammad SAW. Sama sekali jauh dari watak orang yang berilmu, apalagi beragama!

Tetapi kita jangan terkecoh dengan sikap preman Munarwan, karena dia tidak mewakili umat Islam di dunia, apalagi di Indonesia, bahkan di kampungnya sendiri. Sikap brutalnya adalah menjadi tanggungjawabnya senidir, dan tidak bisa dikait-kaitkan dengan Islam, walaupun jabatannya adalah DPP di FPI. Karena betapa banyak orang yang punya jabatan bagus dan strategis tetapi sebenarnya ibarat mengalungkan emas ke leher lembu, tentu tidak pas alias sinting.

Kisah hidup Rasulullah SAW menunjukkan betapa tingginya sifat kasih sayang yang kemudian diteledani oleh umat Islam dari zaman ke zaman. Kita mencatat beberapa saja butir-butir hikmah dari keteladanan Rasulullah SAW agar kita tidak terkecoh dengan sikap Munarwan yang tidak mewakili akhlak dan kepribadian Islam itu.

1. Pernah seorang Arab Badwi menarik dengan begitu kasar jubah buatan Najran yang kasar kainnya, yang dipakai oleh Rasulullah SAW hingga berbekas leher Nabi. Tetapi beliau tidak marah, malah menghadiahkan jubah itu kepada Arab Badwi tersebut.

2. Seorang wanita tua selalu menyakiti Rasulullah SAW dengan meletakkan duri, najis dan lain-lain halangan di jalan yang selalu dilalui oleh Rasulullah. Namun beliau tidak bertindak balas. Pada satu ketika apabila wanita itu sakit, Rasulullah menziarahi dan menunjukkan kasih sayang terhadapnya. Wanita tua itu terharu dengan kebaikan Rasulullah, lantas memeluk Islam.

3. Rasulullah SAW pernah dilihat oleh para Sahabatnya mencium anak kecil, lantas seorang Sahabat menegurnya, “Engkau mencium anak kecil, ya Rasulullah?” Kerana pada sangkaannya Rasulullah tidak pernah mencium anak kecil. Beliau mengiyakan lantas bersabda, “Barang siapa tidak mengasihi, dia tidak akan dikasihi.”

4. Rasulullah SAW sangat mengasihi Sahabat-sahabatnya. Jika seorang Sahabat sudah dua tiga hari tidak kelihatan, beliau akan bertanya, “Ke mana perginya si polan si polan itu…”

5. Pernah satu ketika seorang Arab Badwi kencing di satu sudut dalam Masjid Nabi. Ada di antara para Sahabat marah kerana sikap tidak beradab itu. Tetapi Rasulullah SAW tetap tenang dan berkata, “Biarkan dia menyelesaikan hajatnya…” Setelah lelaki tersebut selesai, Rasulullah SAW sendiri mencuci najis itu dan kemudian barulah memberitahu Arab Badwi tersebut adab-adab di dalam masjid.

7. Ketika Rasulullah SAW berdakwah dengan anak angkatnya Zaid bin Harisah di Thaif, beliau telah dilempar dengan batu oleh anak-anak dan pemuda-pemuda nakal yang diprovokasi berbuat begitu oleh penduduk Thaif. Akibatnya, lutut Rasululah berdarah-darah kena lemparan. Melihat penganiayaan itu, malaikat sangat marah sehingga menawarkan untuk membalikkan penduduk Thaif dengan bukit-bukit sekitar kota itu. Tetapi Rasulullah menolaknya dan berkata, “Jangan, mereka tidak tahu saya ini rasul-Nya.” Malaikat menjawab: “Tuan benar.” Sesudah itu beliau terus berdoa untuk penduduk Thaif: “Ya Allah berilah petunjuk bagi kaumku, mereka tidak mengetahui.”

8. Sewaktu hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW telah dikejar dengan kuda oleh seorang bernama Suraqah yang bercita-cita merebut hadiah yang ditawarkan oleh kafir Quraisy Makkah jika sukses membunuh Rasulullah. Setiap kali kuda Suraqah mendekati Rasulullah, setiap kali itulah kudanya tersungkur jatuh. Rasulullah tidak bertindak apa-apa. Rasulullah memaafkannya. Akhirnya Suraqah menyerah dan berjanji tidak akan berniat membunuh Rasulullah SAW lagi.

Inilah sebagian dari cerita-cerita sebagai bukti betapa pengasih dan pemaafnya Rasulullah SAW, model agung kecintaan yang paling unggul dan patut dicontoh oleh manusia sepanjang zaman. Cerita-cerita itu menunjukkan betapa kasih dan sayangnya Rasulullah SAW baik kepada non Muslim maupun Muslim, yang sepatutnya dicontoh oleh umat Islam.

Sepenggal kisah-kisah teladan yang dilupakan Munarwan, atau sengaja tokoh muda radikal ini ingin menciptakan sandiwara agar potret Islam semakin rusak dan tercemar? Wallahu a’lam.

(Ghozali/Mediaikhwan)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *